Sinta kembali mengajar penuh tanpa izin setengah hari yang menumpuk. Kepala sekolah sempat khawatir wartawan di gerbang; orang tua murid sudah mulai bertanya pelan. Gawang dijaga orang yang Laila pilih—non-logo, tidak mengintimidasi anak, tidak berbau satpam Mahesa. Di kelas, Raka mengangkat tangan lebih sering. Sinta menjawab, tertawa kecil saat ada yang salah eja 'pecahan', menulis di papan sampai kapur habis. Rekan guru bilang di ruang kopi, 'Kau kembali.' Sinta mengoreksi, 'Aku tidak pergi dari murid. Aku pergi dari perang. Bedanya. Kalau berita datang lagi, tolong jangan seret anak ke gosip.'
Bara belajar jadi suami di sela CEO. Sulit. Suatu pagi ia hendak membatalkan rapat demi antar Sinta ke sekolah; Sinta menolak di dapur, tegas tanpa marah. 'Jangan ganti algojo dengan babysitter. Antar sekali seminggu boleh. Tiap hari—berlebihan, bau penebusan. Aku naik dengan Laila atau angkot seperti dulu. Kau kerja bersih. Itu suami. Jangan jadi bayangan di gerbang.'
Ia menurut, meski algojo di kepala memprotes. Di kantor, Arman mengangkat alis. 'Kau tidak menyusul ke gerbang? Orang bilang suami baru biasanya—'
'Tidak,' potong Bara. 'Dia guru. Aku belajar tidak menjadi bayangan. Angka Hartono. Lanjut.' Ia membuka folder yang benar, bukan folder istri yang sudah tidak ada. Arman mengangguk, hampir menghargai tanpa bilang.
Sore, Bara masak—gagal. Nasi terlalu lembek, sayur asin, telur gosong di tepi. Bau dapur seperti kekalahan kecil yang jujur. Sinta makan tetap, tidak memesan ulang, bilang fakta: 'Asin dan lembek. Rasa: tetap dihargai karena kau coba tanpa memesan katering megah. Stop.' Bara: 'Fakta: aku mau pesan katering lalu ingat aturan dan wajah Laila. Rasa: konyol. Stop.' Mereka tertawa kecil—jarang, berhati-hati, seperti orang mengetes lantai bekas perang supaya tidak ambruk.
Terapi minggu itu membahas peran. Konselor bilang, tanpa basa-basi, 'Suami bukan algojo yang bertobat jadi pelayan mutlak. Itu tipu baru. Suami adalah orang yang berdiri setara, salah, minta maaf, tidak membeli diam, tidak mengawasi gerbang sebagai ganti kendali.' Bara mencatat sampai tangan pegal. Sinta menambah, 'Dan guru bukan istri yang harus selalu tersedia untuk menenangkan saham. Kalau aku bilang sedang koreksi, itu bukan penolakan cinta—itu kerja.'
Malam, Bara pulang lebih awal bukan untuk mengawasi—untuk mencuci piring yang menumpuk karena pembantu izin keluarga. Tangannya basah, kaku, CEO yang belajar spons dan sikat. Busa di siku. Sinta menonton dari ambang, pena di tas masih, lalu bilang, 'Itu suami. Bukan slide. Jangan foto untuk berita. Jangan cerita ke dewan sebagai 'transformasi'.'
Bara menggeleng, malu. 'Tidak kufoto. Malu. Fakta: siku basah. Rasa: anehnya lega. Stop.'
Di sekolah keesokan harinya, Sinta menemukan kotak kapur baru di meja—tanpa nama, tanpa catatan manis; hanya kapur putih dan warna. Laila bilang di jam kosong, 'Dia tanya aku mau apa yang tidak berbunga. Aku bilang kapur. Kau boleh marah kalau mau. Aku bilang jangan kartu hadiah.' Sinta tidak marah. Ia tulis di RPP: 'Kapur = suami belajar. Bukan tiket. Pakai.' Di rumah, lima menit fakta: Sinta—'Fakta: kapur sampai. Rasa: waspada menipis satu lapis. Bukan hilang. Stop.' Bara—'Fakta: aku takut kapur dianggap tipu. Rasa: lega kau pakai di papan. Stop.'
Minggu berjalan tanpa keajaiban. Sinta mengajar penuh, pulang berkapur, kadang capek sampai tidak ingin bicara; Bara belajar tidak memaksa bicara. Bara belajar telepon singkat siang hari: 'Hanya cek napas. Bukan mengontrol. Tolak boleh.' Sinta kadang menolak. 'Sedang koreksi. Nanti.' Bara belajar 'nanti' tanpa panik, tanpa bel, tanpa mengirim orang. Algojo di dalamnya masih berbisik soal kendali; ia tidak menurut—ia cuci tangan di toilet kantor sampai dingin, lalu kembali ke angka. Di makam ayah suatu sore, tanpa jas, ia bilang pelan, 'Aku belajar suami. Bukan kuil. Kapur lebih jujur dari podium. Angkat dulu—termasuk piring.' Angin. Cukup. Pulang, ia tidak membawa perang ke meja. Sinta sudah siapkan teh. Dua peran. Satu rumah. Masih berlatih. Masih boleh gagal tanpa jadi stiker.
Suatu Jumat, murid memberi Sinta gambar rumah dengan dua orang dan kapur di meja. Sinta menyimpan di tas, menunjukkan ke Bara malam itu tanpa pidato. 'Fakta: anak lihat rumah sebagai tempat kapur, bukan altar. Rasa: hati-hati bahagia. Stop.' Bara menatap gambar lama. 'Fakta: aku takut merusak gambar itu dengan tipu. Rasa: ingin jadi suami yang muat di kertas anak. Stop.' Mereka tempel gambar di kulkas sebelah aturan—bukan mengganti; menemani. Laila melihat minggu berikutnya, bilang, 'Jangan jadikan konten. Biarkan kertas. Kau berdua: lanjut kerja. Guru. Suami. Bukan patung sembuh.' Bara mencuci piring. Sinta menyiapkan RPP. Peran yang dijalani, bukan yang diiklankan—itu pelajaran minggu itu, lebih mahal dari kapur, lebih murah dari penebusan.
Kepala sekolah memanggil Sinta seminggu sekali, bukan untuk menginterogasi suami, untuk memastikan gerbang aman. 'Kau guru dulu di sini,' katanya. 'Kami jaga itu.' Sinta mengangguk. 'Terima kasih. Kalau Bara datang antar, seminggu sekali maksimal—itu kesepakatan kami.' Di sisi lain kota, Bara menolak undangan 'dinner pasangan ekspsekutif' yang berbau pamer. 'Istri ku guru. Aku tidak bawa dia sebagai perhiasan. Tolak.' Arman mencatat. 'Bagus. Angka tetap.' Suami, malam itu, adalah orang yang pulang membawa tahu goreng—bukan strategi—dan bertanya, 'Asin?' Sinta mencicip, bilang, 'Pas. Fakta: aku lapar. Rasa: aman tipis. Stop.' Algojo di kepala Bara diam sebentar. Cukup.