Abi menunggu sampai sedan Ratih menjauh sebelum menutup pagar. Ketika ia kembali ke ruang tamu, Maya sedang memijat pelan pergelangan tangannya sendiri. Husna berdiri di dekat meja, memandangi tas yang tadi dibuka kakaknya.
'Motor Mas benar-benar sudah dijual?'
Abi mengangguk. Ia mengeluarkan salinan bukti jual beli, bukan agar adiknya menyesal, melainkan karena semua orang perlu memahami dari mana uang di dalam amplop berasal.
'Enam juta lima ratus. Ada empat juta yang kemarin belum dipakai dan lima ratus ribu pinjaman teman.'
'Padahal Mas masih perlu ke toko.'
'Sementara naik ojek atau angkutan lain. Nanti dipikirkan lagi. Uangnya masih di sini karena Radit tidak menerima.'
Maya menarik napas berat. Ia ingin meminta maaf sekali lagi, tetapi Abi meminta ibunya mendengar rencana setelah ini terlebih dahulu. Tidak ada gunanya mereka mengulang penyesalan tanpa memastikan apa yang terjadi jika Jarwo datang kembali.
Mereka memeriksa bukti pelunasan dan menyimpan nomor rekening penerima. Husna menaruh kertas bertanda tangan di dalam map, lalu membuat foto cadangan. Maya diminta mengabari anak-anaknya jika ada orang menghubungi tentang pinjaman baru, bukan menutupnya sendiri karena takut dimarahi.
'Ibu tidak akan mengambil lagi,' kata Maya.
'Kalau ada yang menawarkan atau menagih sesuatu yang berbeda, beri tahu dulu, Bu,' jawab Abi. 'Jangan menunggu orangnya ada di ruang tamu.'
Maya mengangguk. Ia mengambil tempat perhiasan yang sudah dikeluarkan Senin. Beberapa barang masih mungkin dijual, tetapi Abi meminta ibunya tidak menerima harga terburu-buru hanya karena malu kepada Radit. Mereka akan mencatat hasil yang benar-benar diterima jika penjualan itu kelak terjadi.
Husna menyiapkan air minum. Setelah Maya masuk kamar untuk mengganti pakaian, ia duduk di seberang kakaknya. Untuk beberapa saat ia hanya memutar tepi gelas dengan jari.
'Mas, Husna senang dia datang tadi.'
Abi tidak segera menjawab. Ia mengetahui nama yang tidak disebutkan itu. Ia juga melihat adiknya berusaha membicarakan sesuatu yang lebih rumit daripada ucapan terima kasih.
'Husna takut melihat Ibu dipegang begitu. Terus Radit datang dan semuanya seperti bisa berhenti.'
'Wajar kamu merasa lega.'
'Tapi bukan cuma lega.'
Abi memandangnya. Husna menunduk, lalu meneruskan dengan suara pelan bahwa ia mulai berharap hubungan mereka dapat berjalan. Sikap Radit selama pertemuan-pertemuan itu membuatnya ingin percaya bahwa ada kehidupan lain yang tidak dipenuhi ketakutan seperti hari ini.
Abi merasakan tenggorokannya kering. Ia mengetahui hal tentang Radit yang belum diketahui adiknya, tetapi juga terikat pada kerahasiaan Inara. Diam tidak lagi terasa seperti tindakan yang tidak mempunyai akibat.
'Na, jangan merasa harus menerima siapa pun karena dia membantu Ibu,' katanya.
'Husna tahu. Mas pikir Husna cuma melihat uangnya?'
'Bukan begitu. Saya ingin kamu punya cukup waktu dan jawaban sebelum memutuskan.'
'Jawaban apa?'
Abi berhenti. Ia tidak hendak menciptakan tuduhan setengah-setengah agar Husna ketakutan tanpa mengetahui sebabnya. Ia mengatakan bahwa ada hal yang perlu dibicarakan lebih jelas dalam proses taaruf, dan Radit harus bersedia menjawab pertanyaan tentang tanggung jawabnya sendiri.
Husna menatap kakaknya, belum puas. Namun sebelum ia dapat bertanya lagi, Maya keluar, mengambil map dari meja untuk disimpan. Percakapan itu berhenti pada janji Abi bahwa adiknya tidak perlu memberikan jawaban pernikahan karena pembayaran hari ini.
Menjelang sore, Abi pamit. Ia memastikan amplop sebelas juta berada di bagian dalam tas, lalu memesan ojek. Maya mengantar sampai pintu dan meminta ia berhati-hati. Abi tidak mengeluarkan kunci motor dari saku; ia menunggu kendaraan jemputan berhenti di depan pagar.
Di rumah Kiai, Inara melihatnya turun dari ojek. Ia semula mengira motor sedang diperbaiki, tetapi wajah Abi membuatnya tidak langsung bertanya di depan pintu. Ia membiarkan suaminya menyimpan tas terlebih dahulu.
'Sudah selesai urusan Ibu?' tanyanya setelah mereka berada di kamar.
'Jarwo sudah menerima tiga puluh juta. Radit yang membayar ketika dia datang bersama Tante Ratih.'
Inara terdiam. Ia meminta Abi menjelaskan urutannya, lalu mendengarkan bagaimana Husna ikut makan bersama Ratih, kembali ke rumah, dan mendapati ancaman itu. Abi hanya menyampaikan yang diketahuinya dari mereka, bukan berpura-pura menyaksikan sendiri tangan Jarwo pada ibunya.
'Motor yang dijual?' tanya Inara.
'Uangnya saya tawarkan sebagian pengembalian. Dia menolak. Sebelas juta masih saya bawa pulang.'
Abi menunjukkan amplop, kemudian menyimpannya kembali di tempat yang aman. Inara memperhatikan tangan suaminya. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega karena keluarga itu selamat atau takut karena pertolongan Radit membuat hubungan mereka semakin sulit dijelaskan kepada Husna.
'Dia makin dekat dengan adikmu,' katanya lirih.
Abi tidak membantah. 'Husna mulai berharap. Saya sudah mengatakan pembayaran ini tidak berarti dia harus menikah.'
Inara berpaling ke jendela. Ia merasakan keinginan yang berlawanan: ingin adik iparnya tidak terluka, tetapi juga tidak ingin seluruh masa lalunya menjadi pembicaraan keluarga sebelum ia siap. Abi tidak segera menyodorkan jawaban yang membuat keduanya tampak mudah.
'Boleh saya duduk dekat Non?' tanyanya.
Inara mengangguk. Abi duduk di sisi kursi, kemudian bertanya sebelum meletakkan tangan pada bahunya. Ia mengizinkan sentuhan itu sebentar, bukan sebagai tanda bahwa mereka telah menyelesaikan seluruh persoalan.
'Cadangan untuk kuliah Husna tadi ikut dipakai?' tanya Inara kemudian.
'Empat juta itu ada dalam sebelas juta. Husna sudah saya kabari sebelum saya ambil.'
'Kalau nanti perlu dibayar?'
'Saya harus mengaturnya lagi dari gaji berikutnya. Yang sudah telanjur dijual tidak bisa saya minta kembali begitu saja.'
Inara mengangguk pelan. Ia menyadari tawaran bantuannya belum diterima, tetapi ia masih dapat menanyakan kebutuhan yang nyata tanpa menjadikan Abi seseorang yang harus menjelaskan harga dirinya. Ia meminta suaminya memberi kabar jika ada pembayaran kuliah mendesak, supaya mereka tidak kembali menunggu sampai tenggat berada tepat di depan pintu.
Dari luar kamar terdengar kegiatan rumah yang biasa. Inara menatap tas Abi, mengetahui sebelas juta masih berada di sana dan belum mengakhiri pembicaraan apa pun. Ia lalu meminta suaminya makan terlebih dahulu. Abi mengangguk, menarik tangannya dengan perlahan, dan berjanji akan kembali sesudah membersihkan diri.