'Lama juga, Dek. Kamu baik-baik saja?'
Abi menggeser kursinya sedikit ketika Inara kembali. Perempuan itu mengangguk dan meletakkan tas di samping tempat duduknya. Ia mengambil gelas, tetapi hanya membasahi bibir sebelum menaruhnya kembali.
'Tadi agak antre.'
Jawaban tersebut membuat Abi melirik lorong sebentar. Ia tidak bertanya lagi di depan semua orang. Di seberang meja, Ratih masih mendengarkan Maya menceritakan kesibukan Husna menyelesaikan kuliah. Inara berusaha mengikuti, meskipun yang ditunggunya justru bunyi langkah dari belakang.
'Kalau sudah selesai nanti ingin ke mana?' tanya Ratih kepada Husna.
'Saya masih ingin mengajar, Tante. Tapi sekarang saya selesaikan kuliah dahulu.'
'Bagus itu. Dari kecil kamu memang tekun, ya, May?'
Maya tersenyum dan hendak menjawab ketika pandangan Ratih beralih ke pintu. Wajahnya segera menunjukkan kelegaan yang sejak tadi dicari.
'Nah, ini putraku akhirnya datang juga.'
Inara menahan tangannya di dekat gelas. Ia tahu Radit akan menyusul, tetapi mendengar sambutan itu tetap membuat bahunya menegang. Abi menoleh mengikuti arah pandang Ratih, lalu alisnya terangkat.
'Mas Radit?'
Radit berhenti di sisi meja. Ia sempat memandang Inara, kemudian mengarahkan senyum kepada lelaki di sampingnya.
'Abi.'
'Lho, kalian sudah saling kenal?' Ratih menatap keduanya bergantian.
Abi berdiri untuk menyambut. Inara memperhatikan jabat tangan itu dengan perasaan aneh. Kedua lelaki tersebut dapat menyebut nama satu sama lain dengan wajar, sementara ia masih mencari cara agar suaranya tidak bergetar ketika harus mengatakan sesuatu.
'Kami pernah bertemu, Tante,' jawab Abi. 'Saya tidak menyangka Mas Radit putra Tante Ratih.'
'Dunia sempit sekali. Jadi tidak perlu berkenalan dari awal, ya.'
Ratih mempersilakan Radit duduk. Ia menanyakan alasan putranya terlalu lama pergi, tetapi belum selesai bertanya sudah menunjuk beberapa hidangan yang dapat diambil. Radit menjawab pendek bahwa perutnya tadi kurang enak. Ia duduk, merapikan posisi kursi, lalu meraih gelas yang disediakan.
'Kamu sudah bertemu Husna, kan?' lanjut Ratih.
'Sudah, Ma.'
Husna mengangguk sopan ketika Radit menyapanya. Tidak ada kegembiraan berlebihan pada wajahnya, hanya sedikit kikuk karena mendadak menjadi perhatian. Inara memandang adik Abi itu dan teringat pertanyaan Radit di lorong, ketika ia baru memastikan hubungan mereka.
'Ini Inara, istri Abi,' kata Maya. 'Tadi kalian belum sempat bertemu.'
Radit menoleh ke arahnya. Inara tidak mengulurkan tangan. Ia memberikan anggukan kecil yang dibalas lelaki itu dengan ucapan pelan.
'Inara.'
Ratih mengira putranya sekadar mengulang nama. Ia lalu meminta Radit mengambil makanan sebelum dingin. Percakapan bergerak kembali, memberi Inara kesempatan menarik napas tanpa harus menjawab pertanyaan lanjutan.
Abi duduk lagi. Ia menyadari istrinya tidak memperkenalkan diri seperti biasa, tetapi Radit pun tampak menjaga ucapan. Ia belum tahu apakah itu karena canggung dengan keluarga yang baru ditemuinya atau ada sesuatu yang belum dipahaminya.
'Mas sudah lama pulang?' tanya Abi.
'Belum lama. Masih menyesuaikan lagi.'
'Kuliah di sana sudah selesai?'
'Belum. Ini jeda kuliah,' jawab Radit. Ratih segera menyambung jawaban itu dengan cerita tentang kesibukan putranya. Ia terdengar bangga, dan Maya menyimak dengan ramah. Abi memberi perhatian yang semestinya, sesekali mengangguk ketika Ratih menyebut betapa jarangnya Radit pulang selama belajar di luar negeri.
Inara menatap piringnya. Jarak yang dibanggakan dalam cerita itu pernah menjadi alasan bagi banyak percakapan yang ditunda. Ia menggeser lauk ke sisi piring, mencoba memilih makanan yang tidak membuat perutnya semakin tidak nyaman.
'Mau yang ini, Dek?' Abi menunjuk hidangan yang lebih dekat kepadanya.
'Sedikit saja.'
Abi mengambilkan setelah Inara mengangguk. Tindakan sederhana tersebut membuat Radit menghentikan gerakan sendoknya sesaat. Inara melihatnya, kemudian sengaja mengalihkan perhatian kepada Maya yang sedang menanyakan apakah ia menyukai masakan di restoran itu.
'Enak, Bu. Saya tadi sudah makan sedikit.'
'Kalau ada yang kurang cocok, jangan dipaksakan,' kata Maya.
'Iya, Bu.'
Radit meraih gelas. Ia tadinya berharap dapat duduk tanpa perlu memperhatikan hubungan Inara dengan suaminya. Kini kursi di hadapannya justru memberi pemandangan yang tidak dapat dihindari: Maya yang menerima Inara sebagai menantu, Abi yang memperhatikan piringnya, dan Husna yang sesekali mengajaknya berbicara.
'Mbak Inara tadi datang langsung dari rumah?' tanya Husna.
'Iya. Bersama Mas Abi.'
Sebutan itu keluar lebih pelan daripada yang diinginkannya. Abi mendengar, lalu memandang wajahnya. Inara segera mengambil minum. Ia tidak ingin lelaki itu menanyakan sesuatu yang belum sanggup dijawab di sini.
'Kalian naik apa?' Ratih menyela.
'Mobil keluarga istri saya, Tante,' jawab Abi. 'Nanti kami pulang bersama juga.'
'Bagus. May, sekarang anakmu sudah ada yang menemani. Kita tinggal memikirkan yang satu lagi.'
Ratih mengatakannya sambil tersenyum kepada Husna. Gadis itu menunduk dan membetulkan ujung lengan bajunya. Maya tertawa kecil, tetapi tidak langsung menjawab atas nama putrinya.
'Pelan-pelan saja, Rat. Anak-anak masih perlu saling mengenal.'
Husna mengangkat pandangannya kepada Maya. Ibunya menyentuh sebentar punggung tangannya yang berada di meja, kemudian kembali mengambil gelas. Gerakan itu kecil, tetapi Inara melihat bahu Husna menjadi lebih santai. Gadis itu lalu berani menanyakan kembali kesibukan Radit sesudah pulang. Pertanyaannya sederhana dan mendapat jawaban pendek, namun setidaknya kali ini percakapan tidak seluruhnya disusun oleh dua ibu mereka.
Abi menunggu sampai adiknya selesai bicara. Ia tidak menyela untuk menyebut kelebihan Husna atau meminta Radit memberikan keputusan. Inara memperhatikan sikap itu dengan diam-diam. Di meja yang sama, ia sedang melihat seorang kakak memberi adiknya kesempatan berbicara, sesuatu yang terasa berbeda dari berbagai tuntutan yang belakangan diterimanya.
Inara mengangkat wajah. Untuk pertama kali sejak kembali dari lorong, ia merasa ada kalimat di meja itu yang memberinya sedikit ruang bernapas. Belum ada keputusan, belum ada janji yang harus dijaga demi menyenangkan semua orang.
'Betul,' kata Abi. 'Yang menjalani nanti juga harus merasa siap.'
Radit mengangguk, terlalu cepat. Tatapannya bertemu dengan Inara, lalu beralih ke piring. Di antara suara percakapan keluarga, Inara mendengar kembali janjinya di lorong bahwa ia belum memutuskan apa-apa. Ia berharap lelaki itu memahami bahwa anggukan di meja tidak akan cukup untuk menjawab pertanyaan yang masih menunggunya.