Sabtu pagi, seratus kotak makanan mulai disusun di tempat yang telah disiapkan. Bibik Ndari memeriksa bagian dapur bersama orang yang membantu, sementara Abi membawa kotak yang sudah ditutup menuju meja depan. Ia menghitung sesuai jumlah yang disepakati, kemudian mengosongkan jalur agar orang yang datang tidak perlu melewati tumpukan.
Inara duduk di dekat ruang keluarga. Ia membantu bagian yang dapat dilakukan sambil duduk, tetapi berhenti ketika Umi mengingatkan bahwa tidak ada kewajiban untuk ikut mengangkat barang. Sesekali ia menanyakan apakah kotak bagi keluarga yang tidak hadir sudah dipisahkan.
'Sudah,' jawab Abi ketika lewat. 'Yang di sisi ini untuk dibawa setelah acara selesai.'
'Jangan sampai keliru dengan yang akan dibagikan sekarang.'
'Aku beri tanda tempatnya, bukan menambah jumlahnya.'
Inara mengangguk. Ia menyukai bahwa Abi menjawab dengan jelas tanpa membuat kekhawatirannya terdengar berlebihan. Setelah lelaki itu kembali bekerja, ia memeriksa pesan dari Maya yang mengatakan sedang berangkat bersama Husna.
Kedatangan keduanya tidak lama kemudian membuat Inara bangkit untuk menyambut. Maya menyalaminya dan menanyakan keadaan, lalu menerima ketika ia mengatakan lebih nyaman duduk. Husna membawa barang yang diminta ibunya dan meletakkannya setelah bertanya tempat yang sesuai.
'Mbak tidak perlu menemani kami terus,' ujar Husna. 'Kalau mau istirahat, bilang saja.'
'Aku duduk di sini dulu.'
Maya menyapa Umi dan Kiai, kemudian menerima tempat di dekat putrinya. Abi datang setelah meletakkan kotak terakhir yang dibawanya. Ia mencium tangan ibunya, membiarkan Maya memegang lengannya sebentar sambil menanyakan apakah pekerjaan pagi itu terlalu banyak.
'Masih terbagi, Bu. Yang lain juga membantu.'
'Jangan semua diambil sendiri.'
Abi tersenyum dan mengangguk. Sentuhan di lengannya terasa akrab. Ia teringat rangkulan ibunya ketika keadaan mereka jauh lebih sulit daripada menyiapkan kotak makanan di rumah ini, lalu membalas genggaman itu sebentar sebelum kembali membantu.
Acara berlangsung sesuai rencana keluarga. Inara mendengarkan doa dan ucapan syukur dengan tangan bertumpu pada pangkuan. Ketika ada yang mendekat dan bertanya boleh menyentuh perutnya, ia tersenyum kecil tetapi mengatakan lebih nyaman tidak disentuh dahulu.
Orang itu menerima jawabannya. Inara tidak perlu mengulang atau mengubah penolakan menjadi gurauan. Ia kembali mendengarkan percakapan di sebelahnya, merasa sedikit lebih tenang karena tubuhnya masih dapat mempunyai batas di tengah kegembiraan keluarga.
Sesudah bagian utama selesai, pembagian makanan dilakukan sekali. Abi membantu mengatur siapa membawa kotak yang telah disiapkan, sedangkan Kiai menanggapi tamu yang berpamitan. Inara tidak dipanggil berdiri untuk setiap salam jika ia sedang duduk beristirahat. Orang yang ingin menyapa dapat mendekat sebentar tanpa membuatnya harus mengulang cerita pemeriksaan.
Maya kemudian duduk bersamanya ketika ruang keluarga mulai lebih lapang. Ia menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin dibawakan pada kesempatan lain. Inara menggeleng, lalu mengatakan perhatian hari ini sudah cukup.
'Abi kalau terlalu sibuk, diingatkan,' ujar Maya. 'Kadang dia merasa harus menyelesaikan semua sebelum mau berhenti.'
Inara memandang pintu. Ia teringat lelaki itu bergegas meninggalkan pekerjaan ketika tubuhnya melemah di toko. Belum lama sebelumnya ia masih dapat menuduh Abi terlalu banyak ikut campur, lalu pada hari yang sama menginginkannya tetap menunggu di dekat ruang pemeriksaan.
'Waktu aku sakit, dia sudah membantu, Bu.'
'Ibu senang mendengarnya. Kalau ada salah paham, bicarakan. Jangan ditahan sampai sama-sama capek.'
Inara menunduk. Kalimat itu menyentuh bagian yang tidak dapat diterangkannya. Ia tidak bisa memberi tahu Maya bahwa ada kesalahan yang sejak awal telah dibuat sebelum ibu itu menerima dirinya sebagai menantu.
'Abi tidak salah dalam urusan ini,' katanya pelan. 'Jangan sampai Ibu mengira dia yang membuatku susah.'
Abi sedang lewat di belakang sofa sambil membawa nampan kosong ketika kalimat tersebut terdengar. Ia berhenti sepersekian saat, lalu melanjutkan langkah ke meja agar tidak membuat Inara terkejut karena merasa percakapannya sedang disimak.
Ia tidak mendengar semua pembicaraan sebelum itu. Namun, bagian yang baru didengarnya cukup membuatnya menatap nampan di tangan lebih lama. Inara mengatakan sesuatu yang tidak pernah dituntutnya di hadapan Maya, dan ia belum tahu apakah perempuan itu ingin ia mendengarnya.
Di sofa, Maya mengusap punggung tangan Inara. Ia tidak meminta rincian urusan yang dimaksud. Ia hanya mengatakan bahwa jika putranya membutuhkan bantuan, ia berharap tidak merasa harus menghadapi semuanya sendiri.
Menjelang keluarga berpamitan, Inara ikut berdiri sebentar. Maya memastikan ia tidak memaksakan diri, lalu mengingatkan Husna mengambil barang pribadi yang dibawa. Abi menawarkan mengantar sampai depan dan menerima ketika ibunya mengatakan mereka telah mengatur perjalanan pulang.
Kiai menghampiri mereka sebelum sampai pintu. Ia mengucapkan terima kasih kepada Maya karena sudah datang dan mengatakan Abi banyak membantu ketika keadaan Inara menurun. Maya memandang putranya, tetapi tidak menjadikan pujian itu kesempatan meminta lebih banyak hal darinya.
'Yang penting kalian saling memberi tahu kalau perlu bantuan,' ujarnya kepada keduanya.
Inara berdiri di samping Abi sambil mendengarkan. Ia belum dapat mengatakan bahwa mereka sudah pandai melakukan itu. Beberapa hari terakhir justru memperlihatkan betapa banyak hal yang baru dapat disampaikan setelah terlanjur menimbulkan ketakutan. Namun, ia masih mengingat pertanyaan Abi sebelum menyentuh, sebelum menghubungi keluarga, dan sebelum membagikan kabar. Ia membalas pesan Maya dengan anggukan yang lebih bersungguh-sungguh daripada sapaan sopan saat pertama datang ke restoran.
Abi mengucapkan terima kasih, lalu berjalan bersama mereka sampai batas depan rumah. Kali ini Inara menunggu di dekat pintu karena kakinya mulai terasa lelah.
'Sampaikan kalau sudah sampai, Bu.'
'Iya. Kamu istirahat juga setelah beres.'
Satu pamit menutup kunjungan mereka. Abi kembali ke dalam dan membantu bagian yang masih perlu dirapikan, bukan memulai pembagian makanan lain. Kotak yang telah dipisahkan dibawa sesuai rencana, dan yang sudah diterima orang tidak dihitung kembali sebagai sisa.
Inara duduk ketika kakinya mulai lelah. Dari tempatnya ia melihat Abi meletakkan nampan yang tadi dibawa. Lelaki itu menoleh dan menanyakan apakah ia memerlukan air. Inara mengangguk. Di antara ucapan syukur keluarga, ada satu kalimat tentang dirinya yang telah sampai kepada Abi, meskipun mereka belum membicarakannya berdua.