Bibik Ndari meletakkan hidangan di meja ketika Inara turun bersama Abi. Sejak kembali dari cuti pada Senin, perempuan itu sudah mulai mengambil alih lagi pekerjaan dapur yang sempat dikerjakan penghuni rumah secara bergantian. Pagi Rabu ini ia memastikan minuman yang disukai keluarga berada di tempatnya sebelum kembali memeriksa masakan.
'Kalau ada yang kurang cocok, bilang saja, Non,' katanya kepada Inara.
Inara mengangguk dan mengambil tempat. Ia sebenarnya merasa lapar ketika masih di kamar. Namun, aroma masakan yang kini begitu dekat membuat ia berhenti sebelum sendok menyentuh piring.
'Tidak jadi ambil lauk itu?' tanya Abi.
'Nanti.'
Abi tidak memindahkannya ke piring Inara. Ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri, lalu menyisihkan tempat agar gelas istrinya mudah dijangkau. Di seberang mereka, Umi Hanik memperhatikan Inara yang hanya mengambil sedikit.
'Masih mengantuk?'
'Sedikit, Mi.'
Inara belum ingin percakapan tentang mual berkembang menjadi pertanyaan lain. Ia menelan beberapa suap dan berusaha mengalihkan perhatian kepada Bibik yang kembali membawa sesuatu dari dapur. Tetapi setelah minum, rasa tidak nyaman itu justru naik sampai ke tenggorokan.
Ia meletakkan sendok dan berdiri.
'Sebentar, saya ke belakang.'
Abi ikut bangkit, lalu berhenti ketika Inara mengangkat telapak tangan bahwa ia masih bisa berjalan sendiri. Ia membiarkannya menuju kamar mandi dan menunggu sebentar sebelum mengikuti sampai jarak yang tidak menghalangi pintu.
'Perlu air?'
Jawaban Inara tidak langsung terdengar. Abi menunggu, lalu mendengar ia mengatakan boleh. Ia mengambil gelas bersih dan kembali setelah memastikan airnya tidak panas.
Ketika pintu terbuka, wajah Inara lebih pucat. Ia menerima gelas dan berkumur sebelum meminum sedikit. Abi menunjuk kursi di dekat ruangan yang lebih lapang agar ia tidak perlu terus berdiri.
'Mau duduk dahulu?'
Inara mengangguk. Ia duduk dan meletakkan gelas pada permukaan yang dapat dijangkaunya. Abi berjongkok sebentar untuk mengambil tisu yang terjatuh dari tangan, lalu menyerahkannya tanpa komentar tentang makan yang belum selesai.
'Sejak kapan terasa tidak nyaman?'
'Dari dekat meja tadi. Semalam sudah lebih baik.'
'Kita menemui dokter, ya? Kamu ingin siapa yang menemani?'
Inara mengusap sudut bibirnya. Ia memandang arah ruang makan, khawatir tawaran itu akan terdengar oleh orang tuanya sebelum ia sempat memikirkan jawaban.
'Jangan bicara keras-keras.'
Abi menurunkan suara. Ia tidak mengatakan bahwa berbisik akan menyelesaikan keadaan tersebut.
'Aku tidak mau asal menebak kalau mualnya terus mengganggu makan. Kita bisa mencari waktu pemeriksaan. Kalau sekarang makin buruk, jangan menunggu jadwal yang kita inginkan.'
'Aku belum ingin Abah dan Umi ikut bertanya macam-macam.'
'Kita bisa memikirkan apa yang ingin kamu sampaikan. Tapi yang memeriksa tetap perlu mengetahui keadaanmu dengan benar.'
Inara menatap gelas. Selama ini ia lebih sibuk memastikan orang lain tidak mengetahui kehamilan daripada menyiapkan bagaimana dirinya sendiri akan menjalani pemeriksaan. Mendengar tawaran itu membuat hal yang selama ini ditunda terasa semakin dekat.
'Kamu bisa menemani?' tanyanya.
'Bisa kalau kamu memilih begitu. Aku atur pekerjaan yang perlu dibereskan.'
'Jangan sampai kamu bilang aku tidak sanggup apa-apa.'
'Aku akan bilang kamu mau memeriksakan keluhan. Itu saja yang perlu kubicarakan soal pekerjaan.'
Inara mengangguk. Ia belum menentukan fasilitas atau jam, tetapi sekarang ada persetujuan untuk mencari pemeriksaan, bukan sekadar saling mengatakan agar lebih banyak beristirahat.
Umi datang tidak lama kemudian dan bertanya apakah Inara masih ingin sarapan. Perempuan itu menjawab akan mencoba makanan yang lebih ringan setelah duduk sebentar. Bibik menawarkan menyiapkannya, lalu menunggu jawaban tentang apa yang dapat diterima perutnya.
'Sedikit saja, Bik. Jangan yang baunya kuat.'
Bibik mengangguk dan kembali ke dapur. Inara memperhatikan bahwa tidak ada orang yang mendesaknya menghabiskan piring semula. Ia merasa sedikit lega, meskipun keluhannya belum sepenuhnya hilang.
Ketika kembali ke kamar untuk mengambil barang, ia mendengar Abi bertanya apakah ia masih ingin ikut ke toko sesuai rencana. Inara mengatakan masih ingin, sambil berjanji akan memberi tahu jika tidak kuat. Abi meminta agar rencana pemeriksaan tidak dibatalkan hanya karena ia sempat merasa lebih baik.
'Aku tidak membatalkannya,' jawabnya. 'Nanti kita cari waktunya.'
'Kalau kamu lebih nyaman pergi setelah pekerjaan besok diatur, kita rencanakan begitu. Tapi kalau sebelum itu keluhanmu memburuk, kita berangkat lebih cepat,' kata Abi.
Inara menimbang jawabannya. Ia tidak ingin setiap rasa mual berubah menjadi kepanikan keluarga, tetapi pagi ini ia pun kesulitan menghabiskan beberapa suap makanan. Akhirnya ia menyanggupi rencana pemeriksaan untuk keesokan hari, selama pendampingnya dibicarakan dahulu dan ia tidak dibawa bertemu banyak orang tanpa penjelasan.
'Kamu yang bicara kepada petugas tentang keluhanmu. Aku membantu yang kamu perlukan,' ujar Abi.
Setelah Inara menyanggupi, Abi mengambil barang kerja sendiri, lalu menunggu Inara menyelesaikan persiapannya. Mereka baru menikah sekitar tiga minggu, dan sebagian besar kebiasaan masih harus dibicarakan dengan kalimat yang tidak selalu mudah keluar. Tawaran menemani pagi ini pun tidak serta-merta membuat Inara terbiasa meminta pertolongan.
Sebelum keluar, perempuan itu memeriksa ponsel dan memasukkannya ke tas. Tidak ada pesan yang wajib dijawab saat itu. Ia justru menoleh kepada Abi yang sedang menata kembali kasur lipatnya agar jalur kamar tidak terhalang.
'Bi, kalau nanti aku bilang tidak nyaman lagi, jangan suruh aku menunggu sampai semua urusan toko selesai.'
Abi menghentikan tangannya dan menatapnya.
'Kita berhenti dan cari bantuan. Pekerjaan bisa diatur orang lain.'
Inara mengangguk, kali ini tanpa menambahkan bantahan. Janji itu menjadi hal yang dibawanya keluar kamar bersama barang-barang yang telah disiapkan, bukan keputusan tentang seluruh masa depan mereka.
Sesampainya di ruang depan, Abi meletakkan barang kerjanya sebentar untuk mengambil air yang dapat diminum Inara di perjalanan. Ia menawarkan botol itu, tidak langsung memasukkannya ke tas istrinya. Inara mengambilnya sendiri dan menaruhnya di tempat yang mudah dijangkau. Ia menunggu suaminya mengangkat kembali barang kerja, kemudian berjalan bersamanya keluar rumah. Untuk pagi ini mereka masih melanjutkan kegiatan, dengan rencana pemeriksaan yang tidak lagi sekadar disebut sambil lalu.