Sinta memilih malam setelah koreksi ulangan—kepala masih penuh nilai, tangan berkapur, bau spidol di jari. Ia tidak menunggu tanggal indah, tidak menunggu saham hijau, tidak menunggu Hartono selesai. Cinta yang diucapkan di malam biasa lebih sulit ditipu jadi slide.
Mereka di meja makan, jarak dekat, air putih, aturan di kulkas sebagai saksi bisu. Laila tidak di rumah; Sinta bilang sebelumnya di chat, 'Aku mau bilang sesuatu. Kalau aku goyah, aku telepon kau. Jangan datang kecuali kupanggil. Pena di tas.' Laila: 'Siap. Jangan murah. Jangan juga pelit pada diri sendiri.'
Sinta menarik napas. Bara menunggu tanpa menyentuh tangan—belajar. 'Aku bilang cinta. Dengarkan syaratnya sebelum kau jawab. Jangan cut. Aku cinta kau—bukan versi altar, bukan versi CEO yang menyelamatkan, bukan versi maaf yang membeli, bukan versi wajah Mama. Aku cinta orang yang chat paranoia sebelum menyambar. Orang yang cuci piring. Orang yang geser target ke Hartono. Orang yang bilang menikahi untuk jebak lalu memilih. Orang yang mengganti foto perang dengan foto kapur. Syarat: kejujuran dulu tetap. Pena tetap. Laila tetap boleh. Terapi tetap. Lima menit tetap. Jangan pakai kata cinta untuk menutup tipu. Jangan minta aku menghapus malam pertama. Aku bawa itu. Kau bawa itu. Kita jalan dengan itu, bukan di atasnya seperti sudah selesai. Kalau syarat berat, bilang. Aku tidak menarik cinta sebagai umpan. Aku memasangnya sebagai kontrak hidup—seperti aturan kulkas. Bisa dicek. Bisa diteken ulang. Bisa disobek kalau dilanggar.'
Bara diam lama. Mata basah. Mulut terbuka lalu tertutup—strategi ingin merangkai jawaban sempurna, puisi, slide; ia buang strategi itu ke lantai mental sampai berbunyi. 'Aku dengar syarat. Aku tidak jawab sempurna malam ini kalau itu tipu. Aku jawab sekarang tanpa disusun. Tapi boleh kucatat syarat di notes dulu supaya tidak 'lupa' jadi tipu. Izinkan.'
Sinta mengangguk. 'Catat. Lalu jawab. Tanpa puisi. Tanpa 'selamanya' kalau belum. Tanpa berlutut.'
Bara menulis poin syarat, tangan jelek, tegak, seperti orang yang terbiasa mengetik perintah belajar tinta. Memutar kertas. Sinta baca, tambah satu baris: 'Cinta ≠ izin tanpa stop.' Bara mengangguk, menulis ulang baris itu lebih tebal. Lalu ia letakkan pena. Napas. Manusia. Siap mulut tanpa mirror.
Di luar, hujan mulai, ringan. Di dalam, Sinta menunggu tanpa tersenyum menang—hanya hadir, pena di tas, kaki di lantai, kapur di kuku. Cinta yang baru diucapkan tidak menghapus museum kotor. Ia menaruh nama pada pilihan yang sudah dijalani berbulan-bulan: kapur, piring, stop, foto dapur, aturan kusut, sticky note di dahi ayah, somasi bersama, telur gosong. 'Aku cinta kau,' ulanginya sekali, pelan, supaya tidak hilang di hujan. 'Dengan syarat. Kau dengar. Sekarang giliran kau—tanpa strategi. Kalau tidak siap, bilang belum. Lebih baik belum dari tipu.'
Bara mengangguk. Jantungnya berisik seperti rapat dewan yang salah. Kali ini tidak ada Arman. Tidak ada slide. Hanya syarat di kertas dan perempuan yang pernah ia hancurkan, yang sekarang memasang cinta seperti memasang aturan: terlihat, bisa dicek, bisa diteken ulang besok. Ia membuka mulut—dan untuk pertama kali sejak malam pertama, ia tidak membawa daftar di balik dahi. Hanya takut, malu, dan kata yang akan keluar jelek.
Sebelum kata itu keluar, Sinta menambah satu hal, pelan, supaya tidak hilang: 'Kalau kau jawab cinta lalu meminta aku buang pena, itu tipu. Kalau kau jawab belum siap, aku tidak hukum. Aku tunggu atau aku hitung ulang. Aku bilang cinta karena sudah kulihat kerja mu—bukan karena aku lupa dosa. Ingat bedanya.' Bara mengangguk berkali-kali, seperti murid. Di pojok meja, magnet apel memegang aturan yang kusut. Di dinding jauh, foto dapur. Di tas Sinta, pena. Cinta dengan syarat lahir di antara tiga benda itu, bukan di gereja emboss. Hujan di luar makin deras. Bara membuka mulut lagi, kali ini untuk menjawab—tanpa strategi, tanpa cermin, hanya manusia di depan syarat yang ditulis tangan.
Sinta menambah setelah diam sebentar, 'Satu lagi: cinta tidak membuatmu berhak mengatur gerbang SD, kartu, atau tubuh ku tanpa stop. Cinta membuatmu berhak mendengar 'tidak' tanpa menghukum. Kalau itu terlalu banyak, bilang sekarang.' Bara menggeleng. 'Tidak terlalu banyak. Itu minimal. Aku dulu di bawah minimal. Aku naik ke minimal dengan kerja. Aku cinta kau di atas minimal itu—dengan syarat. Aku jawab sekarang.' Ia menelan. Di kepala, strategi masih ingin menyusun tiga poin; ia biarkan poin itu mati. Yang hidup: Sinta, syarat, hujan, kapur di kuku orang yang dicintainya. Ia bicara.
Sebelum kalimat penuh, ia sempat bilang satu hal yang bukan strategi—hanya takut: 'Aku takut kata cinta dari mulut ku beracun karena pernah jadi tipu. Kalau beracun, potong dengan pena. Aku tetap bilang karena tidak bilang juga tipu.' Sinta mengangguk, mata basah. 'Potong kalau beracun. Bilang dulu. Aku dengar dengan syarat hidup.' Hujan mengetuk jendela seperti penanda waktu yang tidak digaji dewan atau portal. Di kulkas, magnet apel longgar. Di tas, pena. Di kertas, syarat. Cinta yang mau lahir sudah punya pagar. Bara mengucapkan jawabannya di dalam pagar itu—dan pagar, malam itu, terasa seperti kasih sayang yang waras, bukan penjara, bukan altar, bukan tipu, bukan tiket murah ke ranjang.