Laci yang dulu dikunci untuk mengancam sekarang terbuka di meja kerja Bara. Isinya bukan senjata: surat ayah, surat Mama, amplop foto dapur anniversary, dan—di bawah, terpisah dalam amplop cokelat tua—foto Bogor. Ibu Rina muda. Senyum sebelum semuanya. Puncak, angin, baju tipis. Wajah yang pernah Bara tempelkan ke Sinta tanpa izin takdir, yang pernah membuat Sinta bilang di malam retak: aku bukan ibumu, aku bukan dosamu.
Sinta berdiri di ambang, lengan dilipat, tidak marah—waspada yang sudah belajar bernapas. Blus sekolah masih, kapur di kuku. 'Hari ini kita ganti. Bukan buang Mama. Mama punya tempat di kamar perawatan dan di dada kau. Yang kita ganti: Mama sebagai senjata di rumah ini. Foto perang keluar dari dinding. Foto dapur masuk. Kalau kau ragu, bilang. Jangan diam lalu tipu. Jangan pidato.'
Bara mengangguk. Tangannya gemetar tipis saat mengangkat bingkai lama di dinding ruang kerja—foto Bogor yang dulu ia pakai sebagai altar diam, yang dulu ia kunci di laci untuk mengancam. Ia tidak merobek. Ia tidak membuang ke tong. Ia cium sudut bingkai, masukkan ke kotak kayu bertulis tangan jelek: 'Mama—bukan perang'. Kunci kotak. Serahkan kunci ke Sinta. 'Simpan. Atau kasih Mama. Aku tidak pegang kunci senjata. Kalau suatu hari aku minta balik untuk perang, tolak. Temper pena ke kepalaku—pelan.'
Sinta menyimpan kunci di laci pena dekat pintu—ironis, pas, berbunyi logam pada logam. Lalu mereka bersama memasang foto dapur di bekas paku yang sama: Sinta dan Bara, kapur di meja, kue miring, Laila di tepi frame tanpa sengaja, cahaya jelek, hidup. Tidak sempurna. Tidak studio. Dina sempat bilang di chat 'pencahayaan jelek'; Sinta membalas 'pencahayaan jujur'. Bara memegang sisi bingkai supaya tidak miring; Sinta yang mengecek jarak mata.
Bara menatap lama setelah gantung. 'Fakta: aku takut tiap lihat wajah mu di dinding aku mencari Mama. Rasa: hari ini aku melihat kau—kapur, bukan puncak Bogor. Stop.'
Sinta: 'Fakta: aku takut foto baru jadi tipu baru—wallpaper kebahagiaan. Rasa: tetap memilih memasang. Stop.'
Laila datang sore itu dengan helm, memeriksa bingkai seperti memeriksa gerbang SD. 'Bagus. Jangan pidato. Kirim salinan ke Mama—bilang ini bukan mengganti dia; ini berhenti memakai dia. Kalau Mama marah, dengarkan. Kalau Mama senang, jangan rayakan berlebihan.' Bara menurut malam itu juga. Di perawatan, Rina melihat cetak foto di pangkuan, mendengus senang sampai selang bergetar. 'Jelek. Hidup. Jangan balikkan yang lama ke dinding. Mama bukan dekorasi perang. Anak—cuci piring. Guru—ajar. Itu saja.'
Malam, mereka duduk di bawah foto baru, dua kursi dekat, air putih. Lima menit lebih panjang dari biasa—konselor bilang boleh sesekali. Bara cerita tentang pertama kali ia membuka laci untuk mengancam Sinta yang bertanya foto; suara serak, malu. Sinta cerita tentang pertama kali ia melihat foto dan kira itu dirinya di masa lalu yang tidak ia ingat; marah yang sudah dingin, masih ada. Mereka tidak saling menyelamatkan dengan kata manis. Mereka hanya menaruh masa lalu di kotak yang benar. Di dinding, kapur di foto mengilap samar oleh lampu. Di laci pena, kunci kotak Mama berbunyi pelan tiap Sinta cek sebelum tidur—bunyi yang artinya: senjata tidak di tangan orang yang pernah menembak dengan wajah.
Minggu itu murid Sinta bertanya kenapa bu guru tersenyum ke ponsel di jam kosong; Sinta menunjukkan wallpaper foto dapur tanpa bilang 'suami CEO'. 'Rumah,' katanya. 'Tempat kapur.' Anak-anak mengangguk seperti mengerti tanpa mengerti. Bara, di kantor, mengganti wallpaper laptop yang dulu grafis 'selamat' dengan wallpaper kosong abu-abu—bukan foto istri; ia belajar tidak menjual wajah Sinta ke layar. Arman mengangkat alis. 'Minimalis.' Bara: 'Jujur. Jangan tanya lebih.' Foto yang diganti bukan hanya bingkai. Ia diganti di kepala: dari cermin mayat menjadi orang hidup yang mengajar pecahan dan bilang stop. Dan itu, di Arc H, adalah simbol yang tidak perlu MC, tidak perlu emboss, hanya paku, kertas, dan kunci yang pindah ke laci yang benar.
Seminggu setelah gantung, Bara hampir menaruh foto Bogor kembali 'sebentar' karena rindu Mama—bukan perang, katanya pada diri sendiri. Ia berhenti di depan kotak, tidak buka, telepon perawatan: 'Mama, aku rindu. Aku tidak taruh foto perang. Aku datang besok bawa buah.' Rina di ujung: 'Datang. Jangan bawa altar. Bawa guru kalau mau—bukan sebagai cermin. Sebagai menantu yang bukan aku.' Bara menangis di mobil, lalu pulang menceritakan fakta-rasa ke Sinta tanpa meminta dibaiat. Sinta mengangguk. 'Rindu Mama boleh. Senjata tidak. Fakta: aku lega kau telepon Mama, bukan membuka kotak diam-diam. Rasa: percaya bertambah satu sendok. Stop.' Di bawah foto dapur malam itu, mereka diam berdampingan. Simbol sudah dipaku. Kerja masih berjalan. Kunci tetap di laci pena—berbunyi tiap dicek, seperti detak yang waras.
Dina mengirim cetak kedua untuk album keluarga Wijaya yang baru—bukan album perang. Hendra melihat, diam, bilang pada Sinta di toko, 'Kalian kelihatan biasa. Itu bagus. Dulu di pesta kau kelihatan mahal dan asing.' Sinta membeli gula, membayar pas. 'Biasa. Itu yang kupilih.' Di Mahesa, Bara tidak memajang foto di ruang CEO; ia memajang daftar 'jangan' yang Sinta tambahi. Foto cukup di rumah. Simbol cukup di dinding yang benar. Perang cukup di kotak yang terkunci dari niat jahat—bukan dari rindu. Rindu Mama boleh. Memakai Mama tidak. Paku di dinding rumah itu, malam-malam berikutnya, tidak berkarat oleh tipu. Ia hanya menahan kertas hidup.