Kamis pagi Inara masih dapat berjalan masuk ke UD Ammar Jaya bersama Abi. Mereka telah membicarakan rencana pemeriksaan, tetapi sebelum berangkat ada pekerjaan toko yang perlu diserahkan kepada orang lain. Abi mengatakan tidak akan lama. Inara memilih duduk dahulu karena berdiri di antara barang yang sedang dipindahkan membuat kepalanya terasa ringan.
'Kalau tidak nyaman, bilang sekarang,' ujar Abi.
'Aku duduk saja. Kamu selesaikan yang perlu disampaikan.'
Abi memastikan tempat duduknya tidak menghalangi jalan, lalu menghampiri orang yang akan menerima pekerjaan. Ia belum jauh ketika mendengar suara sesuatu bergeser. Saat menoleh, ia melihat tangan Inara berusaha meraih sisi meja sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan.
'Non!'
Ia bergegas mendekat. Seseorang di dekat mereka membantu menahan kursi, sementara Abi menopang agar tubuh Inara tidak membentur lantai. Mata perempuan itu terpejam dan ia tidak menjawab panggilan pertama.
Kegelisahan segera memenuhi bagian toko tersebut. Ada yang hendak membawa minum, ada yang bertanya perlu memanggil Kiai. Abi meminta ruang di sekitar Inara dikosongkan, lalu mengajak mereka mengupayakan pertolongan medis segera. Ia tidak mencoba membuat istrinya menelan sesuatu ketika belum dapat menjawab.
'Tolong bantu hubungi fasilitas terdekat. Kami perlu tahu harus membawanya ke mana sekarang.'
Orang yang memegang telepon menyampaikan keadaan yang terlihat. Abi mengikuti petunjuk yang diberikan dan meminta bantuan agar mereka tidak memindahkan tubuh Inara sembarangan. Di antara suara yang tumpang tindih, ia terus memanggil namanya dengan pelan, menunggu tanda bahwa perempuan itu dapat mendengar.
Inara akhirnya menggerakkan kepala sedikit. Pandangannya terbuka, tetapi belum tampak memahami tempatnya berada. Ia berusaha bangkit dan segera berhenti ketika Abi mengatakan agar tidak terburu-buru.
'Kamu tadi jatuh lemas. Kita cari bantuan sekarang.'
'Aku...'
'Tidak perlu menjelaskan dulu.'
Inara berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum tubuhnya melemah. Ia sempat melihat orang-orang yang berdiri di sekitarnya dan mencari wajah yang dikenali. Ketika menemukan Abi, ia memusatkan perhatian pada suara lelaki itu sampai pertanyaan dari arah lain tidak lagi terdengar sama kerasnya.
'Tasku di mana?'
'Ada. Sebentar akan dibawakan.'
'Aku belum... tadi pekerjaanmu...'
'Sudah ada yang mengurus.'
Abi tidak menyebut barang yang masih menunggu atau siapa yang perlu diminta menggantikannya. Hal-hal itu dapat dibereskan melalui satu penjelasan kepada orang yang berdiri di samping, tanpa meminta Inara ikut memutuskan. Ia menoleh sebentar untuk memastikan bantuan perjalanan sedang disiapkan, lalu kembali memperhatikan istrinya.
Inara berhenti mencoba bangkit. Untuk pertama kalinya pagi itu ia membiarkan orang lain menahan kegiatan yang belum selesai, meskipun wajahnya masih menunjukkan kegelisahan karena tidak dapat mengaturnya sendiri.
Abi melihat ketakutan di wajahnya dan menduga ia sedang memikirkan orang yang mungkin mengetahui kehamilan. Namun, dugaan itu tidak boleh menunda pertolongan. Ia memberitahukan bahwa mereka akan menuju tempat yang telah dihubungi dan seseorang sedang membantu menyiapkan kendaraan.
Ia meminta agar barang Inara dikumpulkan tanpa membuka isinya. Tas diserahkan kepadanya, lalu ia menanyakan apakah istrinya sudah cukup sadar untuk mendengar rencana perjalanan. Inara mengangguk lemah ketika disebutkan bahwa petugas akan memeriksanya lebih dahulu.
'Aku ikut,' kata Abi. 'Pekerjaan tadi sudah diserahkan.'
Ia tidak membiarkan dirinya sibuk menjelaskan urusan toko ketika Inara masih tampak kesulitan memusatkan pandangan. Bantuan yang telah diminta membuat mereka dapat berangkat tanpa Abi harus sekaligus menopang istrinya dan mengemudikan kendaraan. Barang serta kunci yang tidak dibawa dititipkan kepada orang yang membantu, dengan penjelasan siapa yang akan mengambilnya kemudian.
Di perjalanan, Inara beberapa kali bertanya apakah ayahnya sudah diberi tahu. Abi mengatakan ia akan mengabarkan lokasi tujuan dan keadaan yang benar-benar diketahui, bukan membuat penjelasan sendiri tentang penyebabnya.
'Jangan bilang macam-macam,' bisiknya.
'Aku bilang kamu lemas dan perlu diperiksa. Nanti kamu bisa menentukan apa lagi yang ingin kamu sampaikan ketika sudah lebih kuat.'
Abi memegang tas di pangkuan dan mengawasi wajah Inara. Ia tidak mengatakan bayi pasti baik-baik saja, karena ia belum tahu. Ia juga tidak meminta istrinya berhenti takut seolah rasa takutlah satu-satunya hal yang membuat tubuhnya melemah.
Sesampainya di fasilitas pelayanan, mereka segera meminta bantuan. Abi menyampaikan bahwa Inara sempat tidak merespons, lalu menjelaskan urutan kejadian di toko. Ketika ditanya tentang keluhan sebelumnya, ia menyebut mual yang mengganggu makan dan rencana pemeriksaan yang sudah mereka bicarakan.
'Istri saya bisa menjelaskan lebih lengkap setelah mampu,' tambahnya.
Petugas mengambil alih penanganan. Abi mengikuti sampai batas yang diperbolehkan, kemudian menunggu arahan. Baru setelah Inara berada dalam pengawasan, ia menghubungi Kiai Ammar. Tangannya terasa lebih kaku saat menekan nama itu daripada ketika menyerahkan barang kerja pagi tadi.
'Abah, Inara tadi lemas di toko. Sekarang sudah dibawa untuk diperiksa.'
Ia menyebut nama tempat dan menjawab pertanyaan tentang keadaannya saat terakhir dilihat. Ia tidak menyatakan penyebab yang belum diketahui. Kiai mengatakan akan datang dan mengabari Umi, lalu meminta Abi tetap berada di sana.
Panggilan berakhir sebelum pembicaraan berubah menjadi tuduhan tentang siapa yang seharusnya lebih cepat menyadari sesuatu. Abi menyimpan ponsel dan memperhatikan pintu ruangan tempat istrinya sedang ditangani. Janji mereka kemarin tentang pemeriksaan kini benar-benar dijalankan, melalui kejadian yang jauh lebih menakutkan daripada yang dibayangkannya.
Ketika namanya dipanggil, Abi segera berdiri. Ia diminta membantu melengkapi informasi dan memastikan barang pasien tersimpan. Ia memeriksa bahwa ponsel serta tas Inara tetap bersamanya, lalu menyampaikan semuanya tanpa mengambil keputusan yang seharusnya dapat dijawab pasien sendiri.
Inara sudah lebih sadar saat ia diizinkan melihatnya sebentar. Perempuan itu menoleh ke arah pintu dan menemukan wajah Abi. Ia tidak menanyakan pekerjaan toko lagi. Yang pertama ditanyakannya adalah apakah orang tuanya sedang menuju tempat itu.
'Iya,' jawab Abi jujur. 'Mereka tahu kamu perlu diperiksa. Yang lain belum kubicarakan.'
Inara menutup mata sejenak, kemudian membukanya lagi ketika petugas mendekat. Abi memberi ruang. Saat itu yang dapat dilakukannya adalah tetap tersedia, mendengarkan arahan, dan tidak menjadikan ketakutannya sendiri beban tambahan bagi orang yang sedang berbaring.