Paranoia datang pada hari biasa—bukan hari berita besar, bukan hari Hartono, bukan hari portal lapar. Itu yang membuatnya licin. Algojo suka hari biasa; di situ orang lengah.
Bara pulang lebih awal, mau cuci piring sebelum Sinta sampai. Di dapur ia mendengar Sinta di ruang tamu—baru masuk, jaket masih—tertawa di telepon dengan nomor yang tidak ia kenal di layar yang sempat terbuka di meja. Algojo lama di kepala berbisik cepat: tipu, selingkuh, jembatan basah lagi, kau dilemahkan, isolasi, tanya siapa, sambar. Ia hampir menyambar ponsel. Hampir menuntut. Hampir bilang 'siapa' dengan suara malam pertama. Jari sudah di udara. Napas pendek. Lalu matanya kena kertas di kulkas. Kejujuran dulu. Pena di laci. Kaki milik Sinta. Foto dapur di dinding ruang kerja—kapur, bukan perang.
Ia tidak masuk ruang tamu. Ia masuk ke kamar, duduk di lantai dulu, lalu ingat Sinta bilang jangan hukuman di lantai—naik ke kursi, tangan gemetar, kirim chat—bukan tuduhan: 'Fakta: aku dengar kau tertawa di telepon. Rasa: paranoia. Aku hampir jadi algojo. Aku tidak menyambar. Aku bilang di sini. Stop. Tolong kabari saat kau siap—bukan sekarang kalau tidak mau. Aku di kamar. Tidak ke ponsel mu.'
Sinta membaca di ruang tamu, mengangkat alis pada Dina di ujung telepon, bilang, 'Sebentar,' lalu masuk kamar. 'Itu Dina. Sticky note di dahi Yah viral di grup sepupu. Aku tertawa. Fakta: kau hampir menyambar. Rasa: takut—lalu lega kau chat dulu. Duduk. Jangan di lantai. Di kursi—oh, sudah. Bagus. Napas.'
Bara muka panas. 'Maaf. Paranoia. Aku takut bahagia tipu. Aku takut kau pergi tanpa aku layak. Aku takut telepon adalah jembatan yang tidak kuketahui. Aku… kotor di kepala masih. Maaf jelek.'
'Sama,' sahut Sinta, duduk di ujung ranjang, tidak terlalu dekat. 'Aku juga masih hitung bel. Aku masih cek laci pena. Bedanya: kau bilang sebelum merusak. Itu dewasa. Kalau kau menyambar, pena. Karena kau tidak—kita kerjakan. Lima menit ekstra: apa yang kau butuhkan supaya paranoia tidak jadi stiker?'
'Ingat stop,' kata Bara. 'Dan boleh tanya tanpa menginterogasi. Aku belajar bedanya. Satu pertanyaan sopan: dengan siapa, kalau relevan. Bukan tipu detektor. Bukan cek hp.'
'Satu pertanyaan sopan boleh,' sahut Sinta. 'Nanti aku juga boleh tanya tanpa dituduh tipu—misalnya kenapa kau pulang awal. Setara. Catat.' Mereka tulis di notes. Laila dikabari; Laila balas: 'Paranoia terakhir? Kita lihat seminggu. Jangan romantisasi. Kerjakan. Kalau menyambar, kabari aku—aku yang bawa helm.'
Seminggu diuji lagi: Arman menelepon larut soal aset Hartono, Sinta belum pulang dari rapat guru, hujan. Bara hampir kirim satpam 'non-logo'. Ia tidak. Ia kirim ke Laila: 'Paranoia. Cek tanpa drama. Jangan satpam.' Laila: 'Dia di rapat. Pulang 20 menit. Kau cuci piring. Jangan hero. Aku pantau.' Bara mencuci sampai tangan keriput. Sinta pulang basah, mencium bau sabun, bilang, 'Bagus. Fakta: aku capek dan basah. Rasa: aman karena piring, bukan karena satpam. Stop. Terima kasih tidak mengirim orang.'
Di terapi, konselor bilang, 'Paranoia yang diakui lebih sehat dari kepercayaan palsu. Lanjut tanpa hukuman. PR: tiap kali ingin menyambar, tulis fakta-rasa dulu—minimal tiga napas.' Bara menangis sekali, pendek, malu. Sinta tidak menghapus air mata sebagai hadiah; ia menyerahkan tisu. 'Angkat dulu. Termasuk kepalamu. Aku bukan Mama. Aku bukan dosa. Aku Sinta—yang bilang stop dan yang tertawa pada sticky note.'
Paranoia tidak hilang abadi—ia kehilangan kursi CEO di kepala Bara. Yang duduk sekarang: suami yang bisa bilang takut tanpa merampas ponsel. Konflik kecil terakhir selesai bukan dengan menang, dengan tidak menyambar. Di dinding, foto dapur menatap. Di kulkas, aturan menatap. Di laci, pena menatap. Tiga saksi. Cukup untuk menyebut dewasa—bukan sembuh total, dewasa.
Dua hari kemudian paranoia kecil lagi: Sinta pulang membawa tas dokumen sekolah yang tebal; Bara hampir bertanya 'itu map Yah?' dengan nada tuduh. Ia tulis di notes dulu: fakta takut, rasa malu, stop. Baru tanya, 'Dokumen sekolah? Aku tanya sopan. Tolak boleh.' Sinta buka tas: RPP dan lembar ulangan. 'Sekolah. Fakta: kau tanya sopan. Rasa: lega. Stop.' Mereka tertawa kecil—paranoia yang belajar antre di belakang pertanyaan. Laila mendengar cerita itu minggu berikutnya, bilang, 'Terakhir atau tidak, pola ini yang penting. Kalau balik menyambar, aku masuk. Kalau chat dulu, kau lulus harian. Jangan minta medali.' Bara tidak minta medali. Ia minta tisu dan pekerjaan rumah: tiga napas. Sinta menempel sticky note di kulkas bawah aturan: 'Paranoia → chat, jangan sambar.' Kusut boleh. Dipakai harus.
Di sesi terapi berikutnya, Bara role-play singkat: ingin menyambar, lalu bilang fakta-rasa. Kaku. Jelek. Lulus. Sinta role-play bilang stop saat disentuh tanpa izin; Bara mundur tanpa protes. Konselor: 'Ini konflik kecil yang diselesaikan dewasa. Ulang di rumah. Jangan cari ujian besar untuk membuktikan sembuh.' Minggu itu tidak ada ujian besar—hanya telepon Dina, rapat guru, hujan, piring. Cukup. Paranoia terakhir bukan berarti tidak pernah datang lagi; berarti tiap datang, ia tidak lagi dapat kursi. Kursi itu sudah diisi aturan, foto, pena, dan orang yang bilang stop. Bara tidur lebih nyenyak. Sinta masih bangun sekali jam tiga, cek bel tidak berbunyi, kembali tidur. Dewasa, di rumah mereka, berbunyi seperti itu.