Rabu pagi, Inara membawa buku kehamilan yang dibelinya beberapa hari sebelumnya ke ruang tengah. Halaman yang hendak dibaca berisi daftar pertanyaan untuk pemeriksaan berikutnya. Ia baru menulis satu kalimat ketika Umi Hanik menyuruhnya menerima telepon dari Ratih.
'Ponsel Umi sedang diisi. Tante Ratih tadi menghubungi nomor rumah,' jelas Umi sambil menyerahkan gagang telepon.
Inara mengucapkan salam. Ia mengenali suara ramah yang beberapa kali mengajaknya bicara sejak pertemuan mereka di restoran, tetapi keramahan itu belum membuatnya tenang setiap kali nama keluarga tersebut disebut.
'Tante tidak mengganggu, kan?'
'Tidak, Tante.'
'Jumat malam bisa makan bersama? Om Alvan sedang ada urusan usaha di sini. Dia ingin bertemu Abahmu juga. Sekalian kita duduk lebih lama daripada waktu syukuran Sabtu.'
Inara melirik halaman bukunya. Empat hari telah berlalu sejak kotak-kotak makanan disiapkan dan rumah ramai oleh tamu. Ia belum ingin menghadapi pertemuan lain, terutama jika Radit datang.
'Yang hadir siapa saja, Tante?'
'Tante, Om Alvan, Radit. Kalau Abah, Umi, kamu dan Abi berkenan.'
Inara menggenggam gagang telepon lebih erat. Ia tidak dapat langsung mengatakan tidak tanpa menjelaskan hal yang tidak ingin diceritakan. Namun ia juga tidak hendak menyatakan setuju lalu memendam keberatan sepanjang dua hari berikutnya.
'Inara tanyakan Abah dulu, ya. Nanti Inara kabari.'
'Boleh. Tidak harus dijawab sekarang.'
Ratih menyebutkan restoran dan perkiraan jamnya. Inara menuliskannya di kertas terpisah agar tidak tercampur dengan catatan pemeriksaan. Setelah telepon selesai, ia menyerahkan kembali gagang itu dan menutup buku.
Umi duduk di dekatnya. 'Ada apa?'
'Undangan makan Jumat. Tante Ratih ingin mengajak semuanya.'
'Umi tidak bisa. Sudah janji ikut pengajian di rumah Bu RT. Tapi tanyakan Abah. Kalau beliau bersedia, kamu dan Abi temani.'
Inara menahan jawaban. Di kepalanya, kata temani terdengar seperti keputusan yang telah selesai. Ia memandangi kertas undangan sampai Umi bertanya apakah ia sedang merasa tidak enak badan.
'Tidak. Cuma ingin istirahat di rumah.'
'Kalau memang tidak sanggup, bilang. Jangan menunggu di sana baru pusing.'
Inara mengangguk. Ia menyimpan kertas itu bersama buku, kemudian naik ke kamar untuk mengambil ponselnya. Kali ini ia tidak langsung mencari percakapan lama dengan Radit. Ia membuka nama Abi, mengetik bahwa Ratih mengundang mereka, lalu menghapus tambahan yang berbunyi ia tidak ingin datang.
Ia akhirnya menulis kalimat itu kembali dan mengirimkannya.
Abi membacanya ketika baru selesai membantu pelanggan di toko. Ia menjawab bahwa pembicaraan dapat dilakukan setelah pulang. Tidak ada pesan yang menanyakan apa alasan Inara, siapa yang ingin dihindarinya, atau apakah ia takut diketahui sedang hamil. Jawaban singkat itu justru membuat Inara bisa kembali membuka bukunya.
Sore hari, Kiai Ammar menanyakan undangan yang sudah disampaikan Ratih kepadanya. Beliau tampak tertarik berbicara dengan Alvan tentang kebutuhan bahan untuk usaha konveksi. Inara mendengarkan di meja makan, dengan Abi duduk di sampingnya.
'Abah bersedia Jumat. Umi sudah punya acara. Kalian bagaimana?'
Inara menatap piringnya. Abi tidak menjawab menggantikannya.
'Saya bisa mendampingi Abah,' kata Abi kemudian. 'Tapi Inara tadi ingin istirahat. Bisa dibicarakan dulu, Bah?'
Kiai memandang putrinya. 'Kalau sedang tidak kuat, tidak perlu dipaksakan. Kabari Tante Ratih supaya tempatnya disiapkan sesuai jumlah.'
Inara mengiyakan. Ia merasa sedikit malu karena telah membayangkan perlawanan yang ternyata tidak muncul. Namun keengganannya belum hilang hanya karena ayahnya memberi pilihan.
Sesudah makan, ia meminta Abi membawa gelasnya ke dapur. Ia sendiri mengikuti sambil membawa piring kecil. Mereka berdiri berjauhan di depan bak cuci agar tidak saling menghalangi.
'Aku tidak ingin duduk berhadapan dengan Radit,' katanya.
Abi menaruh gelas sebelum menjawab. 'Kalau Non memilih datang, kita bisa meminta tempat yang nyaman. Saya duduk di sebelah Non.'
'Tapi jangan lalu memperhatikan setiap gerakanku.'
Abi menoleh. Ia mengerti bahwa keberatannya bukan hanya tentang tempat duduk.
'Saya akan bertanya kalau Non membutuhkan sesuatu. Kalau ingin pulang, bilang. Kita bisa pamit tanpa membuat alasan yang panjang.'
'Abah bagaimana?'
'Berangkat terpisah. Nanti saya tanyakan kendaraannya. Jangan sampai Abah menunggu karena kita ingin pulang dulu.'
Inara membasuh tangannya dan mematikan keran. Ia belum tahu apakah makan bersama itu akan lebih sulit daripada yang dibayangkannya, tetapi setidaknya ia dapat menyebutkan hal yang tidak diinginkannya sebelum berada di meja restoran.
'Aku coba datang,' ujarnya akhirnya. 'Kalau nanti berubah karena tidak enak badan, aku kabari sendiri.'
Abi mengangguk. Tidak ada ucapan lega yang berlebihan. Ia mengambil lap dan mengeringkan meja yang terkena percikan air, lalu membiarkan Inara mendahuluinya keluar dari dapur.
Malamnya, Inara menelepon Ratih. Ia menyebutkan bahwa Abah, Abi, dan dirinya akan hadir, sedangkan Umi sudah mempunyai kegiatan. Ratih mengulang jumlah orangnya dan berjanji meminta ruangan yang tidak terlalu ramai.
'Tante, boleh minta tempat yang tidak dekat pintu dapur?' tanya Inara sebelum percakapan berakhir.
'Tentu. Ada yang perlu dihindari dari makanannya?'
Inara sempat ingin mengatakan terserah. Ia lalu mengingat perutnya yang kadang menolak aroma tertentu. 'Tidak tahu pasti, Tante. Nanti kalau ada yang membuat mual, Inara mungkin minta piringnya digeser saja.'
'Bilang langsung. Jangan sungkan.'
Permintaan kecil itu tidak menyelesaikan kecemasannya tentang Radit. Tetapi Inara merasa lebih siap karena telah meminta sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan sekadar menyetujui undangan demi menjaga wajah semua orang. Ia berterima kasih, lalu menyerahkan kabar jam pertemuan kepada Abi supaya suaminya dapat menyesuaikan tugas di toko.
Setelah menutup telepon, Inara memberi tanda pada kertas undangan: Jumat malam. Ia meletakkannya di atas meja, terpisah dari buku kehamilan yang kembali dibukanya. Foto pemeriksaan yang diberikan kepada Abi tetap berada pada suaminya; yang ada di halaman buku ini hanyalah catatan pertanyaan yang belum selesai ia tulis.
Ia menambahkan satu pertanyaan tentang rasa mual yang kadang datang ketika mencium makanan. Kemudian ia memanggil Abi untuk menanyakan jam berangkat Jumat nanti. Kali ini ia bertanya dengan suara yang cukup jelas, tanpa menunggu suaminya menebak sendiri apa yang sedang dipikirkannya.