Jumat pagi, Alvan datang ke UD Ammar Jaya sesuai janji sepekan sebelumnya. Kiai memintanya duduk di dekat meja contoh kain, sementara Abi membawa bahan yang telah dipilih untuk dibandingkan.
Alvan meraba dua potong yang warnanya hampir sama, lalu menanyakan mana yang sesuai untuk kebutuhan usahanya. Kiai menjelaskan perbedaan harga dan persediaan. Setelah mempertimbangkan jumlah, Alvan memilih satu bahan dan meminta contoh dicatat sebelum memberikan keputusan pesanan berikutnya. Abi menulis jenis serta kode yang disepakati, menyerahkan salinan catatan, dan menyimpan contoh terpisah agar tidak tercampur dengan kiriman lain.
'Minggu depan saya kabari jumlah pastinya,' kata Alvan sebelum pamit.
Kiai mengiyakan, lalu meminta Abi kembali membantu penerimaan barang. Ketika ia memindahkan tumpukan kain, ponselnya terlepas. Benda itu mengenai tepi meja sebelum jatuh ke lantai. Abi segera mengambilnya. Layar masih menyala, tetapi sebuah garis gelap muncul dari sisi kanan dan sebagian sentuhannya tidak lagi langsung menjawab.
Ia mencobanya sesudah barang selesai diturunkan. Panggilan masih dapat dilakukan, begitu pula aplikasi pesan, meskipun beberapa huruf harus ditekan lebih dari sekali. Abi memutuskan membawa perangkat itu untuk diperiksa setelah urusan hari ini selesai.
Ada hal lain yang sejak kemarin belum selesai dipikirkannya: sebelas juta yang kembali masuk tas setelah ditolak Radit. Ia tidak ingin uang itu disalahartikan sebagai penolakan atas pertolongan yang menyelamatkan ibunya. Ia juga belum sanggup menganggap semua bantuan tersebut sebagai pemberian tanpa pembicaraan lebih lanjut.
Ketika mendapat kesempatan menelepon Husna, Abi mengatakan ia ingin mengundang Radit makan opor di rumah Maya pada Sabtu. Bukan untuk menetapkan pernikahan atau menekan adiknya, melainkan supaya mereka dapat duduk bersama tanpa Jarwo berada di depan pintu.
'Husna belum punya jawaban apa-apa, Mas.'
'Tidak perlu memberi jawaban besok. Kalau kamu tidak ingin mengundang, bilang.'
Husna meminta waktu berbicara dengan Maya. Sesudah keduanya menyatakan bersedia menyiapkan makan sederhana, Abi memastikan sekali lagi bahwa ibunya tidak akan membeli bahan dengan utang baru. Maya menjawab lauk akan disesuaikan dengan belanja rumah yang tersedia.
Sore itu Abi meminta izin keluar sebentar. Ia membawa amplop sebelas juta yang masih tersimpan, menuju layanan kurir yang dapat menyerahkan kiriman langsung ke alamat penerima. Sebelum menyerahkan uang, ia menanyakan cara pencatatan dan penerimaan, lalu memilih pengantaran yang dapat dibuktikan kepada kedua pihak.
Ia menghitung isi amplop bersama petugas, memasukkannya kembali ke pembungkus yang ditutup, dan menuliskan nama serta alamat Radit di apartemen yang sudah dikonfirmasinya lewat pesan. Abi membayar ongkos kirim dari uang keperluan perjalanan, terpisah dari sebelas juta di dalam pembungkus.
Bukti pengiriman disimpannya dalam tas. Ia mengatakan bahwa uang itu dimaksudkan sebagai pengembalian sebagian biaya yang dikeluarkan Radit, tetapi belum ada kesepakatan bahwa Radit bersedia menerimanya sebagai pembayaran. Bagi Abi, pengantaran ini merupakan usaha melanjutkan pembicaraan yang kemarin terhenti, bukan cara menyatakan sisa utang sudah pasti berkurang.
Menjelang petang, konfirmasi penyerahan tiba. Radit telah menerima kiriman di alamat yang ditulis. Tidak lama kemudian masuk pesan yang menanyakan mengapa Abi tetap mengirim uang setelah ia menolaknya.
Abi memandangi layar yang garis gelapnya semakin lebar. Ia menjawab bahwa mereka masih perlu membicarakan pengembalian tersebut dengan tenang. Sesudah itu ia membuka aplikasi WhatsApp miliknya sendiri dan membuat grup baru yang beranggotakan dirinya, Maya, Husna, dan Radit.
Ia memberi tahu Maya serta Husna lebih dahulu bahwa nomor mereka akan dimasukkan. Nama-nama itu muncul pada daftar anggota, lalu Abi mengirim undangan makan Sabtu siang. Abi menulis jam kedatangan pada undangan itu, kemudian memeriksa kembali daftar anggota agar tidak ada nomor lain yang ikut dimasukkan.
Maya membalas bahwa mereka akan menyiapkan opor. Husna menyampaikan jam yang sesuai agar tidak mengganggu urusan lain. Radit menjawab ia dapat datang sendiri, sedangkan Ratih mempunyai kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Abi membaca seluruh balasan sebelum mengetik persetujuannya.
Ia hendak mematikan layar sebentar ketika bagian gelapnya merambat lebih jauh. Sentuhan di sisi kiri tidak lagi dapat membuka percakapan. Abi mencoba menghubungkan pengisi daya, tetapi perangkat kemudian mati dan tidak kembali menampilkan apa pun.
Di apartemennya, Radit menatap pembungkus berisi uang yang telah dibukanya. Sebelas juta itu tidak disentuh untuk keperluan lain. Ia merapikan kembali isinya, menyimpan bukti kiriman, lalu meletakkan amplop di tempat yang dapat dibawanya besok.
Undangan makan telah diterimanya. Justru karena itu ia semakin sulit berpura-pura bahwa persoalan antara dirinya dan Inara tidak mempunyai kaitan dengan harapan Husna. Ia memandang nomor Abi pada daftar kontak, menimbang apakah harus menelepon sekarang.
Radit mencoba satu panggilan. Nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Ia kemudian mengirim SMS, bukan pesan di grup, mengatakan bahwa besok ada kebenaran yang harus ia sampaikan sendiri kepada Husna.
Pesan itu tidak tampil pada perangkat Abi yang sudah mati. Radit belum menerima jawaban, dan tiga anggota grup lainnya tidak mengetahui isi pesan pribadi tersebut. Ia dapat membatalkan niatnya dan datang hanya membawa senyum, tetapi pikiran tentang percakapan di taman membuatnya kembali menaruh ponsel tanpa menghapus SMS yang telah dikirim.
Di rumah, Abi menyampaikan kerusakan ponsel kepada Inara. Ia menunjukkan layar yang tidak menjawab setelah dicoba dinyalakan. Inara bertanya apakah ada nomor yang perlu segera dihubungi. Abi mengatakan undangan makan sudah mendapat jawaban sebelum perangkat padam.
'Kalau ada yang mendesak, pakai telepon rumah dulu,' kata Inara.
Abi mengiyakan. Ia menuliskan nomor Husna dan Maya dari catatan yang masih dapat dibacanya di buku, lalu menyimpan SIM bersama ponsel sampai mendapat kesempatan memperbaikinya. Untuk urusan toko esok, ia akan memberi tahu pegawai agar panggilan penting disampaikan kepadanya.
Sebelum bersiap tidur, Abi memakai telepon rumah untuk menghubungi toko yang masih membereskan pekerjaan penutupan. Ia memberitahukan kerusakan itu kepada pegawai yang mengangkat dan meminta agar kabar mendesak dari keluarganya tidak ditunda hanya karena nomor pribadinya tidak aktif. Pegawai tersebut menjawab bahwa pesan akan disampaikan jika Abi sedang melayani pelanggan atau berada di gudang.
Inara mendengar penjelasan singkat itu dari dekat pintu. Ia tidak menanyakan isi semua percakapan keluarga Abi, tetapi memastikan suaminya mengetahui bahwa ia bisa memakai telepon rumah lagi jika diperlukan. Abi berterima kasih, lalu mengembalikan gagang ke tempatnya dengan hati-hati sebelum naik ke kamar.
Malam semakin larut ketika ia memeriksa bukti kurir sekali lagi. Uang sebelas juta telah berada pada Radit, tetapi belum ada jawaban bahwa pengembalian itu diterima. Abi tidak mencoret jumlahnya dari catatan tagihan. Ia menutup buku, belum mengetahui bahwa orang yang diundangnya sedang menyiapkan percakapan yang jauh lebih berat daripada soal uang.