Ratih menyampaikan keinginannya berpamitan setelah percakapan kembali ke ruang depan. Maya tidak menahannya lebih lama. Mereka masih mempunyai waktu untuk menutup kunjungan dengan tenang sebelum kegiatan berikutnya, dan Husna sudah cukup lama duduk menemani tamu.
'Terima kasih sudah meluangkan waktu,' kata Ratih kepada gadis itu. 'Kalau ada yang ingin ditanyakan lagi, nanti bisa dibicarakan.'
'Iya, Tante. Terima kasih juga sudah datang.'
Radit mengucapkan hal serupa. Husna membalas dengan sopan tanpa menambahkan janji pertemuan baru. Abi memperhatikan, merasa lega karena tidak ada yang mendesak adiknya menentukan perasaan saat itu juga.
Mereka mengantar sampai pintu. Bawaan yang tadi sudah diterima tidak dipindahkan kembali ke tangan tamu. Ratih mengambil tasnya, sedangkan Radit memastikan kunci Ferrari berada di sakunya sebelum berjalan menuju mobil.
'Hati-hati di jalan,' ucap Maya.
'Kami mengantar Mama pulang dahulu,' kata Radit.
Abi mengangguk. Ia berdiri bersama keluarganya sampai kendaraan itu meninggalkan depan rumah. Setelah suara mesinnya menjauh, Husna menarik napas panjang dan kembali masuk untuk mengangkat gelas.
'Biar saya bantu,' Inara menawarkan.
Husna memberinya nampan yang lebih ringan. Mereka membawa peralatan ke belakang, sementara Maya menanyakan kepada Abi apakah percakapannya dengan Radit berjalan baik. Lelaki itu menjawab bahwa ia memperoleh kesempatan bertanya, tetapi tidak meneruskan isi yang belum siap dibicarakan.
'Kamu jangan memberi harapan atas nama adikmu,' ujar Maya.
'Tidak, Bu. Saya justru mengatakan keputusan tetap di Husna.'
Maya mengangguk. Ia tidak menanyakan lebih jauh di depan putrinya ketika Husna kembali ke ruang depan. Gadis itu mengatakan ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan kuliah. Ibunya mempersilakan, dan kunjungan hari itu berhenti sebagai perkenalan yang belum memperoleh jawaban akhir.
Sebelum masuk kamar, Husna berhenti di dekat kakaknya. Ia mengatakan bahwa percakapan tadi membuatnya mempunyai lebih banyak pertanyaan daripada saat undangan diterima. Abi tidak langsung mengartikan itu sebagai kegagalan pertemuan.
'Yang mana yang masih ingin kamu ketahui?'
'Banyak. Tapi aku perlu memikirkan jawabannya sendiri dulu. Jangan sekarang disuruh menyebut kesimpulan.'
'Aku tidak akan meminta kesimpulan hari ini.'
Husna mengangguk, kemudian menatap Inara yang baru kembali dari belakang. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah datang menemani. Inara membalas singkat dan tidak mengatakan bahwa seluruh pertemuan berlangsung baik. Ia sendiri belum sanggup memberi penilaian itu.
Maya lalu mempersilakan putrinya beristirahat. Sesudah Husna masuk kamar, ia menyisihkan tempat hidangan yang belum digunakan agar tidak menghalangi jalan. Abi membantu memindahkannya, mengingat bahwa setelah satu pertemuan keluarga berakhir, rumah ini masih memiliki kehidupan yang tidak seluruhnya berhubungan dengan rencana pernikahan siapa pun. Buku kuliah Husna tetap menunggu, dan ibunya masih perlu menjalani sisa hari dengan tenang.
Di dalam Ferrari, Ratih duduk menghadap jalan. Beberapa kali ia hendak menanyakan pembicaraan di teras, tetapi Radit lebih dahulu mengajak membahas jalan yang akan dilalui. Ia tidak menyukai pengalihan itu, namun menunggu sampai kendaraan berhenti sebentar di lampu lalu lintas sebelum bertanya.
'Kamu senang bisa bicara dengan Husna?'
'Iya, Ma.'
'Kalau ada yang belum siap kamu jelaskan, jangan membuatnya menunggu hanya karena kamu tidak ingin mengecewakan Mama.'
Radit memegang kemudi lebih erat. Ucapan itu hampir sama dengan yang baru didengarnya dari Abi, meski ibunya tidak mengetahui alasan lain di belakangnya. Ia menjawab bahwa ia mengerti, lalu melanjutkan perjalanan ketika lampu berubah.
Ia mengantar Ratih sampai rumah sewa yang ditempati ibunya. Setelah memastikan Ratih turun dan membawa tas, ia tidak ikut tinggal. Ia mengatakan hendak kembali ke apartemen, lalu memisahkan perjalanan berikutnya dari kunjungan yang sudah selesai.
Di apartemen, Radit meletakkan kunci dan duduk tanpa menyalakan apa pun. Ponselnya tidak menampilkan pesan baru dari Inara. Ia sempat membuka nama perempuan itu, tetapi ucapan Abi tentang hak menolak panggilan membuatnya berhenti sebelum menekan tombol.
Sementara itu Abi dan Inara meninggalkan rumah Maya setelah memastikan tidak ada yang perlu diantar. Mereka berpamitan sekali, membawa salam untuk keluarga Kiai, kemudian pulang memakai motor yang sejak datang diparkir Abi di depan. Inara memasang helmnya sendiri dan mengatakan sudah siap sebelum kendaraan dijalankan.
Di perjalanan Abi tidak mencoba bertanya tentang telepon Selasa. Ia masih mengingat betapa mudah orang mengira pertanyaan harus segera dijawab hanya karena sudah diajukan. Ia ingin mendengar penjelasan Inara, tetapi bukan sambil membagi perhatian dengan kendaraan di sekitarnya.
Ketika kepalanya terasa penuh, ia memilih berhenti di tempat yang aman. Sesudah mesin dimatikan, ia melepaskan helm dan mengusap wajah. Inara turun, memperhatikan bahwa mereka belum tiba di rumah.
'Ada apa?'
'Aku perlu berhenti sebentar. Pikiranku masih ke mana-mana.'
'Tentang pembicaraan tadi?'
'Iya. Nanti kita bicarakan ketika sudah tenang.'
Inara tidak menebak-nebak isi percakapan itu. Ia berdiri di dekat motor sambil memperhatikan lalu lintas. Abi menunggu sampai ia dapat memusatkan perhatian kembali sebelum mengenakan helm dan menyalakan mesin.
Mereka tiba di rumah tanpa singgah lagi. Setelah berganti pakaian dan menunaikan keperluan masing-masing, Inara masuk kamar lebih dahulu. Abi menaruh kunci motor, menyampaikan salam Maya kepada keluarga, lalu kembali menjalankan kegiatan hari itu tanpa menjadikan percakapan di teras bahan cerita.
Malamnya, ia menyiapkan keperluan untuk bekerja Senin. Inara melihatnya memeriksa barang yang akan dibawa, kemudian melipat pakaian di kursi. Ada pertanyaan yang hampir keluar, tetapi ia menundanya ketika Abi mengatakan masih ingin merapikan pikirannya.
'Aku tidak akan melupakan pembicaraan itu,' ujarnya. 'Aku cuma tidak ingin memulainya dengan kesal.'
Inara mengangguk. Ia menaruh ponselnya di meja dan memeriksa jadwalnya sendiri. Tidak ada undangan baru yang harus dijawab malam itu. Untuk sementara, ia membiarkan kunjungan Minggu selesai sebagai satu hari yang sudah dilewati, bukan janji tentang hasil yang belum mereka miliki.
Abi membuka kasur lipat dan menata selimutnya setelah semua barang kerja tersimpan. Besok Senin ia masih harus datang bekerja. Persoalan yang lebih besar belum selesai, tetapi ia tidak ingin menjadikan kegelisahannya alasan untuk mengabaikan tanggung jawab yang sudah disanggupi.