'Untuk apa mamamu mengajakmu ke sini?'
Pertanyaan Inara membuat Radit memandangnya lebih lama. Ponsel di tangannya sudah berhenti bergetar. Ia memasukkannya ke saku, lalu bergeser mendekati sisi dinding agar mereka tidak menghalangi jalan.
'Makan. Kamu juga sedang makan bersama keluarga, kan?'
'Aku mendengar Tante Ratih bicara tentang putranya. Jangan menjawab seolah aku tidak duduk di meja itu.'
Radit mengembuskan napas. Ia belum sempat melihat sendiri siapa perempuan yang dipilih ibunya. Tadi ia hanya melihat Husna memasuki restoran bersama Maya, kemudian melihat Inara datang dengan seorang lelaki. Rasa ingin tahunya telah digantikan kebutuhan untuk bersembunyi sebelum ia dapat menyatukan semua hal itu.
'Mama ingin mengenalkanku dengan seseorang.'
'Husna?'
Nama tersebut membuat Radit berhenti bergerak.
'Kamu tahu?'
'Jadi benar Husna.'
Inara memejamkan mata sebentar. Percakapan dua ibu di meja tadi kini terdengar berbeda dalam ingatannya. Ia semula hanya ingin menuntaskan kewajiban menemani Abi, lalu segera pulang. Tidak pernah terlintas bahwa perempuan yang hendak dikenalkan Ratih kepada putranya adalah adik suami yang sedang menjalankan pernikahan kontrak dengannya.
'Aku belum bertemu dengannya untuk urusan itu,' kata Radit. 'Mama belum menjelaskan banyak.'
'Tapi kamu datang.'
'Aku diminta datang. Belum ada keputusan apa-apa.'
Inara menatapnya. Ia ingin percaya bahwa ketidaktahuan Radit tentang nama calon itu masih menyisakan batas yang belum dilanggar. Namun, lelaki tersebut sudah berada di restoran dan sedang memikirkan cara kembali kepada ibunya dengan wajah biasa, sementara ia harus menanggung keguncangan sendirian.
'Apa yang akan kamu katakan di sana?'
'Aku belum tahu.'
'Itu jawabanmu sejak tadi.'
Radit menekan bibir, menahan bantahan yang hampir keluar. Ia tidak suka diperiksa di lorong seperti ini. Akan tetapi, menyuruh Inara diam juga terasa lebih sulit setelah mendengar betapa jelas perempuan itu mengingat semua panggilan yang diabaikannya.
'Aku tidak sedang menjanjikan pernikahan kepada siapa pun.'
'Kalau begitu jangan membuat orang mengira kamu siap sebelum kamu sendiri tahu apa yang hendak kamu lakukan.'
Inara merendahkan suara ketika seseorang melewati mereka menuju toilet pria. Ia bergeser sampai punggungnya hampir menyentuh dinding. Radit menunggu orang itu masuk, kemudian memandang wajahnya lagi.
'Kamu mau membicarakan kita di meja?'
Pertanyaan itu membuat Inara tersenyum pendek, tanpa kegembiraan.
'Yang kamu takutkan itu?'
'Aku cuma bertanya.'
'Ada ibu dan adik Abi di sana. Ada mamamu. Aku tidak mau menjadikan mereka penonton pertengkaran kita.'
Radit tampak sedikit lega. Kelegaan itu justru membuat Inara menegakkan tubuhnya.
'Tapi jangan menganggap aku akan membantu kamu berpura-pura tidak pernah mengenalku.'
'Aku tidak meminta begitu.'
'Belum.'
Radit mengusap tengkuknya. Ia mulai memahami bahwa Inara tidak akan menerima begitu saja alasan sibuk, jarak, atau rencana yang belum diputuskan. Perempuan itu memang tidak hendak membuka rahasianya di tengah restoran, tetapi ia juga tidak bersedia memberi jaminan bahwa setelah makan semuanya boleh kembali diabaikan.
'Husna itu adik suamimu?'
'Iya.'
'Aku pernah bertemu dengannya, tapi tidak tahu...'
'Sekarang kamu sudah tahu.'
'Aku tidak merencanakan semua ini,' kata Radit.
'Aku sedang membicarakan apa yang akan kamu lakukan setelah tahu, bukan siapa yang memilih restorannya.'
Jawaban itu menghentikan penjelasan yang baru hendak disusunnya. Radit sempat ingin mengatakan bahwa ibunya terlalu cepat membuat rencana. Namun, nama Husna yang kini sudah disebut membuat alasan tersebut terasa semakin tipis. Ia dapat menolak ajakan ibunya sejak awal, atau setidaknya datang dengan kesediaan mengatakan terus terang bahwa ia belum siap. Ia justru berharap dapat memutuskan sesudah melihat perempuan yang ditawarkan kepadanya.
Inara mengamati wajahnya yang berubah muram. Ia tidak merasa puas telah membuat lelaki itu kehilangan jawaban. Ada bagian dirinya yang masih ingin mendengar satu keputusan yang jelas, sesuatu yang dapat dipercaya tanpa harus menunggu berminggu-minggu lagi. Akan tetapi, Radit hanya mengusap layar ponsel yang sudah gelap dengan ibu jarinya. Inara akhirnya memutuskan mengakhiri penantian kecil itu sendiri.
Inara tidak menanyakan rincian pertemuan mereka. Di kepalanya sudah terlalu banyak hal yang harus ditata sebelum kembali ke meja. Ia membayangkan Abi mengobrol dengan Ratih tanpa mengetahui mengapa istrinya terlalu lama berada di lorong. Ia juga membayangkan Husna menunduk ketika nama calon pasangan disebutkan, belum memahami persoalan yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya makan.
'Aku perlu masuk sebentar,' kata Inara sambil menunjuk pintu toilet perempuan.
'Nara, tunggu. Kita belum membicarakan bagaimana nanti...'
'Kamu tadi ingin menundanya. Sekarang aku benar-benar perlu ke toilet.'
Radit menarik tangannya yang sempat terangkat. Inara melihat gerakan itu, lalu melangkah melewatinya. Sebelum membuka pintu, ia berhenti sekali lagi.
'Jangan pergi dari restoran tanpa menemui mamamu. Aku tidak mau nanti ada orang mencarimu dan semua pertanyaan itu jatuh kepadaku.'
'Aku akan kembali ke meja.'
'Baik.'
Pintu menutup di antara mereka. Inara berdiri sejenak di depan wastafel, membiarkan air mengalir sampai jari-jarinya dingin. Ia membasahi ujung tisu dan menempelkannya di bawah mata, berhati-hati agar wajahnya tidak semakin menunjukkan kekacauan yang dirasakan.
Di dalam cermin, perempuan yang mengenakan pashmina moka itu tampak lebih tegang daripada saat meninggalkan meja. Inara merapikan sisi jilbab, mengambil napas, kemudian mencoba mengingat sesuatu yang sederhana: gelas minumnya berada di sebelah mana, tasnya sudah di tangan, dan ia masih harus kembali berjalan tanpa terburu-buru.
Ia tidak berkewajiban menyelesaikan seluruh kebohongan Radit sebelum makan berakhir. Namun, setelah mengetahui siapa calon yang hendak ditemuinya, Inara tidak dapat lagi menganggap kehadiran lelaki itu hanya urusan masa lalu mereka berdua.
Di luar, Radit membaca pesan ibunya yang menanyakan mengapa ia belum kembali. Ia mengetik bahwa akan segera datang, lalu menghapus tambahan alasan yang belum tentu dapat dijelaskannya. Ketika pintu toilet perempuan terbuka, ia sudah menyimpan ponsel.
'Aku masuk duluan,' kata Inara.
Radit mengangguk. Ia membiarkan Inara berjalan melewatinya, kemudian menunggu beberapa saat sebelum menyusul ke ruang makan. Kali ini tidak ada pintu lain yang dapat dipakainya untuk menghindar.