Putusan itu tidak di pengadilan. Di meja makan rumah Mahesa—kursi tidak lagi di ujung dunia; masih ada jarak, tapi bisa dijangkau tangan. Lampu kuning. Tidak ada map perang di tengah. Laila di dapur dengan kopi, siap mengintervensi. Dina di video call singkat dari mobil: 'Aku saksi jarak jauh. Kalau bau jebakan, bilang. Aku putar balik.'
Sinta meletakkan pena di meja, tidak untuk teken cerai—untuk hadir sebagai batas yang kelihatan. 'Aku mau bilang putusan ku. Dengarkan sampai selesai. Prenup masih ada; aku tahu. Aku bisa perang kertas. Aku pilih tidak—untuk sekarang—bukan karena terjebak. Karena aku memilih coba. Syarat: kejujuran dulu, bisnis belakangan di rumah. Tidak ada spreadsheet namaku. Tidak ada isolasi. Tidak ada 'bagus' untuk orang jatuh. Laila boleh menginap tanpa izin mu. Terapi lanjut. Lima menit fakta lanjut. Hartono selesaiin tanpa makan Ibu dan tanpa makan aku. Kalau kau langgar, aku pergi dan perang kertas. Ini bukan ancaman romantis. Ini kontrak hidup yang kuucapkan. Ulangi kalau perlu.'
Bara menelan, tangan di notes tinta yang sudah siap. 'Aku terima syarat. Aku tambah dari sisi ku: aku tidak meminta kau mencintaiku malam ini. Aku meminta izin jadi suami yang belajar, bukan algojo. Aku menikahimu untuk menjebak. Aku melanjutkan pernikahan ini karena pilihan—kau yang bilang coba, aku yang bilang ya tanpa mengatur hasil. Kalau suatu hari kau pilih selesai, aku tidak isolasi kartu untuk menahan. Aku tidak belanja penebusan untuk menahan. Aku sudah cukup jadi mereka.'
Sinta menatapnya lama. Di dapur, Laila tidak berbunyi. 'Ulangi kalimat tentang jebak dan pilihan. Pelan. Mau kudengar tulang lidah mu.'
'Aku menikahimu untuk menjebak,' kata Bara, masing-masing suku kata, mata tidak kabur ke slide. 'Aku melanjutkan karena pilihan—bukan jebakan. Pilihan mu. Pilihan ku. Dua-duanya harus hidup. Kalau satu mati, kita berhenti. Aku tidak menahan pintu.'
Laila di dapur bilang pelan, 'Catat. Aku dengar.' Dina di ponsel: 'Aku dengar. Jangan romantisasi. Kerjakan. Sinta, pena tetap di tas.'
Sinta mengangguk. 'Baik. Aku pilih coba. Aku belum bilang 'selamanya'. Aku bilang: hari ini, minggu ini, dengan syarat. Ranjang perang lama tidak kupakai. Kamar yang sama boleh—pelan, stop milik ku. Nama ku di publik: guru, istri yang memilih, bukan alat. Kau bilang itu ke Arman. Ke dewan. Ke diri mu. Ke Mama kalau Mama tanya.'
'Aku bilang,' sahut Bara. Ia tidak berlutut. Ia tidak belanja cincin baru. Ia menulis syarat Sinta di notes tinta, meneken tanggal, memutar kertas sepanjang meja. Sinta membaca dua kali, meneken inisial S.W.—bukan notaris; janji yang bisa ia sobek kalau dilanggar. Lalu ia simpan pena kembali ke tas. 'Pena tetap ada. Bukan karena aku mau pergi tiap jam. Karena aku tidak mau lupa aku punya kaki.'
Bara tersenyum kecil, sedih, manusia. 'Pena boleh. Kaki boleh. Aku tidak potong. Aku tulis juga di notes ku: pilihan, bukan jebakan. Kalau aku lupa, kau temper ke kepalaku dengan pena itu. Pelan saja—kepala ini masih belajar.'
'Murah,' sahut Laila dari dapur. 'Tapi efektif.'
Malam itu mereka makan di rumah—makanan sederhana, sayur, ikan, nasi; pembantu ikut makan di meja yang sama atas permintaan Sinta: 'Jangan dua dunia. Kalau malu, malu bersama.' Bara kaku, belajar menyuap tanpa memerintah, belajar bilang 'tolong' pada orang yang dulu hanya mengangguk. Laila tinggal sampai jam sembilan, memeriksa kamar, lalu pulang dengan helm. 'Aku bisa balik. Telepon. Jangan hero.' Sinta mengantar ke pagar, kembali, berdiri di ruang tamu yang pernah jadi lapangan perang. Timer taman nyala. 'Ini pilihan,' bisiknya, lebih ke diri sendiri. 'Bukan jebakan. Kalau jadi jebakan lagi, aku tahu jalan keluar. Aku punya kaki. Aku punya Laila. Aku punya pena.'
Bara mendengar dari ambang, tidak menyela. 'Aku juga tahu: jalan keluar milik kau. Aku tidak menahan pintu. Aku belajar berdiri di samping, bukan di atas.'
Mereka tidur di kamar yang sama untuk pertama kali sejak putusan—bukan untuk membuktikan apa pun pada berita; untuk latihan napas berdampingan, stop yang masih berlaku, tubuh yang masih ingat trauma dan tetap memilih hati-hati. Fade. Tidak ada sumpah abadi di langit-langit. Hanya dua orang yang memilih, malam itu, tidak berlari: satu dari altar, satu dari sofa, bertemu di tengah yang masih waspada, masih kotor di belakang, masih mungkin gagal—dan justru karena itu, bukan jebakan.
Arc G menutup bukan dengan sempurna; dengan putusan yang bisa diucapkan ulang besok, jelek, jujur, tanpa tipu. Di luar, Hartono masih ada di folder. Di dalam, prenup masih kertas. Di antara keduanya, pilihan hidup: dikerjakan, bukan diiklankan. Di meja makan, notes tinta masih terbuka pada baris terakhir Bara yang ditulis sebelum lampu mati: 'Hari ini aku tidak menjebak. Hari ini aku memilih. Besok ulang.' Dan Sinta, sebelum tidur, menambah satu baris di buku RPP-nya: 'Aku juga. Bukan alat. Bukan tiket. Pilihan. Besok ulang lagi.' Laila, di rumahnya, menerima pesan singkat Sinta—'masih napas. pilihan. jangan khawatir'—lalu membalas: 'Tidur. Pena di tas. Besok guru. Aku bangga tanpa khotbah.' Itu penutup Arc G yang pantas: bukan pesta, bukan slide, hanya orang-orang yang menjaga agar pilihan tidak kembali jadi jebakan malam itu.