Sesudah menerima telepon Husna, Abi tetap berdiri dekat pesawat telepon toko. Pegawai yang memanggilnya menanyakan apakah ada hal lain yang perlu dibantu. Abi meraih ponsel rusak di tas, teringat ada pesan yang mungkin tidak sempat diterimanya sejak perangkat padam Jumat.
'Boleh saya pinjam ponsel sebentar untuk memasukkan SIM saya? Hanya menerima pesan nomor saya sendiri. Kalau mengganggu pekerjaan, tidak perlu.'
Pegawai itu bersedia dan menyerahkan perangkat setelah menyelesaikan panggilan pelanggan. Abi menunggu pemiliknya mengeluarkan kartu miliknya sendiri, lalu memasukkan SIM dari ponsel rusak. Ia tidak membuka aplikasi percakapan atau akun pegawai tersebut.
Ketika jaringan telah tersambung, sebuah SMS masuk. Pesan itu berasal dari Radit dan dikirim Jumat malam, sesudah undangan grup dibalas tetapi perangkat Abi tidak dapat lagi dipakai. Isinya mengatakan bahwa Radit akan menyampaikan kebenaran kepada Husna pada pertemuan Sabtu.
Abi membacanya dua kali. Tidak ada gunanya sekarang mengatakan ia tidak mengetahui rencana itu sebagai cara melepaskan tanggung jawab. Husna telah mendengarnya, dan ia sendiri harus menjawab bagian cerita yang menjadi pilihannya.
Ia mencatat isi serta waktu pesan pada buku, mengeluarkan SIM, dan mengembalikan ponsel setelah pemiliknya memasang kartu semula. Abi mengucapkan terima kasih, kemudian menemui Kiai. Ia mengatakan ada persoalan keluarga yang mendesak di rumah ibunya, tanpa membicarakan rahasia Inara di tengah toko.
Kiai mengizinkannya pergi setelah pekerjaan yang belum selesai diserahkan. Abi memesan ojek dari bantuan perangkat pegawai atas izinnya, lalu menunggu di depan toko. Ia tidak mencari motor yang sudah dijual Kamis.
Perjalanan terasa lebih lama daripada jaraknya. Abi mengingat pertanyaan Husna di telepon: jangan memintanya tenang sebelum menjawab. Ia ingin menyiapkan kata yang tidak menyakiti, tetapi tidak ada kalimat yang dapat membuat pengetahuan yang selama ini disimpan menjadi sesuatu yang kecil.
Husna membuka pintu ketika Abi memberi salam. Wajahnya sembap. Ia tidak memeluk kakaknya atau mempersilakannya makan lebih dahulu. Ia berjalan kembali ke kursi di ruang tamu dan menunggu Abi duduk.
'Ibu di mana?' tanya Abi.
'Dapur. Mas duduk dulu.'
Abi meletakkan tas dekat kakinya. Amplop sebelas juta terlihat di ujung meja. Ia mengenal pembungkus yang dikirim kemarin, tetapi belum menyentuhnya. Pertanyaan Husna lebih mendesak daripada uang yang kembali.
'Radit sudah mengatakan apa saja?'
'Bahwa anak Mbak Inara anaknya. Bahwa dia pergi dan tidak menjelaskan kepada orang tuanya. Mas sudah tahu?'
'Sudah.'
'Sejak kapan?'
Abi hendak menjawab, lalu menghentikan kalimat yang bisa membuat urutannya kabur. Ia memandang adiknya dan mengatakan dengan jelas bahwa sebelum akad ia belum mengetahui kehamilan Inara.
'Saya baru diberi tahu pada malam pertama, sesudah kami menikah.'
Husna menatapnya. 'Jadi Mas menikah tanpa tahu?'
'Iya. Saat menyetujui dan menandatangani perjanjian, saya belum tahu.'
'Perjanjian apa?'
Abi merasakan dadanya sesak. Ia tidak dapat menjelaskan waktu pengetahuannya tanpa menjelaskan bahwa kesepakatan itu telah ada sebelum akad. Ia menahan keinginan untuk meminta Husna berjanji terlebih dahulu.
'Pernikahan kami diawali kesepakatan untuk jangka waktu tertentu. Inara memberi uang yang dipakai untuk utang lama Ibu dan mahar. Kami punya aturan pribadi yang tertulis.'
Husna menggeleng. 'Uang yang dulu itu dari Mbak Inara?'
'Iya. Seratus juta ditransfer kepada saya. Lima puluh untuk menutup tagihan Jarwo yang lama, lima puluh menjadi mahar.'
'Terus yang hamil bukan anak Mas?'
Abi mengangguk. Ia membiarkan pertanyaan itu tetap terpisah dari soal uang. Nama Radit baru dipastikan Inara pada malam sesudah makan bersama kedua keluarga di restoran. Mengetahui kehamilan sejak malam pertama tidak berarti ia sudah mengetahui seluruh kisah sebelum pertemuan itu.
'Kenapa Mas tidak bilang kepada Husna sebelum taaruf itu?' tanya adiknya.
Abi menunduk. 'Saya takut membocorkan hal yang menjadi rahasia Inara. Tapi saya tahu diam saya membuat kamu mengambil keputusan tanpa pengetahuan yang cukup.'
'Jadi Mas tahu itu bisa menyakiti Husna?'
'Saya tahu ada risiko itu. Saya tidak punya jawaban yang membuat pilihan saya jadi benar semuanya.'
Husna mengusap pipi dengan telapak tangan. Ia telah mengira kakaknya hanya terlalu khawatir ketika mengingatkan soal Radit. Sekarang ia harus menata kembali arti peringatan yang tidak pernah disertai penjelasan.
Di dapur, Maya mendengar suara Abi. Ia menaruh piring yang masih dipegang pada meja dan mendekat sedikit ke pintu, tetapi tidak keluar. Keterangan tentang seratus juta dan malam pertama membuatnya meremas ujung kain lap sampai jemarinya pegal.
Husna memandang kakaknya lagi. 'Mas melakukan ini hanya untuk utang Ibu?'
'Waktu itu saya sangat terdesak. Saya juga punya perasaan sendiri kepada Inara. Keduanya tidak membuat keadaan sederhana.'
'Apakah Mbak Inara tahu Mas punya perasaan?'
Abi menunduk, menggenggam ujung buku di tangannya sampai sedikit melengkung. Ia mengatakan bahwa percakapan tentang perasaan mereka belum selesai dan Husna tidak perlu memutuskan apa pun untuk menyelamatkannya.
'Apa orang tuanya tahu kesepakatan itu?' tanya Husna.
'Belum. Saya tidak akan mengatakan mereka mengetahui sesuatu yang tidak pernah kami jelaskan.'
Husna memandangi pintu rumah, mengingat kunjungan-kunjungan yang membuatnya menganggap kakaknya telah menemukan kehidupan yang jauh lebih mudah. Ia sekarang mengetahui ada pekerjaan sungguh-sungguh di toko, tetapi ada pula urusan pribadi yang tidak dapat dilihatnya dari seragam kerja atau kendaraan yang dipinjam keluarga.
'Mas boleh sedih,' katanya pelan. 'Tapi Husna juga boleh marah.'
'Boleh, Na.'
Abi tidak menambahkan permintaan supaya kemarahan itu segera berhenti. Ia menggeser tas agar tidak menghalangi kaki adiknya ketika Husna perlu berdiri mengambil air.
Ia meletakkan buku kecil di samping tas tanpa membuka catatan uang. Untuk pertama kalinya sore itu, Abi tidak berusaha membuat adiknya segera berhenti menangis. Ia mengambil tisu, menaruhnya dalam jangkauan Husna, lalu menunggu sampai gadis itu siap mengajukan pertanyaan berikutnya.
'Tertulis berapa lama, Mas?' tanya Husna akhirnya.
Abi mengangkat wajah. Di antara pertanyaan yang belum selesai dijawab, yang satu ini menuntut urutan waktu yang sama jelasnya dengan kapan ia mengetahui kehamilan. Ia tidak ingin lagi memberi jawaban yang terdengar lebih ringan daripada kenyataannya.