Selasa malam, Inara membaca pesan Radit dua kali sebelum meletakkan ponsel. Lelaki itu menanyakan apakah mereka dapat berbicara lagi. Tidak ada penjelasan tentang apa yang hendak dibicarakan, hanya pertanyaan pendek yang membuatnya mengingat telepon seminggu sebelumnya.
Ia belum membalas ketika Abi masuk. Suaminya membawa barang kerja yang kemudian diletakkan di tempat biasa. Inara membalik layar ponsel menghadap meja dan berdiri untuk mengambil pakaian yang sudah dilipat.
'Ada waktu sebentar?' tanya Abi.
Inara berhenti. Ia menatap barang di tangan Abi, seakan perlu memastikan lelaki itu benar-benar sudah selesai dengan pekerjaannya sebelum menjawab.
'Tentang hari Minggu?'
'Ada satu hal yang baru kutahu ketika bicara dengan Mas Radit.'
Inara meletakkan pakaian kembali. Ia duduk di kursi, sedangkan Abi tidak langsung mengambil tempat di hadapannya. Ia menanyakan apakah Inara sudah makan dan mendapatkan anggukan sebelum meneruskan.
'Dia mengatakan pernah meneleponmu Selasa lalu.'
'Iya.'
'Aku tidak tahu waktu itu.'
'Kamu memang tidak ada saat dia menelepon.'
Abi mengangguk. Ia mengambil kursi satunya dan duduk tanpa menyentuh ponsel di meja. Inara memperhatikan arah pandangnya, mengira ia akan meminta melihat riwayat panggilan atau membaca isi pesan yang baru datang.
'Kamu ingin memeriksa teleponku?'
'Tidak. Aku ingin mendengar darimu apa yang perlu kuketahui.'
Inara menyilangkan tangan, lalu melepaskannya lagi. Ia tidak menyukai bahwa percakapan yang dihentikannya sendiri kini muncul sebagai hal yang harus dijelaskan kepada orang lain.
'Dia bertanya apa yang sudah kuceritakan kepadamu. Lalu membicarakan pertemuan keluarganya dengan Husna.'
'Dia bilang masih mencoba menghubungimu, tapi kamu menutup telepon.'
'Karena aku tidak ingin terus menjawab pertanyaan tentang apa yang kamu tahu. Dia tidak menelepon untuk memberikan jawaban yang kutunggu.'
Abi menunduk sebentar. Pernyataan itu berbeda dari gambaran singkat yang diberikan Radit di teras. Ia bersyukur tidak langsung menjadikannya alasan mempersalahkan Inara ketika baru pulang Minggu.
'Aku sudah mengatakan kepadanya, aku tidak mendengar percakapannya, jadi aku tidak akan menilainya hanya dari satu kalimat.'
'Lalu kenapa masih ditanyakan?'
'Karena nama adikku disebut juga. Aku ingin tahu apakah ada yang diminta darimu tentang dia.'
Inara menggeleng. Ia menceritakan bahwa dirinya justru menuntut Radit berhenti menganggap diam sebagai jawaban. Ia tidak menjanjikan dukungan untuk hubungan dengan Husna, tidak pula membuat kesepakatan tentang apa yang akan disampaikan Abi.
'Aku tidak sengaja menyembunyikan rencana yang akan merugikan adikmu,' katanya. 'Aku cuma belum sanggup menceritakan lagi percakapan yang membuatku kesal.'
'Aku mengerti bedanya.'
'Kamu terdengar seperti tidak percaya.'
Abi memandangnya. Ia teringat betapa lama menunggu di antara Minggu dan malam ini agar pertanyaan tersebut tidak keluar sebagai tuduhan. Ternyata kehati-hatian tidak otomatis membuat orang lain mendengarnya dengan cara yang sama.
'Aku masih kesal kepada dia. Bukan berarti aku boleh mengambil ponselmu untuk mencari pembenaran.'
Inara mengalihkan wajah. Ponsel itu bergetar lagi, kali ini memperlihatkan pemberitahuan pesan yang belum dibaca. Ia meraihnya dan membaca dalam diam sebelum menaruhnya kembali.
'Dia baru bertanya bisa bicara lagi atau tidak.'
'Kamu mau menjawab?'
'Belum.'
'Kalau begitu tidak perlu dijawab sekarang.'
Jawaban tersebut membuat Inara memandang Abi lagi. Ia tadi hampir menyiapkan pembelaan tentang haknya menerima pesan. Tidak mendengar larangan justru membuat ia harus mempertimbangkan keinginannya sendiri, tanpa menjadikan Abi alasan menolak ataupun menerima.
'Kalau aku menerima panggilan, bukan berarti aku mau kembali dengannya.'
'Aku tidak mengatakan begitu.'
'Aku tahu. Aku cuma ingin jelas.'
Abi mengangguk. Ia kemudian menjelaskan satu bagian percakapan di teras yang perlu diketahui Inara: ia sudah mengatakan bahwa Radit tidak boleh memakai nama Abi atau Husna untuk memaksanya berbicara. Ia tidak memberikan jaminan bahwa perkenalan akan berlanjut jika Radit menunjukkan perubahan.
Inara mendengarkan dengan jemari berhenti bergerak di atas meja. Ia selama ini lebih sering memikirkan bagaimana menjaga rahasia daripada membayangkan seseorang menolak menjadikan dirinya jalan menuju keputusan keluarga.
'Husna tidak tahu?' tanyanya.
'Aku belum menceritakan pengakuanmu kepadanya. Tapi dia sudah cukup jelas mengatakan belum mengambil keputusan. Aku tidak akan mengubah jawaban itu menjadi janji untuk siapa pun.'
Inara mengangguk perlahan. Ia lalu mengetik balasan singkat kepada Radit bahwa malam ini tidak ingin berbicara. Ia membacanya sekali, mengirim, dan mengunci layar. Abi melihat gerakannya, tetapi tidak meminta kalimat itu dibacakan sebagai bukti.
'Sudah?' tanyanya ketika Inara meletakkan ponsel.
'Sudah. Aku bilang bukan malam ini.'
'Baik.'
'Kamu akan bilang kepada Husna bahwa aku menerima pesan lagi?'
Abi menggeleng. Ia mengatakan bahwa setiap pemberitahuan di ponsel Inara bukan laporan yang harus diteruskan kepada adiknya. Yang menjadi perhatiannya adalah keputusan yang akan memengaruhi Husna, bukan mengawasi siapa yang pertama menulis pesan.
Inara menatap layar yang kini gelap. Ia menyadari pertanyaannya tadi lahir dari ketakutan bahwa satu percakapan pribadi dapat segera dipindahkan ke meja keluarga seperti sebuah bukti. Penjelasan Abi tidak membuat kekhawatiran itu hilang seluruhnya, tetapi ia tidak lagi menggenggam ponsel seakan benda itu akan dirampas.
'Kalau ada hal yang membuatmu khawatir soal Husna, tanyakan langsung,' katanya.
'Itu yang sedang kucoba lakukan malam ini.'
Inara mengangguk. Ia menggeser kursinya mundur dan berdiri setelah percakapan benar-benar berhenti, bukan untuk menghindari jawaban berikutnya.
Percakapan mereka tidak mengubah jarak tempat tidur malam itu. Abi masih membuka kasur lipatnya sendiri, dan Inara masih naik ke ranjang setelah mematikan lampu yang tidak diperlukan. Akan tetapi, pertanyaan yang ditunda sejak Minggu akhirnya telah disebutkan tanpa harus diselesaikan melalui pertengkaran di depan keluarga.
Sebelum berbaring, Inara menatap meja sekali lagi. Ia baru menyadari bahwa sejak awal Abi tidak pernah memindahkan ponselnya. Benda itu tetap di tempat ia meletakkannya sendiri. Keputusan menerima pesan berikutnya pun masih berada padanya, beserta akibat yang perlu dipikirkannya.
Di lantai, Abi menarik bedcover sampai menutupi kakinya. Ia tidak menganggap satu percakapan tenang berarti persoalan mereka sudah selesai. Namun, setidaknya malam ini ia mengetahui apa yang benar-benar telah dikatakan, dan tidak lagi harus mengisinya dengan dugaan.