Kamis siang, Husna baru keluar dari lingkungan kampus ketika melihat sedan putih Ratih berhenti di tempat yang tidak menghalangi pintu. Ratih melambaikan tangan dari kursi belakang, sedangkan Radit berada di belakang kemudi. Husna mendekat setelah memastikan memang dirinya yang dipanggil.
'Tante kebetulan bersama Radit. Kalau kamu belum makan, ikut makan dulu?' tanya Ratih.
Husna memegang tali tasnya. Ia ingin langsung pulang karena hari ini tenggat yang disebut Jarwo. Namun ia belum mendapat kabar baru dari rumah dan tidak ingin menceritakan urusan ibunya di depan Ratih sebelum mengetahui keadaan.
'Sebentar saja, Tante. Husna perlu pulang setelah itu.'
Ratih menyetujui. Husna masuk ke kursi belakang di samping perempuan itu. Radit menanyakan tempat makan yang tidak terlalu jauh dari rumah Husna, lalu menjalankan mobil sesudah semua siap.
Makanan yang dipesan tidak banyak. Ratih bertanya tentang kuliah dan mendengarkan penjelasan Husna mengenai tugas yang sedang dikerjakan. Radit sesekali menambahkan pertanyaan, tetapi Husna lebih sering memeriksa ponselnya di bawah meja.
'Ada yang ditunggu?' tanya Ratih akhirnya.
'Husna mau memastikan Ibu di rumah.'
'Telepon saja. Tidak apa-apa.'
Husna menelepon Maya. Panggilannya tersambung, tetapi yang pertama terdengar justru suara keras di kejauhan. Maya menjawab pendek bahwa ada tamu. Husna segera berdiri dan mengatakan ia pulang sekarang.
Ratih ikut beranjak. Ia tidak meminta Husna menghabiskan makan terlebih dahulu. Radit menyelesaikan pembayaran, lalu kembali mengantar mereka dengan sedan yang sama. Di perjalanan, Husna mengirim pesan kepada Abi bahwa Jarwo mungkin sudah datang lagi. Pesan itu terkirim, tetapi belum langsung mendapat jawaban.
Di depan rumah, pintu terbuka. Husna mendengar bentakan sebelum sempat keluar dari mobil. Ia bergegas menuju pagar, diikuti Ratih yang memanggil agar ia tidak masuk sendirian.
Maya berdiri di dekat meja. Jarwo memegang pergelangan tangannya sambil mendesak jawaban tentang uang. Panjul berada di sisi pintu, sementara Ghani menoleh ketika Husna datang.
'Lepaskan Ibu,' kata Husna.
Jarwo justru menyentak tangan Maya. Radit yang masuk sesudahnya menghentikan langkah di antara pintu dan meja. Ia meminta Jarwo melepaskan pegangan sebelum mereka membicarakan tagihan.
'Kamu siapa?' bentak Jarwo.
'Orang yang akan mendengar penjelasannya. Lepaskan dulu.'
Ratih mendekat kepada Maya sesudah Jarwo akhirnya mengendurkan tangan. Ia membawa perempuan itu duduk dan menanyakan bagian mana yang sakit. Husna mengambil air dari dapur dengan tangan gemetar, lalu kembali ke samping ibunya.
Radit meminta melihat kertas tagihan. Jarwo menyodorkannya sambil mengulang tiga puluh juta, seolah suara keras dapat membuat uang itu langsung tersedia. Radit membaca, menanyakan nama penerima pinjaman serta rekening yang akan dipakai, kemudian meminta Maya memastikan bahwa tagihan itulah yang dimaksud.
Maya mengangguk. Ia tidak mampu memandang Ratih ketika menyebut pinjaman baru tersebut. Ratih menggenggam gelas yang belum sempat diminum, tetapi tidak menyela dengan tuduhan di depan Jarwo.
'Kalau dibayar sekarang, buat bukti penerimaan dan penutupan tagihan ini,' kata Radit. 'Jangan datang lagi membawa tagihan yang sama.'
Jarwo memandangnya dari kepala hingga kaki, lalu menyebut nomor rekening. Radit tidak langsung menekan tombol. Ia meminta nomor ditulis dan menunjukkan nama penerima yang muncul pada layar. Jarwo membenarkan nama itu di depan Maya dan Husna.
Tiga puluh juta rupiah ditransfer. Radit menunggu pemberitahuan berhasil, menunjukkan buktinya, lalu meminta Jarwo memeriksa rekening penerima. Setelah lelaki itu mengakui dana masuk, Radit menuliskan keterangan pelunasan tagihan baru tersebut pada kertas yang dibawa Jarwo. Jumlah, tanggal, dan penerimaan dibaca kembali sebelum Jarwo membubuhkan tanda tangan.
Maya menerima kertas itu dengan kedua tangan. Husna memotret bukti yang sama menggunakan ponselnya. Tidak ada ucapan bahwa pembayaran itu memberi siapa pun hak menentukan pernikahannya. Ia masih terlalu takut dan marah untuk memikirkan taaruf ketika bekas pegangan Jarwo terlihat pada tangan ibunya.
'Pergi sekarang,' kata Radit setelah semua bukti diperiksa.
Jarwo meraih barangnya. Ia masih menggerutu, tetapi tidak dapat menunjuk tagihan yang belum dibayar. Panjul dan Ghani mengikuti keluar. Husna menunggu sampai mereka menjauh, baru menarik pintu dan menyandarkan tubuh sebentar pada dinding.
Ratih membantu Maya memeriksa pergelangan yang tadi dipegang. Ia menanyakan apakah ingin mendapat pertolongan jika masih sakit. Maya menggeleng untuk saat ini, tetapi bersedia mengatakan jika nyerinya tidak mereda. Husna tetap duduk dekat ibunya, tidak membiarkan percakapan segera beralih menjadi ucapan syukur yang meniadakan ketakutan tadi.
Radit meletakkan ponsel di meja. 'Buktinya simpan. Kalau mereka kembali membawa persoalan yang sama atau membuat ancaman, jangan hadapi sendiri.'
Maya menangis dan mengucapkan terima kasih. Ratih mengambil tisu, lalu membiarkannya menenangkan diri. Husna memandang Radit dengan perasaan yang sulit disusun. Ia lega karena pintu rumah tidak lagi dijaga dua anak buah Jarwo, tetapi lega itu tidak membuat seluruh pertanyaannya tentang Radit hilang.
'Terima kasih sudah membantu Ibu,' katanya akhirnya.
Radit mengangguk. 'Kamu tidak perlu menjawab apa-apa sekarang.'
Husna kembali memeriksa ponselnya. Ia memberi kabar kepada Abi bahwa tagihan Jarwo telah dibayar Radit dan bukti sudah ada pada mereka. Kakaknya perlu mengetahui bahwa keadaan berubah sebelum datang membawa jumlah yang sedang diusahakannya.
Maya meminta Radit menyebutkan kembali jumlah yang telah dikeluarkannya. Setelah mendengar tiga puluh juta, ia menatap kertas di tangannya dan mengaku belum tahu bagaimana menggantinya. Radit menyuruhnya duduk dahulu. Mereka belum menyepakati bentuk bantuan atau pengembalian ketika suasana masih demikian.
Husna memperhatikan percakapan itu dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin ucapan terima kasih ibunya dianggap persetujuan atas sesuatu yang belum dibahas. Ia mengambil map dari laci, memasukkan bukti pelunasan baru berdampingan dengan foto tagihan, dan membiarkan halaman berikutnya kosong. Ada pembicaraan yang masih harus dilakukan setelah Abi tiba, ketika semua orang dapat mendengar jumlah dan maksud yang sama.
Di halaman, sedan putih Ratih masih terparkir di tempatnya. Radit menyimpan kunci setelah memastikan mobilnya tidak menghalangi jalan keluar. Untuk sementara Ratih memilih tetap menemani Maya, sedangkan Husna menunggu jawaban kakaknya sambil menjaga kertas pelunasan agar tidak basah oleh gelas di meja.