Bara tidak menunggu suasana hati Sinta membaik. Percaya bukan syarat untuk membersihkan senjata. Senjata yang masih hidup di folder adalah dusta pada pengakuan semalam.
Pagi itu ia panggil legal internal, satu staf IT keamanan file, dan pengacara independen yang sama dengan operasi Hartono. Arman hadir, wajah datar, kopi tidak disentuh. Di layar proyektor: folder Ops, sisa daftar Wijaya, subfolder 'lewat istri / akses keluarga / tekanan emosional / citra'. Bara scroll pelan, disaksikan kamera rapat internal yang ia nyalakan sendiri—bukan untuk publik, untuk arsip yang bisa dikirim ke Sinta dan ke pengadilan kalau perlu.
'Semua baris yang memakai Sinta Wijaya sebagai saluran—dibatalkan. Permanen. Tidak diarsip aktif. Tidak di-backup sebagai opsi cadangan. Tidak 'ditahan'. Mati. Kalau ada yang mengembalikan tanpa perintah tertulis bertanda tangan ku, itu pelanggaran dan alasan pemutusan. Arman, catat. Legal, catat. IT, catat hash. Aku kirim berita acara ke pengacara independen hari ini juga.'
Arman mengangguk tipis. 'Dewan akan tanya kenapa kau buang leverage. Mereka akan bilang emosional. Mereka akan bilang sofa.'
'Bilang leverage itu related party abuse dan racun reputasi,' sahut Bara. 'Bilang aku tidak mau lagi. Kalau mereka lapar tulang, kasih mereka Hartono dan jalur hukum yang bersih. Kalau kurang, aku yang tanggung marah di depan mereka. Jangan kau jadi penerjemah parasit. Jangan usul isolasi rumah tangga. Kalau ada yang usul, aku putus.'
Ia hapus. Konfirmasi. Hapus permanen. Beberapa file menolak karena permission lama; ia override dengan password yang hanya ia dan Arman tahu—lalu ia ganti password di depan mereka, beri Arman yang baru, catat di berita acara. Satu folder sempat muncul lagi dari 'recent'; Bara menghapus recent, menghapus shadow copy, meminta IT konfirmasi di suara. 'Mati berarti mati. Bukan tersembunyi.' Layar mengosongkan museum. Tangan sedikit gemetar—bukan ragu, seperti orang mematahkan pisau yang sudah terlalu lama dipegang sampai terasa seperti jari. Staf IT mengangguk. Pengacara independen meneken stempel. 'Kami kirim salinan ke pihak Sinta Wijaya lewat kuasa yang ditunjuk.'
'Lewat Bu Laila dan Dina Wijaya,' kata Bara. 'Bukan ke SD. Bukan satpam ku. Bukan asisten yang suka berbunga-bunga. Kertas. Stempel. Hash. Selesai. Kalau dewan tanya sore ini, bilang aku buang racun. Jangan bilang aku buang istri.'
Arman mencatat. 'Sore ini mereka pasti tanya. Aku siap. Kau siap jangan goyah.'
Siang, Sinta menerima amplop di rumah Laila. Bukan bunga. Berita acara. Hash. Daftar yang dicoret. USB kecil berisi log penghapusan. Di bawah, catatan tinta Bara, jelek, tegak: 'Dibatalkan. Tidak lewat kau. Tagihan Wijaya belakangan—jalur lain, tanpa ibu, tanpa kau sebagai pintu. Kalau aku bohong, pena. Aku tahu. Ini bukan bukti cinta. Ini bukti aku berhenti memakai kau sebagai senjata.'
Sinta duduk lama di lantai sofa, punggung ke kusen. Laila diam, membuat teh yang tidak diminum. Dina membaca lebih dulu, jari cepat, lalu bilang, 'Ini nyata. Bukan chat. Kalau dia main-main, dia baru kasih kau bukti untuk pengadilan dan untuk media. Bodoh untuk tipu. Mungkin dia serius. Tetap jangan tiket. Serius belum berarti aman. Aman belum berarti pulang.'
Sinta meneken jari di kertas sampai ada bekas hangat. 'Aku catat. Aku belum pulang. Aku balas.' Ia mengetik pelan, membaca ulang sebelum kirim: 'Diterima. Lanjut Hartono. Jangan bilang ini bukti cinta. Ini bukti kau berhenti memakai aku sebagai senjata. Bedanya. Terima kasih kaku—sama seperti maaf mu. Jangan bel. Jangan SD. Sofa. Kalau file hidup lagi, aku tahu.'
Bara membalas satu kata yang jarang di layarnya: 'Benar.' Lalu, setelah ragu sebentar, menambah: 'Tidak hidup lagi. Hash di amplop. Arman saksi. Independen saksi.' Ia menatap kalimat itu, takut berbau strategi, lalu biarkan terkirim karena fakta.
Sore, Hendra menelepon Sinta, suara rendah, seperti orang berbicara dari lorong. 'Orang… orang bilang tekanan lewat kau dihentikan. Apa artinya untuk Ayah? Apa aku selamat? Apa kau minta dia—'
'Artinya aku bukan alat mu, dan bukan alat dia,' sahut Sinta, berdiri di dapur Laila. 'Artinya kau menghadapi konsekuensi tanpa menyembunyikan diri di belakang anak. Aku tetap anak. Aku tidak jadi perisai. Aku tidak jadi jembatan basah. Siapkan diri. Aku tidak menyerahkan kau ke buaya untuk pesta—tapi aku tidak menutupi. Dina akan bantu cari pengacara keluarga. Bukan pengacara Mahesa.'
Hendra terdiam lama. Napasnya serak. 'Baik.' Satu kata. Berat. Sinta menutup telepon, menatap berita acara lagi. Senjata dibatalkan. Percaya belum. Tapi lantai di bawah kakinya, untuk pertama kali sejak malam pertama, tidak digeser oleh spreadsheet yang memakai namanya. Itu bukan rumah. Itu tanah yang bisa digenggam sambil tetap waspada.
Malam itu Laila menyimpan USB di laci terkunci. 'Bukti. Kalau perlu, kita punya.' Sinta mengangguk, lalu menulis di notes pribadi: file mati ≠ hati percaya. Jangan campur. Di sekolah keesokan harinya, ia menulis tanggal di papan dengan tangan yang lebih tenang—bukan sembuh; hanya lebih sedikit dipakai perang orang lain. Di sela pelajaran, ia kirim ke Laila: 'Kalau dia balikin file, kabari. Aku siap pena.' Laila membalas: 'Siap. Aku juga. Makan siang. Jangan hanya kapur.' Sinta hampir tersenyum. Tidak jadi. Senjata orang lain mati; senjata di tasnya masih ada—untuk jaga, bukan untuk buru.