Pesan Husna tentang pembayaran Radit sampai kepada Abi pada Kamis siang, ketika ia sedang berada di toko. Ia segera menelepon untuk memastikan keadaan ibunya. Setelah mendengar Jarwo telah pergi dan Maya ditemani Ratih, ia mengatakan akan datang membawa sebagian uang pengembalian yang sedang disiapkannya.
Abi meminta izin Kiai meninggalkan pekerjaan, menunjukkan pesanan mana yang belum diperiksa, lalu membawa motor ke tempat yang memberikan penawaran dua hari sebelumnya. Ia mengabari Husna bahwa harus menyelesaikan transaksi itu dahulu. Dokumen diletakkan di meja pembeli, sementara tas berisi jas hujan masih berada pada motor.
Orang yang akan membeli memastikan nomor pada dokumen sesuai dengan kendaraan. Abi menyaksikan pemeriksaan itu, menjawab pertanyaan tentang kondisi motor, lalu mendengar kembali harga yang disepakati: enam juta lima ratus ribu rupiah.
'Jadi dilepas?' tanya pembeli.
Abi memandang kendaraan yang selama ini membawanya ke tempat kerja dan rumah ibunya. Ia sudah mencoba menghitung ulang sebelum berangkat. Melepas motor tidak akan menutup tiga puluh juta, tetapi itulah barang bernilai yang dapat dijualnya tanpa menunggu seseorang meminjamkan jumlah besar.
'Jadi. Setelah uangnya masuk dan bukti selesai.'
Pembeli menyiapkan pembayaran, sementara Abi meminta bukti jual beli diperlihatkan sebelum ditandatangani. Ia meletakkan dokumen asli di dekat mapnya agar nomor kendaraan dapat dicocokkan bersama.
Sebelum dokumen diserahkan, Abi meminta waktu membaca bukti jual beli. Ia menemukan satu angka pada penulisan nomor kendaraan yang terlewat, menunjukkannya, dan menunggu sampai diperbaiki. Pembeli mencocokkan sekali lagi dengan dokumen, lalu mentransfer enam juta lima ratus ribu. Abi menunggu saldo benar-benar bertambah, kemudian keduanya menandatangani bukti yang telah dibetulkan dan menerima salinan masing-masing. Barulah Abi menyerahkan dokumen serta kunci. Ia mengambil jas hujan dari kendaraan sebelum menjauh.
Ia menghubungi Husna sebentar untuk mengatakan bahwa penjualan sudah selesai. Adiknya sedang tidak dapat mengangkat, sehingga ia meninggalkan pesan tanpa menuliskan bahwa seluruh masalah sudah teratasi. Di layar, enam juta lima ratus ribu yang diterima tercatat pada siang ini, terpisah dari pesan berisi penawaran yang disimpannya dua hari lalu.
Ia melipat jas hujan dan memasukkannya ke tas. Tangannya sempat bergerak mencari kunci yang biasa disimpan dalam saku, sebelum teringat benda itu tidak lagi berada padanya.
Dari depan tempat penjualan, Abi memesan ojek untuk menuju rumah ibunya melalui bank. Ia mengabari Kiai bahwa izin keluarnya berlanjut sampai urusan rumah selesai, kemudian memeriksa rekening sambil menunggu jemputan.
Empat juta cadangan ditambah lima ratus ribu pinjaman rekannya dan enam juta lima ratus ribu hasil penjualan kini berjumlah sebelas juta. Berbeda dari catatan kemarin, seluruh jumlah tersebut benar-benar tersedia.
Ia meminta pengemudi mengantarnya melalui bank agar dapat menyiapkan uang tunai untuk dibawa ke rumah ibunya. Di sana Abi menarik sebelas juta dari dana yang baru dihitungnya, memeriksa uang bersama petugas, lalu menyimpan bukti penarikan. Lima ratus ribu untuk keperluan transportasi dan kerja tidak diambil sebagai tambahan pembayaran.
Uang itu disusun ke dalam amplop besar dan dimasukkan ke bagian dalam tas. Abi menutup ritsleting sebelum kembali keluar. Ia tidak mengeluarkannya di jalan, meskipun terus merasa perlu memastikan jumlahnya masih ada.
Sesudah keluar dari bank, Abi menelepon Husna lagi. Ia memastikan ibunya masih bersama Ratih dan tidak ada ancaman baru. Adiknya menjawab dari dekat Maya, lalu menyebut bahwa Radit juga belum pulang.
'Abi sebentar lagi sampai. Simpan dulu buktinya, Na.'
Ojek yang telah dipesannya kembali membawanya melanjutkan perjalanan. Di setiap tikungan Abi menahan tas pada pangkuannya, memikirkan bagaimana membuka percakapan dengan orang yang baru menyelesaikan persoalan keluarga sebelum dirinya sempat tiba. Ia tidak membawa tiga puluh juta, tetapi sebelas juta di dalam tas itu sudah tidak lagi sekadar angka pada buku.
Sedan putih Ratih masih berada di halaman. Abi memberi salam, masuk, lalu segera melihat tangan Maya yang dipegang Husna. Ia duduk di dekat ibunya dan menanyakan keadaan sebelum mengambil map bukti pelunasan.
Radit menerangkan pembayaran tiga puluh juta kepada Jarwo. Maya membenarkan, menunjukkan kertas bertanda tangan, dan mengatakan rekening penerima sudah diperiksa. Abi membaca seluruhnya sebelum meletakkan kembali map di meja.
'Terima kasih sudah datang ketika Ibu membutuhkan bantuan,' katanya kepada Radit.
Radit mengangguk. 'Yang penting mereka tidak mengancam lagi dengan tagihan itu.'
Abi membuka tas. Ia mengambil amplop besar, meletakkannya di meja di antara mereka, lalu menyebut jumlahnya dengan jelas.
'Sebelas juta. Baru itu yang bisa saya siapkan. Saya ingin mengembalikan sebagian uang yang sudah kamu keluarkan.'
Radit tidak mengambilnya. Ratih menoleh kepada Maya, yang segera menjelaskan bahwa Abi baru menjual motornya. Husna memandang tas kakaknya, kemudian menunduk seolah baru sekarang memahami bahwa motor yang tidak terdengar di depan rumah memang sudah berpindah pemilik.
'Simpan saja,' kata Radit. 'Saya membantu Ibu.'
'Saya tahu. Tapi jumlah yang kamu keluarkan bukan sedikit.'
'Saya belum meminta penggantian.'
Abi mendorong amplop sedikit, lalu berhenti ketika Radit kembali menggeleng. Percakapan itu membuatnya tidak nyaman. Ia tidak ingin menuduh Radit membeli kedekatan dengan keluarganya, tetapi ia juga tidak sanggup berpura-pura tidak melihat jumlah uang yang sekarang menghubungkan mereka.
'Saya perlu membicarakannya sampai jelas,' ucap Abi. 'Saya belum bisa menganggap semuanya selesai hanya karena Jarwo sudah menerima.'
'Untuk hari ini, bawa dulu uangmu. Ibu dan Husna masih perlu tenang.'
Abi menatap Maya. Ibunya tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya meminta mereka tidak berdebat di dekatnya. Husna memegang map di pangkuan dan memberi ruang di meja ketika Abi menarik amplop kembali.
Sebelas juta itu masuk lagi ke tas. Abi belum membayar sebagian pinjaman kepada Radit; uangnya tidak pernah diterima. Ia menutup ritsleting, menahan rasa tidak enak yang jauh lebih berat daripada saat menyerahkan kunci motor siang tadi.
Ratih berdiri setelah memastikan Maya tidak ingin ditemani lebih lama. Ia mengingatkan agar Maya mengabarinya jika tangannya masih sakit. Radit mengambil ponsel, tetapi sebelum beranjak ia menoleh kepada Husna. Gadis itu mengucapkan terima kasih sekali lagi tanpa mengatakan sesuatu tentang pernikahan.
Abi ikut mengantar mereka sampai pintu. Ia melihat Radit menuju sedan yang tadi dipakai menjemput Husna, lalu kembali memandang adiknya. Ia tahu masih ada pembicaraan yang tidak dapat diselesaikan oleh bukti pembayaran Jarwo ataupun amplop di dalam tasnya.