Mereka pulang setelah petugas menyelesaikan penanganan dan memberikan arahan yang perlu dibawa ke rumah. Kiai membantu mengatur perjalanan sehingga Inara tidak perlu menunggu Abi kembali mengambil kendaraan dari toko. Umi menemaninya, sementara Abi memastikan barang yang dititipkan serta pekerjaan yang ditinggalkan sudah mempunyai orang yang mengurus.
Di rumah, Umi meminta Bibik menyiapkan tempat yang nyaman. Inara menolak jika semua barang harus segera dipindahkan untuknya. Ia hanya ingin duduk dahulu, kemudian masuk kamar setelah cukup kuat.
'Kalau ada yang diperlukan, bilang,' ujar Umi.
'Iya, Mi.'
Abi mengikuti dari belakang dengan barang yang sudah dikumpulkan. Ia menyerahkan tas langsung kepada Inara, lalu menaruh buku kontrol pada meja sesuai permintaannya. Cetakan USG masih berada dalam simpanan perempuan itu.
Setelah pintu ditutup, Inara duduk di tepi ranjang dan membuka kembali cetakan tersebut. Ia memiringkannya ke arah cahaya, mencoba menemukan bentuk yang tadi diperlihatkan dokter. Abi hendak keluar untuk mengambil air, tetapi berhenti ketika namanya dipanggil.
'Kamu tadi melihatnya?'
'Yang dijelaskan dokter? Iya.'
'Aku masih sulit membaca gambarnya kalau tidak ditunjukkan.'
Abi mendekat setelah Inara menggeser tempat duduknya. Ia tidak duduk terlalu rapat. Mereka melihat gambar itu bersama, mengingat penjelasan yang baru didengar tanpa menambahkan sesuatu yang tidak diterangkan.
'Tadi kamu menatap lama sekali,' ujar Inara.
'Aku belum pernah mendampingi pemeriksaan seperti itu.'
'Aku juga.'
Jawaban pendek tersebut membuat keduanya tersenyum sebentar. Untuk pertama kalinya hari itu, perbedaan pengetahuan di antara mereka tidak terasa seperti tuduhan. Mereka sama-sama harus bertanya, sama-sama tidak mampu membaca seluruh hal tanpa bantuan.
Inara membalik cetakan, lalu kembali menghadapkannya ke depan. Ia memperhatikan jari Abi yang tidak menyentuh gambar sampai ia sendiri meletakkannya lebih dekat.
'Kalau kamu mau, simpan saja ini.'
Abi menatapnya, memastikan tidak salah mendengar.
'Kamu memberikan yang ini kepadaku?'
'Iya. Aku masih punya buku kontrol. Kalau nanti perlu salinan, kita minta atau buat salinan yang benar.'
'Kamu yakin tidak ingin menyimpannya sendiri?'
'Aku yang menawarkan, Bi.'
Nada tegasnya tidak terdengar marah. Abi mengangguk dan menerima cetakan itu dari tangannya. Ia meraih dompet, membukanya, lalu berhenti sebentar ketika foto Bayu terlihat dari tempat penyimpanan.
Inara memperhatikan foto tersebut. Ia tidak menanyakan mengapa masih disimpan. Lelaki di sampingnya menatap wajah ayahnya sesaat sebelum meletakkan cetakan USG di belakang foto itu, memastikan sisi-sisinya tidak terlipat.
'Di situ?' tanyanya.
'Kalau kamu tidak keberatan. Supaya tidak tercampur dengan uang atau kertas belanja.'
'Tidak apa-apa.'
Abi menutup dompet setelah gambar tersimpan. Perpindahan benda itu selesai dengan sederhana, tetapi Inara merasa ada sesuatu yang lebih berat daripada kertas tipis yang baru diserahkan. Ia tidak menariknya kembali atau mengatakan itu sekadar titipan sampai nanti.
Beberapa saat kemudian Umi mengetuk. Ia menanyakan apakah Inara sudah sanggup makan sedikit dan mengatakan Kiai ingin berbicara setelah ia beristirahat. Inara menyanggupi makanan yang disiapkan dan meminta agar percakapan keluarga tidak dilakukan terlalu lama.
Menjelang malam, mereka duduk bersama. Kiai menyampaikan keinginan mengadakan syukuran sederhana pada Sabtu. Ia tidak langsung menentukan semua hal sebelum menanyakan apakah Inara sanggup menerima beberapa orang di rumah.
'Tidak perlu acara yang membuatmu kelelahan,' tambah Umi. 'Kita dapat menyiapkan makanan untuk dibagikan.'
Inara menimbang. Ia tidak ingin kegembiraan orang tuanya berubah menjadi hari ketika ia harus terus berdiri dan menjawab pertanyaan. Abi mengatakan dapat membantu menyiapkan bagian praktis, tetapi keputusan tentang seberapa lama ia ikut tetap perlu didengar.
'Kalau aku boleh istirahat ketika perlu, aku tidak keberatan,' jawabnya.
Mereka membicarakan seratus kotak makanan dan siapa yang membantu menyiapkan. Abi mendengarkan tugas yang memang dapat dijalankannya, bukan menjanjikan akan mengurus semuanya sendirian. Inara meminta agar Maya dan Husna diberi kabar lebih dahulu sehingga tidak merasa harus datang mendadak.
'Nanti aku hubungi Ibu,' kata Abi.
Sesudah pembicaraan selesai, ia mengirim pesan kepada Maya tentang rencana Sabtu. Ia menyampaikan kabar kehamilan yang kini telah diizinkan Inara untuk dibagikan kepada keluarga. Tidak ada penjelasan mengenai paternitas yang diselipkan tanpa percakapan baru dengannya.
Maya membalas dengan doa dan pertanyaan tentang keadaan Inara. Abi membacakan kepada istrinya, lalu menunggu jawaban apa yang ingin disampaikan. Perempuan itu mengatakan kondisinya sudah ditangani dan ia sedang mengikuti rencana pemeriksaan berikutnya.
'Kalau Ibu mau menelepon, kamu bersedia?' tanya Abi.
Inara memandang jam, kemudian mengatakan masih ingin beristirahat. Abi membalas pesan dengan jawaban tersebut. Maya tidak memaksa, hanya meminta salamnya disampaikan dan mengatakan akan mengatur waktu datang bersama Husna pada Sabtu.
'Husna masih harus menyelesaikan kuliah,' ujar Inara setelah membaca balasan itu. 'Jangan sampai dia mengira harus membantu semua persiapan.'
Abi menambahkan bahwa mereka mengundang keduanya sebagai keluarga yang datang berkunjung, bukan meminta mereka mengambil alih pekerjaan dapur. Ia tidak menyuruh Inara memuji perhatian ibunya sebagai balasan. Ia hanya memperlihatkan jawaban yang dikirim, lalu meletakkan ponsel setelah urusan waktu selesai dibicarakan.
Inara kembali bersandar. Kabar yang dibagikan tadi mulai mempunyai akibat yang nyata: seseorang akan datang, menanyakan keadaannya, dan duduk bersamanya di rumah. Ia belum tahu bagaimana menjalaninya, tetapi setidaknya orang-orang yang diundang tidak datang tanpa ia mengetahui rencananya.
Malam itu, ketika kembali menata tempat tidur, Abi meletakkan dompet pada tempat yang biasa. Inara melihatnya dan mengingat gambar di belakang foto Bayu. Ia hendak mengatakan sesuatu tentang sembilan bulan, lalu berhenti sebelum kalimatnya berubah menjadi hitungan baru.
'Perjanjian kita masih yang sejak akad,' ujarnya akhirnya.
Abi menoleh.
'Aku ingat.'
'Aku hanya tidak ingin ada yang salah mengerti karena hari ini.'
'Memberi foto tidak membuat kita harus memutuskan semua hal malam ini.'
Inara mengangguk. Ia naik ke ranjang, sedangkan Abi membuka kasur lipat dan merapikan selimut. Hari yang panjang itu berakhir dengan dua tempat tidur yang tetap terpisah dan satu gambar yang kini mempunyai tempat simpan jelas. Dari ranjangnya Inara masih dapat melihat dompet di meja. Ia memadamkan lampu tanpa meminta gambar itu dikeluarkan lagi, membiarkan Abi menyimpannya di tempat yang telah dipilih.