'Aku cinta kau,' kata Bara. Suaranya serak, tidak dilatih di cermin taman, tidak dilatih di toilet kantor. 'Bukan sebagai pintu. Bukan sebagai wajah Mama. Bukan sebagai stabilisasi saham. Bukan sebagai penebusan. Aku cinta kau—Sinta. Guru. Orang yang bilang stop. Orang yang menempel aturan. Orang yang bawa pena dan tetap memilih. Orang yang tertawa pada sticky note dan marah pada stiker. Syarat kau kuterima. Aku tulis. Aku pegang. Aku tidak minta kau menghapus malam pertama. Aku tidak minta tiket abadi. Aku minta izin gagal tanpa balik algojo, dan izin dicintai dengan syarat yang kau bilang. Aku… aku tidak punya strategi malam ini. Kalau ini jelek, biar jelek. Jelek lebih jujur dari sempurna. Aku cinta kau. Dengan syarat. Stop—kalau kau butuh stop sekarang, bilang.'
Sinta menatap lama, mencari tipu di sudut mata, di jeda, di tangan, di napas. Tidak ada daftar di balik dahi—hanya takut dan cinta yang berdampingan, seperti fakta dan rasa. Ia menghitung tiga napas, seperti PR konselor. Mengangguk. 'Diterima sebagai jawaban manusia. Bukan sebagai penutup kasus. Kita ulang besok dalam bentuk kerja: fakta, rasa, piring, kapur. Kalau kau bilang cinta lalu isolasi, pena. Kalau aku bilang cinta lalu jadi alat ayah, kau boleh bilang stop juga—setara. Cinta tidak membuatmu bos di rumah. Tidak membuatku murid. Setara.'
Bara tersenyum kecil, sedih, lega, manusia. 'Setara. Fakta: aku gemetar. Rasa: takut bahagia. Cinta. Stop.'
Sinta: 'Fakta: aku juga gemetar. Rasa: waspada dan cinta. Stop. Aku tidak telepon Laila—kecuali kau mau saksi. Aku kirim pesan saja.'
Mereka tidak langsung ke kamar sebagai hadiah atas kata. Mereka cuci gelas dulu, busa di siku, hujan di luar. Sinta kirim ke Laila: 'Sudah bilang. Dia jawab tanpa strategi. Masih napas. Jangan datang—kecuali kau mau kue miring. Pena tetap.' Laila: 'Simpan pena. Selamat yang tidak bohong. Tidur. Besok ajar. Jangan honeymoon tipu.'
Di terapi sesudahnya, konselor mendengar ringkasan tanpa tepuk tangan. 'Cinta bersyarat lebih aman dari cinta buta di rumah kalian. Kerjakan syarat seperti PR. Jangan ujian kejutan. Jangan 'kalau cinta kenapa masih pena'. Pena adalah cinta yang waras di cerita ini.' Arman, tanpa diminta detail, hanya bilang di kantor dua hari kemudian, 'Kau kelihatan kurang seperti kuil. Bagus. Angka Hartono: lanjut. Jangan bawa cinta ke dewan. Aku tidak mau slide perasaan.' Bara: 'Tidak kubawa. Kubawa ke piring. Terima kasih jaga lantai.'
Malam itu di bawah foto dapur, Bara mengulang tanpa diminta, jelek, pelan: 'Aku cinta kau.' Sinta: 'Dengan syarat.' Bara: 'Dengan syarat.' Itu liturgi baru rumah mereka—bukan doa altar, doa kulkas. Manusia menjawab manusia. Strategi tertinggal di kantor bersama map yang semakin tipis. Di laci, pena tetap. Di dinding, kapur di foto tetap. Di dada, luka tetap. Dan di antara luka itu, cinta yang tidak meminta buta—hanya meminta kerja ulang besok, telur yang mungkin gosong, dan stop yang dihormati. Sinta tidur dengan tangan tidak menggenggam pena—pena di laci, dekat, cukup. Bara tidur tanpa mengunci apa pun dari Sinta. Jawaban tanpa strategi tidak menghapus dosa. Ia hanya memberi nama yang benar pada pilihan: cinta, bersyarat, setara, manusia.
Keesokan paginya mereka tidak 'bulan madu'. Sinta ke sekolah; Bara ke angka. Siang, Bara mengirim fakta singkat: 'Fakta: aku takut kata cinta kemarin jadi tipu di kepala orang lain. Rasa: tetap pegang syarat. Stop.' Sinta: 'Fakta: murid salah eja lagi. Rasa: cinta+syarat masih di dada tanpa bipan. Stop.' Malam, mereka baca ulang notes syarat bersama, meneken tanggal baru—bukan karena ragu, karena latihan. Laila mampir sebentar, melihat notes, bilang, 'Kurang dramatis. Bagus. Jangan buat sumpah di media. Kerja.' Arman tidak perlu tahu detail; yang ia tahu: CEO pulang lebih awal tanpa bau panik. Jawaban manusia itu berulang dalam bentuk kerja, bukan dalam bentuk puisi. Dan tiap ulang, strategi makin jauh tertinggal di laci kantor yang tidak dibawa pulang.
Sinta suatu sore bilang di dapur, 'Ulangi jawaban mu—pendek. Mau kudengar tanpa notes.' Bara, tangan basah sabun: 'Aku cinta kau. Dengan syarat. Setara. Tanpa strategi.' Sinta: 'Bagus. Bilas. Goreng telur—boleh gosong.' Mereka makan. Tidak ada cincin baru. Tidak ada pengumuman. Cinta bersyarat cukup hidup di antara gosong dan sabun. Di chat, Laila menerima laporan mingguan singkat tanpa detail ranjang: 'Masih napas. Syarat hidup. Paranoia chat dulu.' Laila: 'Lanjut. Aku sibuk jadi guru, bukan MC pernikahan kalian.' Itu juga jawaban tanpa strategi: dunia tidak berhenti karena mereka bilang cinta; dunia meminta kapur dan angka bersih keesokan harinya. Mereka memberi. Manusia. Cukup.
Di makam ayah sore itu, Bara tidak bawa Sinta sebagai bukti. Ia sendiri, bunga pasar, bilang, 'Aku jawab cinta dengan syarat. Aku tidak jadi mereka. Angkat dulu—termasuk aku.' Angin. Cukup. Pulang, ia tidak meminta Sinta memuji ziarah; ia hanya cuci tangan dan goreng telur. Jawaban tanpa strategi juga berarti tidak menjual pertobatan. Sinta melihat telur, bilang, 'Gosong tipis. Diterima. Fakta: kau ke makam. Rasa: hormat, bukan curiga. Stop.' Bara hampir menangis lagi, tidak. Ia bilang, 'Cinta. Syarat. Setara. Tanpa strategi.' Liturgi kulkas yang basah sabun. Jalan terus ke malam tanpa slide dan tanpa audience.