Terapi itu ide Laila, bukan Bara. 'Kalian sudah perang, map, maaf kaku, pengakuan, penutup Mama. Belum bicara dengan aturan. Aku cari orang netral. Bukan seleb. Bukan orang Mahesa. Bukan orang Wijaya. Satu jam. Kursi jauh boleh. Aku di luar. Kalau tipu, aku masuk bawa pena. Kalau menangis, aku tidak masuk—itu kerja kalian.'
Sinta setuju setengah hati, di dapur sofa, mengaduk kopi yang tidak manis. 'Kalau dia pakai sesi untuk merayu—'
'Kau keluar,' potong Laila. 'Aku yang jaga. Dina standby. Kau tidak sendiri.'
Bara setuju tanpa tawar—takut tawar berbau strategi. Ia bayar klinik tanpa logo di kwitansi yang dikirim ke Laila dulu. Ruang kecil di klinik biasa, bau antiseptik tipis, dua kursi, satu meja rendah, tisu, jam dinding yang bunyinya terlalu jelas. Konselor perempuan berusia empat puluhan, kemeja sederhana, tidak tertarik saham. 'Aturan: jangan interupsi. Jangan 'yang penting'. Bilang fakta dan rasa. Aku bukan hakim cerai. Aku penada jalan. Mulai dari yang paling takut diucapkan. Siapa duluan?'
Sinta mengangguk ke Bara. Bara menarik napas. 'Aku menikahi Sinta untuk menghancurkan keluarganya dan memakai wajahnya. Aku menyiksa emosional. Isolasi. Spreadsheet. Stiker. Aku takut dia pergi karena itu berarti aku harus jadi manusia tanpa altar. Aku juga takut dia tinggal karena kasihan atau uang atau prenup. Aku… aku sayang. Kata itu masih kotor di mulut ku. Aku bilang tetap: berubah. Belum pantas dipercaya. Aku takut tipu lagi tanpa sadar—karena tipu pernah jadi napas.'
Konselor mengangguk, tidak menghibur. 'Sinta?'
Sinta duduk tegak, tangan di tas tempat pena. 'Aku trauma. Malam pertama. Foto Mama. Stiker. Spreadsheet. Ibu di berita. Aku tidak percaya kata 'sayang' atau 'berubah' tanpa bukti berulang yang membosankan. Aku takut dilemahkan oleh maaf. Aku takut jadi alat ayah ku lagi. Aku masih di sofa karena sofa jujur. Aku datang ke sini karena aku mau dengar tanpa tipu—bukan karena aku siap ranjang. Kalau dia tipu di sini, aku keluar. Kalau kau bela dia karena bayaran, aku juga keluar.'
Konselor tersenyum tipis. 'Aku digaji untuk netral, bukan bela. Lanjut. Bara—sebut satu detail tipu yang belum pernah kau bilang ke Sinta.'
Bara menelan. 'Aku punya daftar pendek sebelum mendekati. Nama. Sekolah. Kebiasaan taman. Aku latihan senyum di cermin. Aku pilih hari hujan supaya kelihatan 'lembut'. Aku menikmati ketakutan Sinta di minggu-minggu awal seperti orang menikmati grafik. Sekarang itu membuatku mual. Aku bilang ini bukan untuk minta kasihan. Untuk catatan.'
Sinta memegang tisu sampai sobek. 'Aku pernah hampir mencintai sebelum malam pertama. Itu membuat pengkhianatan lebih dalam. Aku masih memandang kau mencari tipu di tiap transfer dan tiap 'baik'. Aku lelah. Lelah bukan tiket pulang. Lelah adalah alasan aku butuh aturan.'
Mereka bicara hampir dua jam. Jadwal satu jam molor; konselor mengizinkan setelah minta izin keduanya. Yang keluar bukan solusi rapi: takut, malu, marah, daftar batas. 'Apa yang kalian butuhkan minggu ini—bukan seumur hidup?' tanya konselor.
Sinta: 'Jarak yang dihormati. Berita yang ditarik kalau menyerang aku. Tidak ada bel. Bukti arah Hartono tanpa detail yang memakan kepala. Bicara terjadwal—lewat Laila dulu. Lima menit fakta dan rasa tiap hari. Tanpa solusi. Tanpa 'jadi pulang saja'.'
Bara: 'Izin gagal tanpa balik jadi algojo. Izin bilang takut. Izin tidak membeli penebusan. Aku butuh kau bilang tidak kalau tidak. Jangan diam demi damai palsu. Aku butuh Laila boleh masuk rumah tanpa aku merasa dia musuh.'
Konselor menulis. 'Latihan itu wajib. Chat boleh. Bukan khotbah. Minggu depan kita lihat. Kalau ada kekerasan emosional ulang—isolasi, ancaman, spreadsheet, 'bagus' untuk orang jatuh—sesi ini berhenti dan jalur aman diutamakan. Pena Sinta lebih tinggi dari PR suami. Sepakat?'
Keduanya bilang 'sepakat', tidak bersamaan—Sinta dulu, Bara kemudian. Di luar, Laila berdiri dengan helm. Sinta keluar lebih dulu. 'Tanpa tipu. Capek. Belum percaya penuh. Tapi aku tidak merasa dibuka seperti laci hari ini—aku yang buka mulut ku. Itu beda.' Bara keluar belakangan, mata merah, tangan di saku. 'Terima kasih,' katanya pada Laila, kaku. Laila mengangguk. 'Jangan bel. Lima menit fakta. Itu PR. Kerjakan. Kalau kau kirim puisi, aku blok.'
Malam itu chat pertama tepat lima menit: Bara—'Fakta: aku takut kau baca berita buruk tentang ku lalu menyamakan semua dengan malam pertama. Rasa: malu dan waspada pada diriku sendiri.' Sinta—'Fakta: aku makan malam di sofa tanpa bipan ke murid. Rasa: waspada yang agak lebih longgar. Bukan rujuk. Stop.' Bara membalas hanya: 'Diterima. Stop.' Tanpa tipu. Tanpa tiket.
Keesokan harinya, sebelum masuk kantor, Bara mengulang PR di mobil: fakta dan rasa, tanpa solusi. Sinta mengulang di toilet guru, pintu terkunci, Laila menjaga luar. Konselor menerima laporan singkat dari Laila: 'Mereka kerjakan PR. Jangan puji di sesi. Puji beracun bagi orang yang baru belajar jujur.' Di kepala Sinta, satu kalimat tertinggal dari ruang kecil itu: pena lebih tinggi dari PR suami. Ia simpan itu di samping kapur sekolah. Di kepala Bara, kalimat lain: izin gagal tanpa balik algojo. Ia simpan itu di samping surat Mama. Tanpa tipu, minggu itu, bukan berarti tanpa takut—hanya takut yang akhirnya boleh dinamai tanpa dijadikan senjata.