Sabtu menjelang siang, Husna membantu Maya mengangkat panci dari kompor. Opor telah matang dan akan diletakkan di meja ketika Radit datang. Maya menghitung piring, sedangkan Husna membersihkan bagian meja yang tadi terkena percikan kuah.
'Abi datang?' tanya Maya.
'Masih kerja. Katanya kalau sudah bisa meninggalkan toko, baru menyusul.'
Maya mengangguk. Ia menyiapkan piring tambahan tanpa memastikan anaknya akan sempat makan. Husna beberapa kali memandang ponsel yang diletakkan dekat jendela, tetapi tidak ada pesan baru dari kakaknya sejak diberi tahu telepon itu bermasalah.
Ketika sedan yang datang berhenti di depan rumah, Husna mencuci tangan terlebih dahulu sebelum membuka pintu. Radit berdiri membawa pembungkus berisi amplop dan sebuah kantong kecil makanan pendamping. Ia memberi salam, lalu menunggu dipersilakan masuk.
Maya menyambutnya dari dekat dapur. Ia menanyakan kabar Ratih yang tidak dapat ikut. Radit menjawab ibunya mempunyai kegiatan sejak pagi dan menitipkan salam. Sesudah itu ia menyodorkan amplop kepada Husna.
'Ini titip kembalikan kepada Mas Abi.'
Husna mengenali besarnya amplop yang dilihat Kamis. 'Uang yang dikirim kemarin?'
'Iya. Sebelas juta. Saya belum bersedia menerimanya sebagai pengembalian.'
Husna menoleh kepada ibunya. Maya meminta ia meletakkan di meja dan membicarakannya sesudah makan, bukan menyimpan diam-diam seolah tidak pernah datang. Husna memeriksa pembungkus dan catatan pengiriman, lalu menaruhnya di sisi meja yang kering, jauh dari mangkuk kuah.
'Ini di sini dulu. Nanti Mas Abi mengambil sendiri,' katanya.
Radit mengiyakan dan duduk di tempat yang ditunjuk Maya. Husna merapikan piring di sebelah ibunya, menyisakan ruang kering di ujung meja tempat amplop itu diletakkan.
Makan siang dimulai tanpa percakapan yang panjang. Maya menanyakan apakah opornya terlalu pedas. Radit menjawab cukup, kemudian mengucapkan terima kasih karena telah diundang. Husna duduk di seberangnya, berusaha menanggapi pertanyaan tentang kuliah seperti biasa.
Namun beberapa jawaban Radit terhenti sebelum kalimatnya selesai. Ia meletakkan sendok, mengambil gelas, lalu kembali menatap piring. Husna akhirnya bertanya apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
'Bukan makanannya,' jawab Radit cepat.
'Husna tidak menanyakan makanannya.'
Maya yang hendak menambah nasi melihat keduanya. Ia meletakkan wadah di meja dan mengatakan akan mengambil air hangat di dapur. Husna tidak tahu bahwa ibunya tetap dapat mendengar suara dari ruang tamu, terutama setelah pembicaraan mereka merendah dan rumah menjadi lebih sepi.
Radit mengusap sisi gelas. Semalam ia telah menyusun beberapa kalimat yang terdengar masuk akal. Di depan Husna, kalimat-kalimat itu terasa seperti cara lain menunda bagian yang paling penting.
'Saya ingin mengatakan sesuatu sebelum kamu memberi keputusan tentang taaruf kita,' ucapnya.
Husna mengangguk pelan. 'Silakan.'
'Kamu berhak tahu. Saya seharusnya mengatakan ini sebelum hubungan kita berjalan sejauh sekarang.'
Husna berhenti merapikan serbet. Ada perubahan dalam nada suara itu yang membuat ia tidak ingin diberi pengantar terlalu panjang.
'Tentang apa?'
Radit menatap pintu dapur sebentar. 'Saya ingin bicara dengan kamu, tetapi saya tidak meminta kamu menyimpan sesuatu kalau membuatmu tidak aman. Saya hanya perlu mengatakannya dengan benar.'
Husna menunggu. Radit tidak berhak meminta ia berjanji dahulu sebelum mengetahui apa yang hendak diceritakan.
'Saya mengenal Inara sejak di Singapura,' katanya.
'Jadi kalian saling mengenal di sana. Lalu?'
'Hubungan kami bukan sekadar kenal.'
Husna merasakan jemarinya dingin. Ia belum memahami ke mana pembicaraan itu menuju, tetapi nama kakak iparnya mengubah arti beberapa tatapan yang sempat dilihatnya selama mereka makan bersama.
Radit tidak menyebut peristiwa lama itu sebagai kesalahan bersama yang mudah dibagi rata. Ia mengatakan Inara pernah berada dalam keadaan tidak sadar dan kemudian menghadapi kehamilan. Ia sendiri memberi uang, meminta kehamilan diakhiri, lalu pergi dan mengabaikan janji untuk kembali mendampingi.
Husna menggeleng kecil, seolah belum dapat menerima kalimat yang baru didengar.
'Mbak Inara sekarang hamil,' katanya. 'Mas sedang mengatakan apa?'
Radit menahan napas. Ia dapat melihat harapan bahwa ada penjelasan lain, mungkin tentang teman atau seseorang yang kebetulan bernama sama. Tidak ada penjelasan seperti itu.
'Anak yang dikandung Inara adalah anak biologis saya.'
Di dapur, Maya memegang cangkir yang belum terisi. Suara air dari keran sudah berhenti sejak beberapa saat lalu. Ia menurunkan cangkir perlahan agar tidak menimbulkan bunyi, sementara kalimat Radit terus berulang dalam kepalanya.
Di ruang tamu, Husna tetap duduk tegak. Ia memandang Radit lama sekali, lalu melihat amplop sebelas juta di ujung meja. Uang yang tadi hendak dikembalikan kini berada di sebelah percakapan yang sama sekali tidak dapat digantinya.
'Mas Abi tahu?' tanyanya.
Radit mengangguk. 'Dia tahu.'
Husna menarik kursinya sedikit ke belakang. Ia tidak bangkit atau melempar apa pun. Ia hanya membutuhkan jarak dari meja yang sejak tadi terasa terlalu dekat dengan dirinya.
Husna meletakkan serbet yang tadi diremasnya. Ia meraih gelas, tetapi membatalkan gerakan itu karena tangannya tidak cukup tenang. Radit hendak menggeser gelas ke dekatnya. Husna mengangkat telapak tangan, meminta ia tidak melakukan apa pun dahulu.
Ia teringat pada pertemuan pertama mereka, ketika ia masih dapat menegur sikap Radit tanpa mengetahui hubungan lelaki itu dengan keluarganya. Ia juga teringat wajah Inara yang sulit dipahaminya saat makan bersama. Sekarang beberapa hal mulai memperoleh arti, tetapi Husna menolak berpura-pura sudah memahami semua perasaan kakak iparnya. Ia hanya tahu ada informasi besar yang disimpan dari dirinya ketika ia sedang diminta mempertimbangkan masa depan.
'Selama ini Mas mau datang ke rumah kami, bicara dengan Ibu, menanyakan kuliah Husna, dan tidak mengatakan ini?'
'Saya takut kamu menolak.'
Husna menatapnya dengan mata yang mulai basah. 'Jadi ketakutan Mas lebih penting daripada keputusan Husna yang belum tahu apa-apa?'
Radit tidak menemukan jawaban yang dapat membetulkan urutan perbuatannya. Ia menarik tangannya dari dekat gelas, menurunkan pandangan, lalu membiarkan pertanyaan Husna tetap berada di antara mereka tanpa segera menutupnya dengan permintaan maaf. Maya masih berada di dapur, mendengar pertanyaan putrinya dan menyadari bahwa makan siang yang disiapkannya tidak akan kembali menjadi pertemuan biasa setelah ini.