Portal yang lapar tidak suka rujuk pelan. Mereka suka judul. Mereka suka foto dari motor. Mereka suka kata 'alat' karena pendek dan menjual.
Tiga hari setelah malam kamar tamu, berita muncul sebelum jam tujuh di dua portal sekaligus: 'Istri CEO Mahesa—alat balas dendam yang kini 'merayu' publik dengan drama keluarga?' Bahasa menjijikkan. Foto Sinta di gerbang SD, diambil dari motor tanpa izin, wajah setengah terpotong, murid buram di belakang. Spekulasi prenup. Spekulasi Hartono dibalik seolah Sinta dalang. Spekulasi 'guru yang tahu permainan'. Ada paragraf yang mengutip 'sumber dekat dewan'—bau parasit. Laila marah dulu sampai hampir lempar ponsel. Dina marah sampai mengancam somasi sendiri. Arman menelepon Bara di mobil: 'Ini parasit yang kita putus. Atau sisa gigi Hartono. Atau keduanya. Saham goyang. Aku bisa tarik. Kau jangan sendiri ke portal dengan emosi. Jangan 'lindungi' istri dengan bahasa istirahat. Dia akan teken pena. Aku sudah siap kerangka bantahan angka—bukan kerangka isolasi.'
Sinta membaca di ruang guru, tangan gemetar, kapur patah. Rekan melirik; Laila menghalangi pertanyaan. Kepala sekolah sempat masuk, khawatir orang tua murid; Sinta bilang singkat, 'Aku ajar. Berita di luar pagar. Tolong jaga gerbang.' Bel bunyi. Sinta masuk kelas, menulis tanggal, tersenyum pada Raka, mengajar pecahan sampai istirahat—karena murid tidak pantas jadi korban judul. Setelah jam, ia kirim ke Bara—langsung, tanpa Laila dulu: 'Jangan tarik sendirian. Jangan isolasi aku 'demi aman'. Aku mau pernyataan bersama. Bukan kau melindungi citra. Kita. Kalau kau bilang 'istri istirahat', pena. Syarat lama. Foto gerbang: tarik. Sekolah: jangan jadikan lokasi syuting. Orang tua murid jangan diganggu wartawan.'
Bara membalas hampir segera: 'Bersama. Draft kutkirim. Kau edit. Kau yang setuju final. Legal siaga. SD: keamanan non-logo. Laila pilih orang. Aku tidak masuk gerbang. Aku tidak pidato sendirian.'
Mereka rapat singkat di rumah Laila—bukan Mahesa, bukan hotel. Sinta, Bara, Laila, Dina, pengacara independen, laptop di meja makan kecil. Draft pertama Bara masih berbau korporat—'permasalahan internal yang sedang ditata'. Sinta mencoret sampai merah. 'Hapus 'istri yang dipahami'. Tulis aku Sinta Wijaya, guru, bukan alat. Pernikahan dimulai dengan tipu dari pihak Bara Aditya—itu diakui. Sekarang kami mengejar pihak yang memanen perang, bukan mengorbankan perempuan untuk narasi. Jangan sentuh murid ku. Jangan foto sekolah. Jangan sebut Ibu kecuali untuk bilang jangan diganggu.'
Bara mengangguk, menerima coretan seperti menerima syarat di malam dulu. 'Benar. Aku tulis ulang.' Arman mengirim pesan di tengah rapat: 'Dewan minta kau tidak akui tipu di publik. Risiko.' Bara membalas Arman di depan Sinta, layar diputar: 'Aku akui. Angka Hartono kau yang jaga. Deal lama. Tanpa isolasi. Tanpa tulang.' Sinta menatap pesan itu, mengangguk sekali. 'Baik. Lanjut.'
Pernyataan keluar sore itu—video singkat di akun resmi Mahesa dan akun pribadi Sinta yang jarang dipakai. Latar dinding netral, bukan logo besar. Bara bicara dulu, datar, tanpa jas: 'Aku menikahi istri ku dengan rencana balas dendam. Itu salah. Aku sudah menghentikan segala tekanan yang memakai dia sebagai saluran. Operasi terhadap pihak yang menunggangi konflik lama berjalan lewat jalur legal. Jangan ganggu sekolah. Jangan seret ibu mertua. Jangan foto anak-anak.' Sinta bicara setelahnya, singkat, jelas, blus guru: 'Aku bukan alat ayah ku, bukan alat suami ku, bukan bumbu berita. Aku guru. Aku pilih bicara supaya anak-anak di kelas tidak diisi gosip orang dewasa. Koreksi foto liar. Kami hadapi bersama. Bersama bukan berarti aku sudah lupa tipu. Bersama berarti aku tidak dijual sendirian lagi.'
Bukan sempurna. Komentar masih kotor. Ada yang bilang sandiwara. Ada yang bilang lemah. Tapi portal yang menyalin foto gerbang mendapat somasi; foto turun dalam hitungan jam. Parasit mencoba spin di grup investor; Arman siap angka dan kronologi Hartono. Di rumah Laila malam itu, Sinta duduk di lantai, kepala ke dinding, Laila mengusap punggung. 'Capek. Tapi aku tidak merasa sendirian di judul.'
Bara duduk jauh dulu, lalu—setelah Sinta mengangguk—lebih dekat satu jengkal. 'Aku hampir 'melindungi' dengan cara lama. Terima kasih kau potong. Bersama lebih sulit. Lebih benar. Besok aku antar makanan ke ruang guru—tanpa masuk dalam. Taruh, pergi. Tanpa kamera.'
Laila melempar bantal ke Bara. 'Bagus. Tunjukkan bersama yang tidak berkamera. Jangan khotbah.' Bara menangkap bantal, kaku, mengangguk. Sinta hampir tersenyum—hampir. Di ponsel, somasi pertama sudah terkirim; Arman mengirim centang tanpa emotikon. Isu tidak selesai dalam semalam. Yang selesai: mereka tidak saling jual di publik untuk selamat sendiri. Itu botol air versi berita—angkatan bersama, bukan kuil. Di SD keesokan harinya, kotak makanan di meja guru tanpa nama pengirim di luar; di dalam, catatan: 'Taruh pergi. Fakta: aku takut. Rasa: tetap. Stop.' Sinta membaca, menyimpan catatan di buku RPP, mengajar. Rekan guru bilang, 'Berani.' Sinta menggeleng. 'Bukan berani. Capek jadi bumbu sendirian.' Laila menyodorkan kopi. 'Bersama, kadang, hanya kotak makan dan somasi. Cukup. Jangan baca komentar.' Sinta tidak baca komentar kotor. Ia tulis soal di papan. Isu masih bergema di luar pagar; di dalam kelas, pecahan lebih penting. Dan itu, untuk hari itu, adalah kemenangan kecil yang tidak masuk slide dewan pagi—kemenangan yang mereka pilih bersama, tanpa kamera, tanpa kata 'selamat'.