Inara memperhatikan tangan petugas yang sedang merapikan keperluan pemeriksaan. Kepalanya tidak lagi terasa sekosong ketika membuka mata di toko, tetapi kejadian itu masih muncul sebagai potongan-potongan yang sulit disusun. Ia ingat hendak meraih meja, kemudian suara Abi menjadi lebih dekat daripada tempat lelaki itu berdiri sebelumnya.
'Saya dokter Salma,' ujar perempuan yang kemudian menghampirinya. 'Kalau sudah cukup nyaman, kita bicarakan apa yang dirasakan tadi.'
Inara mengangguk. Ia menjawab tentang mual, makanan yang sulit masuk, dan rasa ringan di kepala. Ketika ragu mengingat urutannya, ia berhenti dan meminta waktu. Dokter Salma menunggu sebelum mengajukan pertanyaan berikutnya.
Abi berada di dekat pintu. Ia hanya menambahkan apa yang benar-benar dilihat ketika diminta menjelaskan. Selebihnya ia membiarkan Inara berbicara sendiri, termasuk saat pertanyaan mulai mengarah pada keadaan yang selama ini disembunyikan dari keluarganya.
Inara memandang Abi, lalu kembali kepada dokter.
'Ada yang ingin saya sampaikan tanpa orang tua saya.'
'Mereka sudah di sini?'
'Masih dalam perjalanan,' jawab Abi.
Dokter Salma menanyakan siapa yang diinginkan Inara untuk mendampinginya. Pertanyaan itu membuat perempuan tersebut terdiam sebentar. Selama perjalanan ia membayangkan semua orang akan masuk dan memperoleh jawaban bersamaan, tanpa ada kesempatan memilih bagian yang ingin disampaikannya sendiri.
'Abi boleh di sini,' katanya akhirnya. 'Untuk sekarang hanya dia.'
Abi mengangguk ketika dokter memastikan ia mendengar pilihan tersebut. Ia tidak menafsirkan izin itu sebagai hak untuk menjawab semua pertanyaan atas nama istrinya. Ketika diperlukan, ia membantu mengambil barang dari tas setelah Inara menunjuk apa yang dibutuhkan.
Percakapan selanjutnya berlangsung lebih pelan. Inara menyampaikan bahwa ia sedang hamil dan belum pernah membicarakannya dengan orang tuanya. Ia menjelaskan hal yang perlu diketahui dokter tanpa mengulang kejadian yang belum sanggup diceritakan panjang.
Dokter Salma tidak meminta Abi memberikan pengesahan atas jawaban istrinya. Ia menanyakan pemeriksaan yang pernah dijalani dan keluhan yang muncul, kemudian menjelaskan bagian penilaian yang masih perlu dilanjutkan. Inara mendengar bahwa mereka belum akan membuat kesimpulan hanya berdasarkan pingsan di toko.
'Saya ingin diperiksa,' katanya. 'Saya cuma belum siap kalau semua pertanyaan langsung disampaikan kepada keluarga.'
'Kita bicarakan denganmu dulu. Kalau ada yang perlu disampaikan bersama, kamu dapat mengatakan siapa yang ingin dihadirkan.'
Inara mengangguk lagi, kali ini lebih jelas. Abi melihat jemarinya yang sejak tadi menekan sisi alas mulai sedikit melonggar. Ia tidak menjanjikan bahwa percakapan dengan orang tua akan mudah, tetapi setidaknya saat ini ada ruang untuk mendengar kondisi dirinya sebelum menghadapi reaksi siapa pun.
Di luar ruangan, Kiai Ammar dan Umi Hanik tiba setelah perjalanan dari rumah. Abi keluar ketika dipanggil dan mendapati keduanya menunggu dengan wajah cemas. Ia memberitahukan bahwa Inara sudah dapat berbicara dan dokter masih melakukan penilaian.
'Kami boleh masuk?' tanya Umi.
'Saya tanyakan dahulu, Mi. Tadi Inara ingin menjelaskan beberapa hal kepada dokter.'
Kiai memandang pintu, lalu mengangguk. Ia masih ingin mengetahui penyebabnya, tetapi Abi hanya menyampaikan keluhan yang sudah disebutkan Inara di rumah serta kejadian yang dilihatnya di toko.
'Belum ada penjelasan akhir dari dokter, Abah. Saya tidak ingin menambahkan dugaan.'
Umi duduk setelah Kiai menunjuk kursi kosong. Abi menanyakan apakah keduanya membawa barang yang diperlukan selama menunggu, lalu memastikan tas dan ponsel istrinya tetap tersimpan bersamanya, tidak tertinggal di tangan orang yang membantu perjalanan tadi. Semua sudah berada di tempat yang dapat dijangkau jika diminta.
'Belakangan masih sering bicara seperti biasa,' ucap Umi. 'Aku kira dia hanya tidak menyukai bau makanan.'
Kiai mendengarkan tanpa langsung menyalahkan siapa pun. Ia menanyakan apakah Abi sudah menghubungi toko mengenai barang dan pekerjaan yang ditinggalkan. Abi mengatakan sudah ada orang yang menerima penjelasan, sehingga ia tidak perlu kembali sekarang.
'Kalau ada yang harus diambil, nanti minta bantuan. Kamu tetap di sini dahulu,' pesan Kiai.
Abi mengangguk. Selama beberapa saat ia dapat melepaskan kekhawatiran bahwa meninggalkan pekerjaan akan menjadi persoalan lain. Umi kemudian meminta agar Inara diberi tahu mereka tidak akan pulang tanpa kabar lebih lanjut. Ia tidak perlu memburu anaknya masuk ke ruangan hanya untuk memastikan bahwa ia masih menunggu.
Abi menyanggupi. Ia berdiri ketika petugas kembali memanggil, membawa pesan sederhana itu kepada istrinya, sementara Kiai duduk di samping Umi untuk menemani penantian yang belum memperoleh jawaban.
Ketika kembali ke dalam, ia mengatakan orang tua Inara sudah tiba. Perempuan itu menatap pintu, kemudian menarik napas sebelum meminta beberapa saat lagi. Abi menyampaikan permintaan tersebut tanpa mengubahnya menjadi larangan yang datang dari dirinya.
Dokter Salma menjelaskan rencana pemeriksaan berikutnya. Inara diberi kesempatan bertanya, termasuk tentang siapa yang akan berada di ruangan dan apa yang dapat diketahuinya dari pemeriksaan tersebut. Ia tidak mendapat janji bahwa semua kekhawatiran akan hilang setelah satu alat digunakan.
'Aku ingin kamu tetap di sini,' kata Inara kepada Abi ketika dokter memberi mereka waktu sebentar.
'Aku menunggu di tempat yang diperbolehkan.'
'Kalau Umi bertanya kenapa lama?'
'Aku bilang kamu masih diperiksa. Itu memang yang sedang terjadi.'
Inara mengangguk. Ia memandang tas di samping kursi dan meminta ponselnya. Abi menyerahkannya tanpa membuka layar. Perempuan itu tidak mengirim pesan kepada Radit. Ia hanya memastikan tidak ada urusan mendesak, kemudian mengembalikannya untuk disimpan.
'Terima kasih tadi sudah berhenti bekerja,' ucapnya.
Abi sempat ingin mengatakan itu bukan hal yang perlu diberi ucapan terima kasih. Namun, ia melihat betapa susahnya kalimat tersebut keluar dan memilih menerimanya saja.
'Pekerjaannya sudah diserahkan. Kamu tidak perlu memikirkan barang yang tertinggal di toko sekarang.'
Inara memejamkan mata sebentar, bukan untuk mengakhiri percakapan, melainkan memberi dirinya kesempatan berhenti mengawasi semua pintu. Di luar, kedua orang tuanya masih menunggu. Di dalam, ia telah menyatakan apa yang diperlukan dan siapa yang boleh mendengarnya. Pemeriksaan berikutnya akan dilakukan setelah penjelasan itu, bukan dengan menjadikan kebisuannya sebagai persetujuan.