Ibu Rina Aditya tidak di makam. Ia di rumah perawatan yang sunyi, kamar dengan jendela menghadap pohon yang sama tiap pagi, selang oksigen tipis, mata yang masih marah pada dusta meski tubuh sudah tipis. Bara datang tanpa jas, tanpa Arman, tanpa map Hartono. Hanya amplop ayah yang sudah sering ia baca, dan satu amplop lain yang perawat serahkan dari laci Ibu—tulisan Rina, lebih baru, sudut kusut: 'Untuk Bara—kalau kau sudah capek jadi kuil'.
Perawat bilang pelan di koridor, 'Beliau digelisah kalau berita saham. Jangan bawa layar. Buah boleh. Diam lebih baik dari pidato.' Bara mengangguk, meninggalkan ponsel di mobil. Di kamar, bau antiseptik dan sabun bayi yang dipakai perawat untuk kulit kering. Ia duduk di kursi plastik. Ibu membuka mata pelan, fokus, mengenali.
'Anak. Bau perang mu menipis. Bagus. Jangan bawa perang ke selang ku. Jangan bilang 'selamat'. Selamat itu dusta orang kaya.'
'Aku geser target,' kata Bara. 'Hartono. Bukan tulang mertua lewat istri. Aku… aku menikahi orang untuk altar. Aku pakai wajah Mama. Aku kotor. Aku minta maaf pada Mama—bukan supaya Mama bilang baik. Supaya aku bilang di depan orang yang wajahnya kupakai.'
Rina mendengus, batuk kecil, jari menunjuk amplop di pangkuan Bara. 'Baca. Aku tulis waktu kau masih sibuk jadi tuhan kecil. Ayahmu sudah bilang jangan kuil. Aku bilang jangan pakai wajah ku sebagai senjata. Perempuan itu—guru—bukan aku. Kalau kau sayang aku, jangan jadikan dia cermin mayat. Kalau kau sayang dia, bilang tanpa foto lama. Kalau tidak sayang, lepaskan tanpa stiker. Pilih. Mama capek lihat anaknya menang dengan cara orang yang membunuh suamiku pelan-pelan. Capek itu juga sayang. Jangan salah baca.'
Bara membuka amplop Ibu. Tinta agak goyah, huruf besar:
Nak,
Kalau kau baca ini, berarti kau sudah cukup hancur untuk mendengar. Bagus. Hancur lebih jujur dari slide. Ayahmu tidak minta balas dengan istri. Aku tidak minta balas dengan wajah ku. Aku minta kau hidup. Hidup itu angkat orang di tanah, termasuk dirimu. Jangan tunggu Mama mati untuk berhenti jadi mereka. Berhenti sekarang. Kunci laci foto. Buka pintu orang hidup. Kalau perempuan itu mau pergi, hormati. Kalau dia mau tinggal, jangan beli dengan uang. Beli dengan tidak bohong lagi—tiap hari, jelek, pelan. Mama tidak butuh kuil. Mama butuh kau datang tanpa map.
Mama.
Bara menekan kertas ke dahi seperti dulu pada surat ayah. Dua surat. Satu dari orang mati. Satu dari orang yang masih bernapas lewat selang. Rina mengulurkan tangan; ia pegang. Tulang Ibu ringan, hangat tipis. 'Aku kunci laci,' katanya. 'Aku sudah bilang rencana ke dia. Dia belum percaya. Adil. Aku tidak buru.'
'Adil,' sahut Rina. 'Jangan buru. Mama tidak butuh cucu dari tipu. Mama butuh kau tidak gantung mayat ayah di leher orang lain. Pergi. Kirim buah, bukan berita. Kalau kau mau, suatu hari bawa guru itu—bukan untuk perkenalan mertua perang. Untuk bilang: dia bukan aku. Di depan ku. Supaya selesai. Supaya foto lama tidak lagi jadi hantu di rumah mu.'
Bara mengangguk, mencium punggung tangan Ibu, keluar sebelum air matanya jadi beban selang. Di mobil ia duduk lama, mesin mati, lalu kirim ke Laila: 'Ibu ku minta suatu hari Sinta datang—bukan rujuk, penutup: dia bukan wajah Mama. Tolak boleh. Aku tidak bel. Hartono lanjut. Aku kunci laci foto malam ini. Kabari saja.'
Sinta membaca di sofa, lama, kapur masih di ujung jari. Laila bilang, 'Ini bukan tiket. Ini batas yang pernah kau ucapkan sendiri. Kalau mau, kita datang singkat. Kalau tidak, tulis saja. Kau yang punya wajah itu di kepala orang. Kau yang berhak menutup.'
Sinta datang dua hari kemudian, blus sekolah, Laila di samping, Dina di mobil luar. Bukan rumah Mahesa—rumah perawatan. Bara di koridor, tangan di saku, tidak memegang tangan Sinta. 'Terima kasih datang. Pintu kau. Keluar kapan saja.' Sinta mengangguk. Di kamar, Rina menatap Sinta lama, dari rambut ke mata ke tangan yang ada kapur. 'Mirip. Bukan sama. Anak ku bodoh. Kau guru?'
'Ya,' sahut Sinta. Suaranya stabil. 'Bu, aku bukan Ibu. Aku bukan dosa keluarga ku, dan bukan dosa anak Ibu. Aku Sinta. Aku bilang itu dulu ke anak Ibu. Sekarang aku bilang di depan Ibu supaya selesai.'
Rina tersenyum tipis, marah yang sudah lelah jadi lembut. 'Bagus. Ingat itu waktu dia digoda jadi altar lagi. Kau boleh marah. Kau boleh pergi. Kau boleh tinggal. Yang tidak boleh: jadi aku. Pergi. Jangan lama. Selang ku lebih penting dari drama. Anak—kunci laci. Kulihat.'
Bara mengangkat ponsel—foto laci terbuka di rumah, kosong dari foto perang, hanya surat. Rina mengangguk. 'Cukup.'
Di parkir, Bara tidak meminta pelukan. 'Terima kasih. Penutup untuk ayah… dan Mama. Bukan tiket.'
'Sama,' sahut Sinta. 'Penutup. Sofa tetap. Kalau kau buka laci foto untuk perang lagi, aku tahu. Kalau Mama minta buah, kirim buah. Jangan kirim aku sebagai hadiah.' Ia pergi naik motor Laila. Bara kembali sebentar, mencium dahi Ibu, meletakkan kedua surat di laci kamar perawatan yang sama—terbuka, tidak dikunci. Luka ayah tidak hilang. Ia ditutup dengan cara yang diminta orang mati dan orang hidup: jangan jadi mereka, jangan pakai wajah Mama, angkat dulu. Di jalan pulang, Bara menangis sekali, pendek, tanpa audience—lalu mengusap, menyetir, membawa map Hartono ke kantor seperti orang yang akhirnya boleh perang tanpa membawa mayat di dasi. Malam itu ia benar-benar mengunci laci rumah, kunci ia masukkan ke amplop, tulis: milik Mama. Jangan perang. Lalu ia tidur di sofa dengan dada yang lebih longgar satu lubang—bukan sembuh; hanya tidak lagi memakai wajah Ibu sebagai senjata.