Jumat menjelang petang, Abi memeriksa bagian belakang Alphard sebelum memanggil Inara. Ia menyingkirkan kantong kosong yang tertinggal sesudah pengantaran dan memastikan tempat duduk tidak terhalang barang. Kiai Ammar berdiri di dekat pagar, berbicara dengan sopir regulernya yang telah kembali bekerja.
'Malam ini Abah memakai mobil yang itu,' kata Kiai sambil menunjuk mobil keluarga berwarna abu-abu di sisi halaman. 'Kalian bawa Alphard. Kalau pulang lebih dahulu, tidak perlu menunggu Abah.'
Abi mengangguk. Ia memastikan sopir tersebut mengetahui restoran yang dituju, lalu menutup bagasi. Dua kendaraan disiapkan untuk perjalanan yang sama, tetapi masing-masing dapat pulang sesuai keperluan penumpangnya.
Umi Hanik keluar membawa tas pengajiannya. Sebelum berangkat ke rumah Bu RT, beliau mengingatkan Inara agar makan sedikit dahulu kalau perutnya kosong. Inara menerima biskuit yang disodorkan, tetapi hanya memasukkannya ke tas.
'Kalau mual, jangan dipendam,' pesan Umi.
'Iya, Mi.'
Abi tidak mengulangi nasihat itu. Ia menunggu Inara memilih tempat duduk, lalu menanyakan apakah suhu pendingin mobil terlalu dingin. Inara menjawab cukup. Setelah Kiai berangkat dengan kendaraan lainnya, Abi baru menjalankan Alphard keluar halaman.
Di perjalanan, Inara membuka biskuit. Dua potong dimakannya perlahan sementara lampu jalan mulai menyala. Ia menyadari bahwa Abi tidak berusaha mengajaknya membicarakan Radit. Lelaki itu hanya mengabarkan kemungkinan jalan ramai dan mengatakan mereka mempunyai cukup waktu.
'Aku tidak ingin terlambat,' ucap Inara.
'Kita belum terlambat. Tidak perlu terburu-buru.'
Abi mengurangi kecepatan ketika kendaraan di depan mengerem. Inara menutup kantong biskuit dan menyandarkan kepala. Ia mencoba memikirkan jamuan itu sebagai makan malam biasa, tetapi telapak tangannya tetap terasa dingin.
Di restoran Sekar Kedhaton, petugas mengarahkan mereka menuju ruangan yang telah dipesan. Kiai sudah duduk bersama Ratih dan seorang lelaki yang segera berdiri ketika melihat mereka. Radit berada di kursi lain, dengan ponsel terbalik di dekat gelasnya.
'Ini Inara,' kata Ratih. 'Dan ini suaminya, Abi.'
Alvan menjabat tangan Abi. Pandangannya tertahan sesaat pada wajah lelaki muda itu.
'Abi ini putranya Bayu, ya?'
Abi mengangguk. Ia telah mendengar nama Alvan dari ibunya, tetapi mendengar nama ayahnya di tempat ini membuat sikap duduknya berubah.
'Saya pernah bertemu ayahmu dalam urusan pekerjaan dahulu,' lanjut Alvan. 'Sudah lama sekali. Kamu mirip kalau sedang memperhatikan orang bicara.'
'Saya Husni Abidzar, Om. Biasanya dipanggil Abi.'
Alvan mengulangi namanya sambil tersenyum, lalu mempersilakan mereka duduk. Abi sempat teringat rumah yang dahulu ditempati keluarganya. Namun ia belum cukup mengenal Alvan untuk membuka persoalan itu di meja makan. Ia membalas senyumnya, lalu menarik kursi ketika dipersilakan duduk di samping Inara.
Inara memilih kursi di samping Abi. Radit berada agak menyerong, sehingga ia tidak perlu terus-menerus menatap lelaki itu ketika mendengar Kiai bicara. Ratih menyodorkan daftar hidangan dan menanyakan apakah letak tempat duduknya cukup nyaman.
'Nyaman, Tante. Terima kasih sudah meminta ruangan ini.'
'Agar kita tidak perlu berteriak,' jawab Ratih ringan.
Pelayan datang membawa air dan mencatat pilihan makanan. Kiai serta Alvan mulai berbicara tentang kebutuhan kain untuk kegiatan usaha. Abi mendengarkan, sesekali menjawab pertanyaan Kiai mengenai barang yang baru masuk toko. Ia tidak mengaku mengelola semua urusan; ketika Alvan meminta penjelasan harga dalam jumlah besar, ia mempersilakan Kiai menjawab.
'Abi membantu mencocokkan pesanan dan pengantarannya,' kata Kiai. 'Sekarang saya ingin catatannya lebih teratur. Kalau orang yang menerima barang sedang keluar, yang lain tidak kebingungan.'
Alvan bertanya tentang pengalaman Abi di pabrik garmen. Abi menjawab seperlunya, menyebut pekerjaan yang benar-benar pernah dilakukannya dan masa ketika pabrik tidak lagi mempekerjakannya. Ia tidak menutupi kehilangan pekerjaan itu dengan jabatan yang terdengar lebih tinggi.
Inara memperhatikannya dari samping. Selama ini ia lebih sering melihat Abi mengambilkan sesuatu, mengantar, atau menunggu perintah. Di meja ini ia mendengar lelaki itu menerangkan pekerjaan tanpa meminta orang mengasihaninya.
Radit menggeser gelasnya. Bunyinya kecil, tetapi cukup untuk mengalihkan pandangan Inara. Mata mereka bertemu sebentar. Inara segera kembali melihat ke arah Ratih yang sedang menjelaskan hidangan pesanan.
Abi merasakan tangan Inara bergerak di dekat ujung meja. Ia tidak langsung menggenggamnya. Ia menoleh, seolah bertanya apakah ada yang diperlukan.
Inara meletakkan ujung jarinya di punggung tangan Abi. Sentuhan itu singkat, cukup untuk membuatnya tetap merasa berada di tempat yang telah dipilihnya. Ketika ia menarik tangannya untuk mengambil gelas, Abi membiarkannya pergi.
'Airnya masih cukup?' tanya Abi pelan.
'Ya.'
Sementara menunggu, Ratih menanyakan kabar Maya dan Husna. Abi mengatakan ibunya ada di rumah dan adiknya masih mengikuti perkuliahan. Ia tidak membuat keputusan tentang taaruf atas nama Husna. Ketika Ratih mengatakan senang dapat mengenal keluarga mereka, Abi hanya menjawab bahwa pesan itu akan disampaikannya.
'Ibunya tadi sempat menelepon Tante,' kata Ratih. 'Tapi kita belum sempat bicara lama.'
'Barangkali sedang menyiapkan makan, Tante.'
Radit mengangkat wajah ketika nama Husna disebut. Ia menanyakan jadwal kuliah gadis itu, tetapi Abi menyarankan menanyakannya langsung dengan cara yang sudah mereka sepakati agar tidak salah mengira waktu luang. Inara menatap sendok di depannya. Dua hubungan yang belum selesai itu berada pada satu meja, dan ia tidak bisa membuat salah satunya hilang hanya dengan berpura-pura tidak mendengar nama yang lain.
Makanan mulai dihidangkan. Ratih menggeser piring agar ruang di depan Inara lebih lapang. Kiai masih menanyakan bahan yang diperlukan untuk pesanan usaha Alvan, sedangkan Abi memindahkan gelas supaya tidak tersenggol pelayan.
Sebuah mangkuk berisi hidangan berkuah diletakkan tidak jauh dari Inara. Aroma rempah dan dagingnya segera memenuhi bagian meja itu. Inara yang semula hendak mengambil sendok berhenti. Ia menelan ludah, kemudian menutup mulut sebentar dengan punggung jari.
Abi melihat perubahan wajahnya, tetapi tidak memanggil semua orang untuk memperhatikannya. Ia mencondongkan tubuh sedikit.
'Mau pindah tempat?'
Inara menggeleng. Ia menarik napas lebih pelan, lalu memandang mangkuk di depannya. Makan malam belum selesai, dan kali ini ia tidak ingin menunggu sampai tubuhnya benar-benar menolak sebelum meminta bantuan yang sederhana.