Arman datang malam itu ke ruang CEO tanpa ketuk, map merah, bau kopi pahit yang tidak dibeli di pantri. Di belakangnya dua orang dari lingkar dewan yang biasa 'menenangkan'—senyum formal, sepatu mengilap, mata lapar. Bara sudah menunggu. Surat ayah di laci, bukan di depan mereka. Di layar, status Hartono: UTAMA. Di pad, satu baris: jangan jadi mereka.
'Kau terlalu jauh,' kata Arman duluan, sebelum parasit bicara. 'Hapus leverage istri. Geser target. Buka kebenaran semi-publik. Saham goyang. Sekarang ada yang minta kau mundur dari operasi Hartono—atau mundur dari kursi. Bahasa mereka: CEO terdistraksi. Bahasa halus: kembalikan kejam yang bisa dijual. Aku bawa mereka supaya kau dengar lapar dari sumbernya. Aku tidak bilang setuju. Tapi aku bau risiko. Lebih baik kau marah di sini daripada dikagetkan di rapat pagi.'
Salah satu orang dewan tersenyum, duduk tanpa diminta, meletakkan pulpen emas di meja seperti ancaman sopan. 'Pak Bara, kami menghargai moral. Pasar tidak. Kalau perlu, kami siapkan skenario: isolasi singkat urusan rumah tangga, lanjutkan tekanan terukur pada sisa Wijaya, tahan Hartono di jalur diam supaya tidak bikin gelombang. Rapi. Lama. Menguntungkan. Istri bisa 'istirahat'. Bahasa yang sudah pernah jalan. Publik kecil. Terkendali. Kau pernah ahli.'
Bara menatap mereka satu per satu. Darah di telinga. Bahasa yang sama dengan malam-malam Arman dulu. Bahasa yang sama dengan stiker. 'Tidak. Hartono utama. Wijaya tidak lewat istri. Isolasi rumah tangga tidak. Kalau kalian mau kejam yang bisa dijual, jual diri kalian ke orang abu-abu. Jangan pakai kursiku. Jangan pakai namaku. Jangan pakai mayat ayahku sebagai pupuk portofolio.'
'Kau berhutang pada kami,' kata orang itu pelan, senyum tidak retak. 'Kami yang jaga narasi dua puluh tahun. Kami yang buat Mahesa terlihat bersih saat kau makan.'
'Narasi itu dusta separuh,' sahut Bara. 'Aku sudah bilang di meja semi-publik. Kalau kau jaga dusta, kau bukan sekutu. Kau parasit. Arman—pilih. Kemarin kau bilang ikut Hartono. Hari ini kau bawa parasit ke ruang ku. Kalau kau di pihak mereka, letakkan ID di meja. Kalau tidak, usir mereka dari lantai ini. Sekarang.'
Diam. AC bunyi. Orang dewan tersenyum lebih tipis. 'Kau akan menyesal. Orang sofa membuat CEO buta.'
'Aku sudah menyesal lebih dulu,' sahut Bara, berdiri. 'Pada istri. Pada ayah. Pada mayat yang kujadikan kuil. Pada baris Excel. Menyesal pada kalian lebih murah. Keluar. Surat pemutusan untuk konsultan luar yang mengusulkan isolasi rumah tangga—Arman, siapkan malam ini. Siapa yang mendorong kembali ke altar, keluar dari lingkar operasional ku. Mulai sekarang. Pulpen emas itu bawa pulang. Meja ini tidak butuh ancaman sopan.'
Orang itu mengambil pulpen, senyum retak. 'Kau pilih guru SD daripada dewan.'
'Aku pilih catatan daripada dusta,' sahut Bara. 'Keluar.'
Arman membuka pintu. Rahangnya keras. 'Keluar. Keputusan CEO jelas. Aku ikut angka bersih, bukan parasit. Kalau kalian bawa ini ke dewan sebagai kudeta halus, aku siap angka Hartono. Bukan angka istri.' Ia menatap Bara setelah mereka pergi, suara rendah, hampir marah. 'Aku hampir tidak. Aku bau ragu mu sejak surat. Tapi aku lebih bau busuk mereka. Jangan buat aku menyesal. Selesaikan Hartono. Jangan khotbah di dewan. Aku jaga lantai. Kau jaga mulut supaya tidak jadi tiket murah ke sofa—itu urusan mu, bukan urusan ku. Dan Bara… terima kasih jangan. Kerja.'
Bara mengangguk. 'Kerja.'
Setelah pintu tertutup, ia duduk lama, tangan gemetar tipis di atas map merah yang ditinggalkan—kosong, hanya ancaman tanpa angka. Di kepala bergabung: stiker, isolasi, 'istri istirahat', senyum Hartono, surat ayah. Ia buka laci, baca satu baris jangan jadi mereka, tutup lagi. Lalu ia kirim ke Laila: 'Sekutu beracun kutputus. Ada yang minta isolasi rumah tangga lagi—kutolak. Kabari Sinta: bukan permintaan tiket. Informasi. Hartono lanjut. Aku tidak balik stiker. Aku tidak balik file. Kalau ada rumor kudeta, aku yang tanggung. Jangan bipan ke sofa.'
Arman masuk lagi sebentar, tanpa parasit. 'Surat pemutusan kuteken. Dua nama. Mereka akan coba dewan. Aku siap angka. Kau siap jangan goyah ke tulang. Deal?' Bara mengangguk. 'Deal. Tanpa tulang. Tanpa isolasi.' Arman keluar. Bau kopi pahit menipis.
Sinta membalas malam itu dari sofa, setelah Laila membacakan dua kali: 'Dicatat. Tetap waspada. Orang beracun jarang pergi diam. Jaga Ibu. Jaga arah. Jaga dirimu tanpa jadi altar lagi. Jangan bel. Kalau mereka serang lewat berita soal aku, tarik seperti Ibu. Aku bukan bumbu. Aku bukan penyeimbang kudeta mu.' Bara membaca, tersenyum kecil tanpa senang—hanya lega bahwa jalur masih dingin dan masih hidup. Di laci, ia tulis nama-nama yang baru diputus, bukan di TARGET_W, di folder baru: JANGAN PINJAM. JANGAN JADI MEREKA. Malam itu kuil kehilangan beberapa penjaga palsu. Bau lebih bersih. Lebih sepi. Lebih cocok untuk orang yang belajar jadi manusia tanpa audience. Di luar kaca, kota tetap lapar. Di dalam, Bara belajar lapar itu tidak harus digizi dengan parasit—dan bahwa memutus sekutu beracun terasa lebih seperti botol air daripada seperti menang di slide. Ia matikan lampu ruang CEO terakhir, biarkan gelap mengisi kursi dewan yang kosong, lalu pulang membawa map Hartono saja—bukan map merah ancaman kosong.