Pagi setelah putusan, Sinta menempel kertas di kulkas dengan magnet bentuk apel—bukan dekorasi mahal; hadiah murid tahun lalu yang sempat ia simpan di tas sofa Laila. Di kertas, tulisan tangan guru, jelas, bisa dibaca orang yang lewat menuju dapur:
ATURAN RUMAH (bukan slide)
1. Kejujuran dulu. Bisnis belakangan—di rumah, map perang tidak dibuka di meja makan.
2. Tidak ada isolasi kartu, ancaman, 'bagus' untuk orang jatuh, spreadsheet nama orang rumah.
3. Laila boleh menginap tanpa izin Bara.
4. Lima menit fakta/rasa tiap hari. Stop milik yang bilang stop.
5. Pembantu makan di meja yang sama minimal tiga kali seminggu.
6. Pena Sinta di laci dekat pintu. Kaki Sinta milik Sinta.
Bara membaca sambil berdiri berkaus, rambut berantakan, kopi belum diaduk. Bau kopi sachet, bukan mesin mahal—Sinta bilang mesin itu terlalu berisik untuk pagi yang sedang belajar. 'Aku tandatangani?'
'Tinta,' sahut Sinta. 'Bukan notaris. Kalau dilanggar, kertas ini jadi saksi Laila. Kalau kau ganti jadi plakat emas, aku sobek.'
Ia meneken inisial di bawah. Sinta meneken. Laila, yang kebetulan mengantar helm yang tertinggal, memotret lalu bilang, 'Bagus. Jangan romantisasi magnet apel. Kerjakan. Aku bisa datang tanpa kabar. Itu poin tiga.'
Aturan itu diuji siang hari. Arman menelepon: Hartono bergerak di jalur aset, butuh keputusan sebelum makan malam, suara sudah siap marah. Bara hampir membuka laptop di meja makan, refleks perang. Sinta tidak berteriak. Ia menatap kertas di kulkas, lalu menatapnya. Bara berdiri sendiri, bawa laptop ke ruang kerja, tutup pintu tidak dikunci—hanya batas. 'Bisnis belakangan di rumah,' gumamnya pada diri sendiri, janggal, seperti belajar bahasa baru. Ia selesaikan panggilan di sana, kembali dengan wajah capek, bilang fakta lima menit lebih awal: 'Fakta: aku hampir buka map di meja makan. Rasa: malu. Aku pindah. Stop.'
Sinta mengangguk, mengaduk sayur. 'Diterima. Fakta: aku hampir marah besar dan bipan. Rasa: lega kau pindah sendiri. Stop.'
Malam, mereka menulis ulang satu baris di notes bersama di meja yang sama: 'Kejujuran dulu bukan berarti cerita semua rahasia kantor. Artinya: jangan bawa perang ke piring. Artinya: kalau takut, bilang takut—jangan belanja diam orang lain.' Bara menambah, 'Kalau aku lupa, temper pena—pelan. Kepala ini masih belajar.' Sinta hampir tersenyum. Rumah yang pernah jadi altar mulai belajar jadi dapur. Timer taman masih bodoh; orang di dalamnya sedikit lebih pintar. Di kamar, sebelum tidur, Sinta cek laci pena dekat pintu. Masih ada. Bara tidak menyentuh. Itu juga aturan—yang tidak tertulis, yang lebih penting: tidak mengutak-atik jalan keluar orang lain.
Minggu pertama aturan penuh gesekan kecil. Bara terbiasa memerintah; sekarang belajar bertanya—'Mau makan apa?' terdengar aneh di mulutnya sampai pembantu menahan tawa. Sinta terbiasa waspada; sekarang belajar percaya selektif tanpa mematikan waspada—ia masih menghitung napas saat bel berbunyi, lalu bilang pada diri sendiri: bel bukan isolasi. Suatu sore pembantu menangis pelan di dapur karena diajak makan di meja—'dulu tidak pernah, Bu; kami di belakang'. Sinta bilang, 'Sekarang pernah. Habiskan sayur. Panggil aku Sinta di meja ini, atau Bu Sinta kalau lebih enak. Jangan hantu.' Bara kaku mengangguk, menyuapkan ikan ke mulut sendiri supaya tidak memerintah porsi orang. Laila datang dua malam, tidur di kamar tamu, memeriksa kulkas seperti auditor kasih sayang. 'Masih nempel. Bagus. Jangan diganti. Kertas boleh kusut. Kusut artinya dipakai.'
Di hari ketujuh, Bara pulang membawa buah untuk Ibu Rina, bukan bunga untuk Sinta. Sinta mengangguk di ambang, jaket sekolah masih. 'Buah ke Mama. Ke aku: fakta.' Bara: 'Fakta: aku takut aturan ini jadi formalitas lalu aku curang diam-diam. Rasa: ingin kerjakan tetap. Stop.' Sinta: 'Fakta: aku juga takut formalitas. Rasa: masih memilih. Stop.' Mereka makan. Map perang tidak di meja. Kejujuran dulu. Bisnis belakangan. Bukan slogan—otot yang sakit tiap dilatih, dan justru karena sakit, terasa hidup. Sebelum lampu mati, Bara tulis di pad: 'Hari 7. Meja bersih dari map. Lanjut.' Sinta tulis di RPP: 'Aturan nempel. Aku nempel juga—pilihan, bukan jebakan.'
Minggu kedua, ujian datang dari luar. Wartawan kecil menelepon rumah; Bara tidak angkat di meja makan—ia angkat di ruang kerja, bilang singkat, 'Hubungi legal. Jangan ganggu sekolah.' Kembali, fakta: 'Fakta: aku hampir marah di depan kau. Rasa: tahan. Stop.' Sinta mengangguk, menyodorkan air. Aturan bukan tembok cantik; ia pegangan saat tangan ingin kembali jadi algojo. Di malam hujan, Laila menginap tanpa kabar dulu—poin tiga. Bara sempat kaget di tangga, lalu mengangguk. 'Kulkas masih nempel. Kau boleh.' Laila mendengus. 'Aku tahu. Tidur. Jangan rapat di dapur.' Sinta tertawa kecil di balik pintu kamar tamu. Rumah itu, pelan-pelan, belajar suara selain perang: air, kapur di pikiran, pena di laci, dan orang yang bilang stop tanpa dihukum. Di terapi berikutnya, konselor hanya bilang, 'Aturan di kulkas lebih berguna dari janji di udara. Lanjut. Jangan sempurna—konsisten.' Bara dan Sinta mengangguk, pulang, menempel magnet apel yang agak longgar. Longgar boleh. Jatuh tidak. Malam itu mereka cek poin satu sampai enam seperti orang mengecek PR murid: ada, dipakai, belum jadi debu. Cukup untuk menyebut rumah malam itu—bukan kuil, bukan hotel perang, bukan slide dewan.