Selasa pagi, Inara baru turun ketika suara motor Abi sudah menjauh dari halaman. Ia berhenti di anak tangga terakhir, melihat tudung saji yang belum dibuka. Di samping piring ada secarik kertas pemberitahuan bahwa air hangat tersedia di dapur. Tulisan Abi miring sedikit pada ujung baris.
Inara mengambil kertas itu sebelum Umi Hanik datang membawa sendok.
'Abi sudah berangkat, Mi?'
'Baru saja. Katanya ada kiriman yang perlu diterima sebelum toko ramai.'
Inara mengangguk lalu duduk. Ia seharusnya lega. Semalam mereka baru tidur setelah pencarian rujak dan percakapan yang membuatnya mengetahui sesuatu tentang pertemuan lama di toko kain. Pagi ini ia justru tidak tahu bagaimana harus memandang lelaki itu tanpa mengingatnya lagi.
Umi menyodorkan nasi. 'Kenapa cuma dilihat?'
'Nanti, Mi. Masih agak penuh.'
'Tadi malam makannya banyak?'
Pipi Inara menghangat. Ia mengambil sedikit nasi agar pembicaraan tidak berlanjut. Kertas tadi ia selipkan di bawah ponsel, bukan dibuang bersama sisa makanan.
Di UD Ammar Jaya, Abi sedang jongkok di samping dua gulung kain. Nomor pada pembungkus yang satu tidak sama dengan daftar kiriman. Ia menahan pegawai yang hendak memindahkannya ke rak, kemudian membuka nota pengantar di meja.
'Ini jangan dicampur dulu. Saya tanyakan ukuran dan warnanya sebelum tanda terima diselesaikan.'
Ia menelepon pengirim dari nomor yang tercetak pada nota. Ternyata satu gulung merupakan pengganti warna yang dipesan pelanggan lain, sedangkan barang toko masih berada di kendaraan. Abi meminta pengantar memeriksa kembali, lalu menunggu di pintu agar dua kiriman itu tidak tertukar. Ketika pelanggan datang menanyakan pesanan, ia dapat menunjukkan kain yang benar tanpa membuka gulungan milik orang lain.
Sebelum pengantar pergi, Abi meminta nota yang sudah dibetulkan. Ia mencocokkan lagi jumlah gulungannya, lalu menaruh nota lama dan penggantinya berdampingan. Pegawai yang tadi membantu mengangkat ikut melihat perubahan itu. Dengan begitu, orang yang mengambil alih meja nanti tidak mengira satu gulung kain hilang. Abi baru mempersilakan barang dipindahkan setelah warna dan jumlahnya sesuai pesanan.
Kiai Ammar melihatnya dari meja kasir. Menjelang siang, setelah pengantar membawa kembali gulungan yang salah, beliau memanggil Abi.
'Duduk sebentar, Bi. Abah ingin memastikan soal pekerjaanmu.'
Abi menyeka telapak tangannya sebelum menarik kursi.
'Sopir yang lama sudah kembali. Tetapi pekerjaan toko tetap membutuhkanmu, terutama mencocokkan pesanan dan membantu pengantaran. Kamu bersedia meneruskannya?'
'Bersedia, Bah.'
'Kita buat jelas upahnya supaya kamu bisa mengatur kebutuhan. Lima juta lima ratus ribu untuk setiap tiga puluh hari. Hari ini pembayaran pertama untuk pekerjaanmu selama sebulan ini. Yang dulu tiga hari itu sudah diberikan tersendiri.'
Abi terdiam sesaat. Ia tidak ingin salah mendengar, apalagi menganggap hubungan keluarga sebagai alasan menerima sesuatu yang tidak dikerjakannya.
'Kalau tugas saya belum sesuai, Abah tolong beri tahu.'
'Justru itu. Catat yang belum beres dan tanyakan. Jangan semua kamu putuskan sendiri.'
Kiai meminta nomor rekeningnya sekali lagi. Abi membacakan sambil menunjukkan layar ponsel. Setelah nama penerima cocok, Kiai menyelesaikan transfer dan menyerahkan bukti transaksi kepadanya. Abi memeriksa saldo masuk, kemudian mengucapkan terima kasih dengan suara lebih pelan dari biasanya.
Lima juta lima ratus ribu itu membuatnya ingin segera mengabari rumah. Namun ia masih harus membantu menyiapkan pesanan yang akan diambil sore nanti. Ia menulis pembagian uang pada halaman belakang buku kecilnya sebelum kembali bekerja: satu juta untuk kebutuhan Ibu dan Husna, lima ratus ribu untuk transportasi serta keperluan kerja, empat juta disimpan dahulu untuk pendidikan dan kebutuhan keluarga berikutnya.
Ia belum mengetahui jumlah pembayaran kuliah yang akan diperlukan Husna. Karena itu uang empat juta tersebut tidak ia keluarkan. Ia memberi garis di bawah catatan itu agar tidak bercampur dengan biaya perjalanan sehari-hari.
Saat istirahat, Abi menelepon Maya. Setelah mendengar suara ibunya, ia memberitahukan pembayaran tadi dan mengirim satu juta rupiah. Maya meminta Husna memeriksa rekening, lalu kembali ke telepon.
'Sudah masuk, Nak. Terima kasih. Ibu pakai untuk belanja rumah dulu, ya.'
'Iya, Bu. Kalau ada kebutuhan kuliah, Husna kabari Abi jumlahnya. Yang untuk itu masih Abi simpan.'
Maya mengiyakan. Abi menutup telepon sesudah menanyakan apakah mereka sudah makan. Ia tidak membuat janji bahwa seluruh kebutuhan akan selesai hari ini; untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia memiliki pembagian yang dapat diperiksanya sendiri.
Sore menjelang tutup toko, Abi membeli sebungkus rujak dari penjual yang masih melayani pelanggan. Ia teringat Inara dan tertawa kecil ketika menyadari alasan yang hendak dipakainya. Setelah memberi tahu Kiai bahwa pesanan telah dicocokkan, ia membawa bungkusan itu pulang.
Inara sedang duduk di kamar ketika Abi mengetuk pintu yang terbuka.
'Ada rujak, Non. Kalau masih ingin.'
'Lagi?'
'Ini kebetulan ada yang jual. Tidak perlu mencari sampai jauh.'
Inara menerima bungkusan itu, tetapi tidak segera membukanya. 'Kamu sendiri sudah makan?'
'Sudah di toko.'
'Kalau begitu taruh di meja. Aku ambil piring dulu.'
Abi meletakkannya di tempat yang ditunjuk. Inara bergerak ke pintu, kemudian berhenti ketika ia hendak menanyakan sesuatu. Pertanyaan tentang lelah, tentang pekerjaan, bahkan tentang apakah Abi senang tinggal di sini, semuanya terasa terlalu dekat dengan pertanyaan lain yang belum berani ia ucapkan.
Malamnya, Inara berbaring menghadap dinding. Bunyi kertas dari arah alas tidur berhenti setelah Abi mematikan lampu bacanya. Ia masih terjaga, mengingat betapa mudah dahulu ia menunggu janji Radit dan betapa sulit sekarang menerima perhatian yang sudah berada di depannya.
'Bi,' panggilnya lirih.
'Iya, Non?'
Inara menarik selimut hingga bahunya. Ia semula ingin mengatakan bahwa lelaki itu pantas mendapat kehidupan yang lebih sederhana daripada ini. Yang keluar justru ucapan terima kasih untuk rujak sore tadi.
'Sama-sama,' jawab Abi.
Sesudah itu tidak ada pertanyaan lanjutan. Abi memberinya kesempatan untuk diam, dan kesempatan itu membuat Inara semakin sulit memejamkan mata. Ia tidak tahu apakah yang ia takutkan adalah kasihan kepada Abi, atau perasaan lain yang mulai tumbuh tanpa pernah ia masukkan ke dalam perjanjian mereka.