Esoknya Sinta mengajar seperti biasa. Itu pilihan. Bukan karena sembuh—karena murid tidak pantas menanggung topeng yang jatuh di rumah orang lain. Raka mengangkat tangan soal pecahan; Sinta menjawab; kapur tidak patah. Di papan ia menulis tanggal dengan tangan yang tenang di luar, waspada di dalam. Rekan guru bilang, 'Kau kelihatan lebih tidur.' Sinta tersenyum tipis. 'Sofa pinjaman enak.' Laila mendengus di belakang, menutupi.
Di jam istirahat Laila menyodorkan nasi bungkus. 'Makan. Jangan bipan ke anak karena suami bilang perasaan. Perasaan orang kaya sering datang setelah senjata tumpul.'
'Saya tidak bipan,' sahut Sinta, membuka nasi. 'Saya hitung. Rencana = terbukti. Perasaan = klaim. Klaim tanpa bukti berulang adalah tipu baru. Bukti berulang yang kupahami: hapus baris, tarik nama Ibu, geser target, batalkan senjata. Perasaan… itu bisa menunggu di belakang bukti. Atau tidak pernah datang ke mulut ku. Itu juga sah.'
Dina datang sore ke sofa Laila dengan map tipis, helm, dan wajah sepupu yang tidak suka drama. Ia duduk di lantai tanpa diminta. 'Aku dengar dari Laila. Dia akui rencana. Bagus. Jangan langsung percaya 'berubah'. Orang yang pintar merencanakan pernikahan juga pintar merencanakan penyesalan yang terdengar mahal. Aku cek legal: prenup masih mengikat. Cerai tetap sulit tanpa perang kertas. Jadi 'perasaan' bisa jadi cara menahan kau tanpa stiker. Waspada. Aku sayang kau. Aku tidak sayang cerita rujuk murah.'
Sinta mengangguk, menekan printout kosong di pangkuan. 'Aku waspada. Aku juga tidak teken pena hari ini. Hartono belum selesai. Ayah belum tagihan. Ibu baru stabil. Aku tidak kabur ke cerai hanya karena mulutnya jujur sekali. Aku juga tidak pulang karena mulut itu. Tengah. Sunyi. Aku tahan.'
Malam, Bara mengirim lewat Laila—patuh pada jalur, meski jari ingin bel: 'Aku tidak minta jawaban. Aku kirim ini supaya kau punya kertas, bukan hanya kata: daftar sisa rencana Wijaya yang pernah kutulis. Status: dibekukan. Aku tidak eksekusi. Kalau kau mau lihat file mentah, bilang. Di depan mu. Seperti hapusan baris. Aku tidak bilang ini cinta. Aku bilang ini kotoran yang kutunjukkan.' Lampiran PDF. Daftar. Nama. Tanggal. Beberapa sudah dicoret dengan tinta merah hasil scan: DIBATALKAN / TIDAK LEWAT ISTRI. Ada baris yang belum dicoret—Bara beri catatan: 'Ini akan kutangani besok di legal. Tidak diam-diam.'
Sinta membaca sampai mata perih, sampai nasi malam Laila dingin. Daftar itu adalah museum kekejaman yang rapi. Ada baris tentang 'tekanan lewat istri pada ayah'. Ada baris tentang 'citra publik'. Ada baris tentang 'isolasi untuk kepatuhan'. Ada baris yang sudah ia hidupi tanpa pernah melihat judulnya. Di bawah, catatan tangan Bara yang baru, miring, jelek: 'Perasaan berubah tidak menghapus ini. Ini bukti aku kotor. Aku tidak minta dimaafkan lewat lampiran. Aku minta kau punya senjata kalau aku bohong lagi.'
Laila membaca dari belakang bahu. 'Jujur. Tetap jelek. Jangan bilang cinta hanya karena dia kirim museum. Museum itu pantas dibakar—tapi jangan bakar sebelum kau fotokopi untuk pena.'
'Aku tidak bilang cinta,' sahut Sinta. 'Aku bilang: dia menunjukkan senjata. Itu langkah. Percaya perasaan? Belum. Percaya bahwa dia takut ketahuan bohong lagi? Mungkin. Bedanya besar. Yang satu meminta hatiku. Yang satu meminta aku tetap hidup dengan mata terbuka.'
Ia membalas sendiri, singkat, tanpa lewat Laila kali ini—karena ini jawabannya, bukan logistik: 'Diterima sebagai bukti kotor. Bukan sebagai bukti cinta. Jangan datang ke SD. Jangan bel. Kalau mau batalkan sisa rencana, batalkan di file dan di legal—bukan di chat manis. Aku belum percaya. Trauma malam pertama masih duduk di dada. Kau yang taruh. Kau yang tunggu. Bukan aku yang harus buru-buru sembuh supaya saham tenang. Selamat malam.'
Bara membaca di ruang CEO kosong, lampu hemat, kota di bawah seperti peta perang yang sudah usang. Kalimat itu menampar lebih telak dari dewan. Ia hampir menulis penjelasan panjang. Menghapus. Ia membalas: 'Baik. Aku tunggu. Aku tidak buru. Hartono lanjut. Sisa rencana Wijaya lewat kau—aku urus besok di file. Di depan saksi. Maaf kaku masih berlaku. Tidak kuambil. Tidur.'
Di sofa, Sinta tidur dengan satu tangan di atas pena cerai, satu tangan di atas printout daftar. Tidak percaya. Tidak teken. Bertahan di tengah—tempat paling sunyi, tempat paling jujur untuk orang yang pernah dibuka seperti laci. Laila mematikan lampu. 'Besok kau guru. Lusa kau anak. Suami belakangan. Urutan. Kalau mimpi buruk, bangunkan aku. Jangan ke marmer.'
'Saya ingat,' bisik Sinta. Di gelap, wajah Ibu Rina di foto lama Bara—wajah yang sempat ia kira miliknya—melintas lalu pergi. 'Aku bukan ibumu. Aku bukan dosamu.' Kalimat lama itu kembali sebagai perisai. Kalau Bara berubah, ia harus membuktikan tanpa memakai wajah itu lagi. Kalau tidak, pena. Sinta mengulang itu sampai tidur datang seperti orang yang menjaga pintu, bukan seperti orang yang menunggu rujuk. Sekali ia bangun jam tiga, jantung siap bel; tidak ada bel. Hanya kipas. Ia minum air, kembali tidur. Di rumah singa, Bara tidak tidur; ia menyusun urutan besok di pad: batalkan senjata, pecat parasit jika perlu, jangan bel. Menunggu, malam itu, adalah kerja yang lebih sulit dari menekan tombol—dan ia biarkan sulit itu ada tanpa menelepon sofa.