Inara memandang layar ketika dokter Salma mulai menjelaskan apa yang sedang diperiksa. Abi berdiri pada tempat yang ditunjukkan setelah Inara mengizinkannya mendampingi. Ia tidak langsung bertanya, menunggu istrinya mendengar penjelasan terlebih dahulu.
Pada awalnya Inara hanya melihat bentuk yang belum dapat dipahaminya. Dokter menunjukkan bagian yang dimaksud, mengulang keterangan ketika ia bertanya, lalu membiarkannya memperhatikan tanpa segera membicarakan keluarga yang menunggu di luar.
'Jadi ini...' Inara menghentikan kalimatnya.
Dokter Salma mengangguk dan melanjutkan dengan bahasa yang dapat diikutinya. Inara merasakan tenggorokannya mengencang. Selama ini kehamilan hadir sebagai rasa mual, ketakutan, dan persoalan yang harus disembunyikan. Di hadapan layar, ada kenyataan yang tidak bergantung pada apakah Radit menjawab telepon.
Ia menoleh kepada Abi. Lelaki itu sedang memperhatikan penjelasan dokter dengan mata yang tidak lagi mencari sesuatu di wajahnya. Sesekali ia mengangguk, lalu kembali diam agar Inara dapat menyampaikan pertanyaannya sendiri.
Usia kehamilan yang dibicarakan saat itu sekitar sembilan minggu. Inara mendengarnya dengan dada berdebar dan segera melirik pintu. Dokter Salma melihat gerakan tersebut, kemudian memastikan kembali bahwa pembicaraan masih berlangsung bersama orang yang telah diizinkan pasien.
'Orang tua saya belum tahu,' ucap Inara pelan.
'Tentang kehamilannya, atau ada hal tertentu yang belum ingin kamu sampaikan?'
Inara membutuhkan waktu untuk menjawab. Ia tidak dapat mengatakan kepada dokter bahwa pernikahan mereka telah berjalan lebih lama daripada kenyataan. Abi pun tidak ikut membuat penjelasan yang mengubah tanggal demi menenangkan keluarga.
'Mereka belum tahu saya hamil. Saya ingin mendengar hasil pemeriksaannya dahulu sebelum bicara kepada mereka.'
Dokter Salma menerima jawaban tersebut. Ia kembali membahas apa yang dapat dinilai dari pemeriksaan saat ini dan hal yang masih perlu dipantau. Inara diam-diam menghitung jarak antara hari akad dan angka yang baru didengarnya. Selisih itu membuatnya takut. Ia menatap Abi, tetapi lelaki tersebut tidak menyodorkan tanggal lain untuk diucapkan. Ia kembali memusatkan perhatian ketika dokter menjelaskan pemeriksaan berikutnya.
Abi memperhatikan Inara yang mulai menggenggam ujung alas. Ia hendak bertanya apakah perlu berhenti sejenak, tetapi perempuan itu lebih dahulu mengatakan ingin melanjutkan penjelasan. Ia sedang takut, namun belum ingin menyerahkan semua pembicaraan kepada orang lain.
Ketika pemeriksaan selesai, Inara diberi waktu merapikan diri sebelum berbicara lagi dengan dokter. Ia memegang cetakan yang diserahkan kepadanya dan menatapnya dari jarak dekat. Gambar itu tidak serta-merta menjadi mudah dibaca, tetapi kini ia mengingat bagian yang tadi ditunjukkan.
'Boleh kusimpan?' tanyanya.
'Tentu. Itu milikmu,' jawab dokter.
Abi melihat Inara menaruh cetakan dengan hati-hati pada tempat yang tidak membuatnya terlipat. Ia tidak memintanya. Ia hanya membantu memindahkan tas lebih dekat ketika perempuan itu hendak menyimpan barang.
Pembicaraan kemudian beralih kepada keluhan dan tindak lanjut. Inara menanyakan apa yang perlu diperhatikan setelah pulang. Abi mendengarkan agar dapat membantu, tetapi membiarkan istrinya memegang buku pemeriksaannya sendiri. Rencana berikutnya dibicarakan berdasarkan keadaan yang sedang dinilai, bukan sekadar permintaan agar ia lebih banyak tersenyum.
'Untuk Abah dan Umi,' kata Inara sesudah ada jeda, 'aku mau memberi tahu bahwa aku hamil.'
Abi menatapnya.
'Kamu mau mereka masuk sekarang?'
'Sebentar. Aku ingin bilang dulu apa yang belum siap kubicarakan.'
Dokter Salma mendengarkan batas yang disampaikan. Inara mengizinkan kabar kehamilan serta penjelasan mengenai kebutuhan istirahat dan kontrol dibagi kepada orang tuanya. Ia belum ingin percakapan mengenai usia serta keadaan pribadinya diteruskan di hadapan mereka saat itu. Ia tidak meminta dokter mengatakan usia yang berbeda.
Setelah Inara menyatakan siap, Abi keluar untuk memanggil kedua orang tuanya. Umi bangkit lebih dahulu, tetapi menunggu ketika petugas mengatur siapa yang dapat masuk bersama. Kiai mengikuti tanpa mendahului penjelasan yang belum mereka dengar.
'Sudah lebih enak, Nak?' tanya Umi ketika akhirnya mendekat.
Inara mengangguk. Ia meraih tangan ibunya yang diulurkan di sisi tempat berbaring. Untuk beberapa saat ia hanya memegangnya, menahan keinginan menangis sebelum dapat menyampaikan kalimat utuh.
'Mi, aku hamil.'
Umi memandang wajahnya, kemudian berpaling kepada dokter untuk memastikan ia tidak salah mendengar. Kiai terdiam di dekat pintu sebelum mendekat satu langkah. Setelah kabar itu diterangkan seperlunya, Umi mengusap punggung tangan anaknya.
'Kenapa tidak bilang sejak di rumah?'
'Aku masih takut. Aku belum tahu harus bicara bagaimana.'
Umi menarik kursi lebih dekat setelah memastikan tidak menghalangi petugas. Ia sempat bertanya apakah Inara ingin menceritakan lebih banyak sekarang. Perempuan itu menggeleng pelan dan meminta agar mereka membicarakan sisanya setelah ia merasa lebih kuat.
'Baik. Umi mendengarkan yang kamu sanggup katakan dulu.'
Inara mengusap sudut matanya dengan tisu yang disediakan. Ia tidak menatap Abi untuk meminta lelaki itu menyelesaikan jawabannya. Untuk sesaat ia hanya duduk di antara kenyataan bahwa orang tuanya mengetahui kabar kehamilan dan kenyataan lain yang belum sanggup dibukanya. Keduanya tidak dapat dipaksa menjadi satu cerita yang rapi hanya karena ia menginginkan percakapan cepat selesai. Ia menoleh kembali kepada dokter ketika penjelasan tentang tindak lanjut diteruskan.
Jawaban itu tidak menerangkan seluruh ketakutannya. Namun, Inara tidak menambahkan kisah palsu untuk melengkapinya. Ia hanya meminta agar percakapan dilanjutkan perlahan karena tubuhnya masih lemah.
Dokter Salma mengembalikan perhatian kepada kebutuhan pasien dan rencana setelah penanganan. Umi mendengarkan, sesekali bertanya tentang bantuan yang dapat diberikan di rumah. Kiai bertanya apakah mereka perlu menyiapkan sesuatu sebelum membawa Inara pulang, bukan meminta kepastian yang tidak dapat diberikan dari satu pemeriksaan.
Abi berdiri sedikit ke samping. Ia menyaksikan kegembiraan yang mulai muncul di wajah orang tua Inara dan mengetahui ada bagian yang belum mereka pahami. Ia tidak sanggup ikut memberi penjelasan yang menyesatkan. Ketika Kiai memandangnya, ia hanya mengatakan akan membantu istrinya mengikuti arahan yang sudah diberikan.
Sesudah percakapan selesai, Inara memeriksa kembali cetakan dan buku kontrol sebelum menyimpannya. Keduanya tetap bersamanya. Satu pemeriksaan telah dilakukan, dan satu kabar telah dibagikan atas pilihannya sendiri. Persoalan yang belum diucapkan tidak menghilang, tetapi untuk hari ini ia tidak perlu kehilangan kesempatan mendengar keadaan tubuhnya hanya karena takut pada pertanyaan keluarga.