Tanggal nikah datang tanpa undangan emboss, tanpa panitia, tanpa bunga hotel yang dulu menutup tipu. Sinta bilang dari dapur, mengaduk teh, 'Jangan gereja megah. Jangan ratusan orang. Jangan pidato dosa jadi romansa. Aku mau makan dengan orang yang jujur: Laila, Dina, Mama kalau kuat, Yah kalau berani, Arman kalau mau duduk tanpa map, pembantu. Meja ini. Pakaian biasa. Foto boleh—satu. Bukan altar. Kalau kau siapkan MC, aku bawa pena ke meja.'
Bara mengangguk di ambang, tidak berdebat. 'Biasa. Jujur. Aku tidak beli cincin baru untuk menutup yang lama. Aku bawa kapur cadangan dan buah untuk Mama. Kalau kurang, bilang. Kalau berlebih, bilang.'
Siang itu Ibu Rina diantar kursi roda singkat ke rumah—selang portable, perawat ikut, batas satu jam yang ditegaskan Rina sendiri. 'Jangan lama. Aku bukan dekorasi.' Hendra datang dengan kemeja kusut, duduk jauh dari Bara, tidak berpidato, tangan gemetar tipis. Laila bawa helm dan kue sederhana dari toko langganan guru—butter cake yang agak miring. Dina bawa bunga matahari—bukan mawar hotel—dan USB cadangan 'kalau ada yang rekam jelek'. Arman datang terlambat, tanpa map, kaku, meletakkan teh kotak di meja. 'Angka Hartono stabil cukup untuk aku duduk satu jam. Jangan minta kuasta. Jangan minta aku bilang sayang.' Pembantu makan bersama, awalnya malu, lalu lapar jujur. Meja penuh tanpa kemewahan perang. Timer taman mati; Sinta cabut plug. 'Hari ini tanpa mata bodoh.'
Tidak ada MC. Sinta berdiri, gelas air, bilang pelan, 'Dulu pernikahan ini tipu. Hari ini aku memilih masih di sini dengan syarat. Siapa yang datang untuk menggosip, pintu di situ. Siapa yang datang untuk jujur—makan. Aku guru. Aku istri yang memilih. Bukan alat.' Bara berdiri setelahnya, tidak memegang mikrofon karena tidak ada, tangan di sisi, manusia. 'Aku menikahinya untuk menjebak. Aku merayakan hari ini karena pilihan. Maaf tetap jelek. Aku tidak mencuci dosa dengan pesta. Aku mencuci piring nanti. Terima kasih yang menjaga supaya aku tidak jadi mereka—Laila, Dina, Mama, Yah yang belajar, Arman yang jaga lantai tanpa parasit. Kapur lebih jujur dari podium.'
Ibu Rina mengangguk, bilang satu kata, 'Hidup.' Hendra menunduk, 'Maaf,' singkat, tidak meminta panggung. Laila mengangkat gelas air. 'Kurang dramatis. Bagus. Makan sebelum kue miringku ditertawakan.' Mereka makan. Percakapan biasa: murid yang salah eja, toko kecil Dina, audit yang merepotkan, cuaca, obat Ibu. Tidak ada slide. Satu foto diambil Dina—Sinta dan Bara di dapur, bukan di altar; kapur di meja; kue biasa; tangan tidak digenggam terlalu erat, hanya berdampingan; Laila masuk di tepi frame tanpa sengaja. Bara meminta salinan untuk laci yang dulu berisi foto perang. 'Nanti,' sahut Sinta. 'Setelah kau pastikan yang lama terkunci. Sudah. Baik. Nanti malam kita taruh bersama.'
Malam, tamu pulang pelan. Ibu kembali ke perawatan dengan buah dan perawat yang mengomel batas jam. Hendra dipulangkan Dina, diam di mobil. Arman pergi tanpa khotbah, hanya bilang ke Bara di pagar, 'Lantai aman. Jangan rusak meja dengan map besok.' Laila tinggal sampai dapur bersih, memeriksa laci pena, lalu bilang, 'Anniversary bukan tiket abadi. Besok ulang aturan di kulkas. Selamat malam yang tidak bohong.' Ia pergi dengan helm.
Sinta dan Bara di meja yang kusut remah kue. Lima menit: Sinta—'Fakta: aku tidak mual melihat tanggal. Rasa: hati-hati bahagia. Stop.' Bara—'Fakta: aku takut bahagia tipu. Rasa: tetap memilih. Stop.' Mereka cuci piring bersama, busa di siku lagi, tertawa kecil saat gelas hampir jatuh. Fade singkat di kamar—pelan, stop berlaku, bukan bukti untuk berita, bukan altar. Pagi, Sinta ke sekolah dengan kapur baru dari kotak kemarin. Bara ke kantor dengan notes: 'Pilihan. Bukan jebakan. Ulang. Anniversary kemarin tidak bohong—kerjakan lagi.' Anniversary yang tidak bohong tidak menghapus bab 4. Ia hanya menaruh tanggal yang sama di atas lantai yang berbeda—lebih kecil, lebih jujur, lebih layak disebut rumah. Di kulkas, kertas aturan masih nempel, agak kusut oleh uap masak. Kusut artinya dipakai. Dan itu, untuk tanggal yang dulu penuh tipu, adalah hadiah yang pantas.
Sebelum ke sekolah, Sinta menaruh salinan foto dapur di amplop, menulis di luar: 'Bukan altar. Simpan di laci yang dikunci dari perang.' Bara memasukkan amplop ke laci bersama surat Mama dan ayah—terbuka isinya, terkunci niat perang. 'Fakta: foto baru di laci lama. Rasa: takut dan tenang bercampur. Stop.' Sinta: 'Fakta: aku izinkan. Rasa: masih ada pena. Stop.' Mereka berpisah di pagar tanpa drama: Sinta ke kapur, Bara ke angka bersih. Anniversary yang tidak bohong tidak meminta penonton. Ia meminta hari berikutnya yang sama jujurnya—dan Arc H, pagi itu, berjalan tanpa MC, hanya orang yang memilih ulang.
Di sekolah, Sinta tidak ceritakan pesta ke murid; ia ceritakan soal. Di kantor, Bara tidak ceritakan pidato ke dewan; ia ceritakan putus kontrak kotor. Laila menerima foto kue miring, membalas: 'Miring. Jujur. Jangan ulang emboss tahun depan.' Dina menyimpan foto dapur di album keluarga yang baru—bukan album perang. Ibu Rina, di perawatan, bilang pada perawat, 'Anak ku makan tanpa altar. Bagus.' Hendra mengirim pesan ke Sinta: 'Selamat tanggal. Maaf tetap. Toko buka.' Sinta membalas: 'Terima kasih Yah. Aku guru dulu hari ini.' Tanggal yang sama. Orang yang berbeda. Lantai yang berbeda. Cukup untuk menyebut anniversary—bukan sandiwara bab 4.