Husna menarik napas, tetapi udara yang masuk terasa tidak cukup. Ia memandangi lelaki yang duduk di hadapannya, mencoba mempertemukan pertolongan pada Kamis dengan pengakuan yang baru didengarnya.
'Kenapa baru sekarang?' tanyanya.
'Saya takut kehilangan kesempatan denganmu.'
'Itu bukan jawaban untuk kenapa Husna dibiarkan berharap tanpa tahu.'
Radit mengangguk. Ia tidak kembali menjelaskan uang yang dibayarkan kepada Jarwo sebagai bukti bahwa dirinya layak dipercaya. Pembayaran itu telah menghentikan ancaman pada Maya, tetapi tidak menghapus pilihannya meninggalkan Inara atau menyembunyikan fakta dari Husna.
'Saya salah menundanya,' katanya.
Husna menyeka sudut matanya. Ia ingin pertanyaan-pertanyaan itu keluar berurutan, tetapi sebagian justru bertabrakan. Ia menanyakan apakah Inara tahu dirinya sedang menjalani taaruf dengan Radit. Lelaki itu mengatakan bahwa Inara mengetahui hubungan mereka, lalu berhenti ketika Husna menatapnya lebih tajam.
'Jangan ceritakan pikiran Mbak Inara seolah Mas tahu semuanya,' kata Husna. 'Yang Husna tanyakan, tindakan Mas sendiri.'
Radit memandang meja. Ia mengaku belum berbicara kepada orang tuanya tentang kehamilan Inara. Ia juga belum mempunyai rencana yang benar-benar disetujui Inara mengenai tanggung jawabnya. Pengakuan itu membuat Husna mengangkat wajah.
'Tapi Mas sudah datang membicarakan pernikahan dengan Husna.'
'Iya.'
Husna menutup mulut sebentar dengan punggung tangan. Ia tidak ingin menangis di depan Radit, tetapi menahan air mata pun tidak membuat dadanya lebih lapang. Di dapur, Maya duduk pada kursi kecil karena lututnya terasa lemah. Ia tetap dapat mendengar pengakuan itu, dan belum sanggup melangkah keluar.
'Saya ingin memperbaiki diri,' kata Radit.
'Husna tidak tahu apa yang akan Mas lakukan sesudah ini. Tapi Husna tidak bisa jadi tempat Mas memulai ulang seolah tidak ada yang ditinggalkan.'
Radit mengangguk perlahan. Ia sempat hendak mengucapkan nama Husna dengan nada memohon, lalu mengurungkannya ketika melihat gadis itu mundur dari tepi meja.
Husna menggeser piringnya yang belum kosong. Selera makannya telah hilang, tetapi ia tidak ingin gerakan itu dianggap isyarat bahwa Radit harus segera membujuknya makan. Ia meminta piring dibiarkan dahulu, lalu menarik kursi sedikit agar dapat berdiri jika diperlukan.
'Apakah Mas tadi berharap setelah mengaku, semuanya bisa dilanjutkan seperti biasa?' tanyanya.
Radit menunduk. 'Saya berharap kamu masih mau mendengar.'
'Husna sudah mendengar. Itu tidak berarti Husna harus langsung menerima.'
'Iya.'
Jawaban singkat tersebut tidak mengurangi sakit hatinya, tetapi setidaknya Radit berhenti menyusun alasan. Husna merasakan kedua kakinya menapak lantai dan mencoba memberi dirinya waktu sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
'Jangan meminta jawaban hari ini,' kata Husna. 'Dan jangan datang lagi tanpa bertanya apakah Husna bersedia.'
'Saya mengerti.'
'Tentang uang Ibu, Husna berterima kasih karena ancaman itu berhenti. Tapi itu bukan persetujuan menikah.'
'Saya tidak akan menagih itu dari kamu.'
Husna memandangnya lama, memastikan kalimat itu tidak segera diikuti permintaan agar ia memberi kesempatan. Radit tidak menambahkan apa pun. Amplop sebelas juta tetap berada di ujung meja, tak seorang pun mengambilnya ketika percakapan mereka berubah semakin berat.
Radit akhirnya berdiri. Ia tidak meminta Husna mengantarnya sampai mobil. Ia memberi salam dari tempatnya, lalu meminta maaf kepada Maya yang masih berada di dekat dapur, tanpa mengetahui berapa banyak pembicaraan yang telah didengarnya.
Maya menjawab pendek. Husna baru bergerak ketika Radit sudah keluar, menutup pintu setelah melihat lelaki itu menuju kendaraan. Ia tidak mengucapkan janji akan menelepon malam nanti. Ia membutuhkan waktu untuk mengetahui keputusannya sendiri tanpa menunggu kepastian dari orang yang baru saja pergi.
Di dalam mobil, Radit meletakkan ponsel pada tempatnya sebelum menjalankan kendaraan. Ia berusaha melanjutkan perjalanan seperti biasa, tetapi bayangan wajah Husna membuat matanya mulai berair. Ia tidak memaksakan diri terus mengemudi. Pada tempat yang memungkinkan, ia menepi, berhenti, dan mematikan mesin.
Lama ia duduk di sana, kedua tangan jatuh pada pangkuan. Ia baru menyadari betapa sering ia memilih pergi setelah mengatakan sesuatu yang membuat orang lain harus menanggung akibatnya. Kali ini ia tidak dapat menghubungi Husna hanya untuk meminta perempuan itu menenangkan perasaannya.
Radit mengambil air minum, menunggu sampai dapat melihat jalan dengan jelas, lalu membaca kembali pesan yang semalam dikirim kepada Abi. Belum ada jawaban. Ia meletakkan ponsel kembali dan memutuskan tidak menambahkan cerita panjang melalui pesan ketika Husna belum mengizinkannya menghubungi lagi.
Di rumah Maya, Husna duduk setelah mengunci pintu. Tangannya bergerak mencari nomor kakaknya. Panggilan pertama tidak tersambung. Ia mencoba sekali lagi, baru teringat ponsel Abi memang rusak sejak Jumat.
Ia menatap daftar kontak. Nomor toko pernah disimpan ketika Abi mengabarkan pekerjaan barunya. Husna menelepon ke sana dan menunggu beberapa kali nada sambung sampai seseorang mengangkat.
'Boleh bicara dengan Mas Abi? Saya Husna, adiknya.'
Pegawai yang menerima mengatakan Abi sedang berada di bagian belakang dan akan dipanggil. Husna menahan tangis, mengatakan bahwa ada urusan keluarga yang perlu dibicarakan segera. Ia hanya meminta kakaknya dipanggil, tanpa menjelaskan pengakuan Radit kepada pegawai yang menerima telepon.
Sesaat kemudian suara Abi terdengar. Ia bertanya apakah ibunya sakit atau Jarwo datang kembali.
'Tidak. Radit sudah pulang,' jawab Husna. 'Mas, Husna perlu bicara. Tentang dia dan Mbak Inara.'
Di seberang, Abi terdiam. Ia meminta Husna menunggu di rumah dan mengatakan akan meminta izin keluar. Husna mengiyakan, tetapi sebelum telepon ditutup ia menambahkan satu kalimat.
'Jangan minta Husna tenang dulu kalau belum menjawab, Mas.'
Abi menjawab bahwa ia mendengar permintaan itu. Setelah panggilan selesai, Husna meletakkan ponsel di meja, tidak jauh dari amplop yang dititipkan Radit. Ia belum mengambil keputusan tentang taaruf, tetapi sudah menetapkan bahwa ia tidak akan mendengarkan penjelasan sambil dipaksa menghibur orang lain.
Maya masih berada di dapur. Ia melihat putrinya duduk sendirian melalui celah pintu, kemudian mengusap wajahnya sendiri. Kain lap di tangannya sudah basah, padahal tidak ada lagi meja yang sedang dibersihkan. Ia ingin memeluk Husna, tetapi pengakuan Radit belum selesai dipahaminya, dan ia takut anak-anaknya mengetahui bahwa sejak tadi ia mendengar tanpa mereka sadari.