'Inara.'
Radit berhenti dengan satu tangan masih menyentuh pintu toilet pria. Tatapannya berpindah dari wajah Inara ke lorong di belakang perempuan itu, seolah ada jalan lain yang dapat dipilih tanpa melewatinya. Inara mengenali gerakan tersebut. Kali ini ia maju satu langkah sebelum lelaki itu sempat mencari alasan.
'Kamu sudah pulang.'
Kalimat yang selama ini hendak diucapkannya keluar begitu pendek. Padahal ada banyak pertanyaan yang pernah ia susun ketika panggilannya tidak dijawab. Di hadapan Radit sekarang, semuanya berdesakan dan membuat tenggorokannya terasa sempit.
'Belum lama,' jawab Radit.
'Kapan?'
'Beberapa hari lalu.'
Inara menunggu. Radit merapikan ujung lengan bajunya, lalu memandang pintu yang baru ditutupnya. Tidak ada pertanyaan tentang keadaan Inara. Tidak ada penjelasan mengapa kepulangannya harus diketahui melalui pertemuan seperti ini.
'Nomorku masih kamu simpan?'
'Nara, kita bicara nanti saja. Di sini banyak orang.'
'Waktu kamu pergi, kamu juga bilang nanti.'
Seorang pengunjung muncul dari ujung lorong. Inara bergeser agar orang itu dapat lewat. Radit memanfaatkan jeda tersebut untuk mengeluarkan ponsel, tetapi Inara tidak bergerak mendekatinya lagi. Ia menunggu sampai langkah pengunjung itu menghilang, kemudian berbicara dengan suara lebih rendah.
'Aku pernah menunggu kabarmu. Sekarang aku cuma ingin tahu kenapa kamu bisa pulang tanpa mengatakan apa pun.'
Radit memasukkan kembali ponselnya. Untuk sesaat wajahnya menunjukkan sesuatu yang hampir menyerupai kegugupan. Ia telah melihat Inara memasuki restoran bersama seorang lelaki, tetapi berharap dapat menghindari percakapan ini sampai menemukan cara untuk menjelaskan kehadirannya sendiri.
'Aku belum tahu harus mulai dari mana.'
'Dari telepon yang tidak pernah kamu jawab.'
'Aku sedang banyak urusan di sana.'
Inara mengusap telapak tangannya pada sisi tas. Jawaban itu terdengar terlalu ringan untuk semua malam yang pernah dihabiskannya memandangi layar. Ia tidak ingin mengulang seluruh percakapan lama di lorong restoran, tetapi Radit berdiri di hadapannya dengan wajah yang membuat penantian itu seolah cuma persoalan salah memilih waktu.
'Urusanmu selesai sampai kamu bisa pulang. Aku bahkan tidak diberi satu pesan.'
Radit menunduk. Dari ruang makan terdengar bunyi peralatan dan percakapan yang saling menimpa. Di sana ada ibunya, ada keluarga yang menunggunya datang, dan ada rencana yang belum berani disebutkannya kepada Inara.
'Aku pikir keadaanmu sudah...'
'Sudah apa?'
Radit tidak meneruskan kalimat itu. Pandangannya sempat turun, lalu cepat-cepat kembali ke wajah Inara. Gerakan kecil tersebut cukup membuat perempuan itu mengerti arah pikirannya.
'Aku sudah bilang sebelum kamu pergi. Aku akan mempertahankan kehamilan ini.'
'Aku tahu.'
'Lalu kenapa sekarang kamu melihatku seperti sedang mendengar kabar baru?'
Radit menarik napas melalui hidung. Ia tidak dapat mengatakan bahwa selama berada jauh, ia lebih sering memilih membayangkan persoalan itu sudah berhenti mengejarnya. Ucapan Inara dahulu tetap diingatnya. Yang sengaja tidak dipikirkannya adalah bahwa keputusan tersebut terus berjalan setiap hari, meskipun ia menolak menjawab telepon.
'Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini.'
'Aku juga tidak.'
Inara melirik ke arah ruang makan. Ia tadi meninggalkan meja untuk menjauh sebentar dari percakapan yang tidak sanggup diikutinya. Sekarang ia justru berhadapan dengan alasan mengapa hidupnya berubah begitu cepat. Di meja itu Abi masih duduk bersama ibu dan adiknya, menjalankan peran yang dibebankan kepadanya.
'Lelaki yang tadi bersamamu...' Radit menggantungkan ucapannya.
'Suamiku.'
Radit mengangkat wajah. Kata itu sebenarnya sudah menjadi kemungkinan sejak ia melihat mereka berjalan berdampingan. Mendengarnya langsung tetap membuat ia kehilangan jawaban yang hendak disiapkan.
'Kamu benar-benar menikah?'
'Aku pernah bilang aku akan mencari jalan untuk menghadapi ini. Kamu sudah tahu rencanaku.'
Inara menahan keinginan menjelaskan lebih jauh. Tidak ada alasan untuk membuka isi perjanjiannya dengan Abi di tempat yang dapat dilewati siapa saja. Ia juga tidak ingin Radit merasa cukup mendengar bahwa kini ada lelaki lain yang berdiri di sampingnya, lalu menganggap seluruh akibat perbuatannya telah berpindah tangan.
'Aku tahu kamu pernah mengatakannya,' jawab Radit akhirnya. 'Aku cuma belum membayangkan...'
'Karena kamu tidak bertanya lagi.'
Radit terdiam. Inara mengalihkan wajah sebentar, menelan rasa mual yang mulai naik. Ia belum menyentuh banyak makanan di meja. Wangi masakan yang merembes dari ruang makan kini bercampur dengan pengharum lorong dan membuatnya ingin segera masuk ke toilet.
'Kamu pucat,' kata Radit.
'Aku bisa mengurus diriku.'
Lelaki itu mengulurkan tangan, tetapi Inara menggeser tas ke depan tubuhnya. Radit menghentikan gerakannya sebelum menyentuh. Ada jarak kecil di antara mereka yang dahulu mungkin akan ditutup tanpa bertanya. Inara mempertahankan jarak itu sambil mengatur napas.
'Aku hanya mau membantu.'
'Kalau begitu jawab pertanyaanku dengan jelas. Jangan menghilang lagi setiap kali kamu tidak ingin bicara.'
Ponsel Radit bergetar di sakunya. Ia meraihnya, membaca nama yang muncul, lalu membalik layar ke arah tubuhnya. Inara menangkap kegelisahan pada wajah itu dan memandang ke arah ruang makan sekali lagi.
'Ada yang menunggumu?'
'Mama.'
Inara membeku. Nama Ratih yang baru dikenalnya di meja tiba-tiba mendapat tempat lain dalam percakapan ini. Ia mengingat cara wanita itu menoleh ke arah pintu, berulang kali menyebut putranya masih berada di toilet. Ia juga mengingat Husna yang duduk menunduk di samping Maya.
'Tante Ratih itu mamamu?'
Radit tidak langsung menjawab. Namun, keterlambatan itu justru menyelesaikan dugaan yang baru terbentuk di kepala Inara.
'Radit, jawab.'
'Iya.'
Radit menoleh ketika sebuah kursi bergeser di dekat pintu ruang makan. Inara mengikuti arah pandangnya, tetapi dari tempat mereka berdiri hanya terlihat sebagian meja pengunjung lain. Ia tidak tahu apakah Ratih akan menyusul mencari putranya. Namun, kegelisahan lelaki itu memperjelas bahwa ada sesuatu dalam jamuan ini yang hendak disembunyikannya juga. Inara menunggu sampai Radit kembali memandangnya sebelum melanjutkan.
Inara memegang tali tasnya lebih erat. Kemarahannya yang sejak tadi tertuju pada kepulangan tanpa kabar kini menemukan persoalan lain. Ia datang menemani keluarga Abi, dan Radit rupanya sedang ditunggu di meja yang sama.
'Kalau begitu,' katanya perlahan, 'kita belum selesai bicara.'