Bara minta satu meja lagi lewat Laila. Bukan bel. Bukan SD. Bukan bunga. Pesannya pendek, diketik ulang tiga kali sebelum kirim: 'Aku perlu bilang sesuatu yang tidak muat di chat. Bukan syarat baru. Bukan operasi. Mulut. Kalau menolak, aku dengar. Kalau datang, kursi jauh. Aku bawa telinga dulu—baru lidah. Jangan bangunkan kalau sudah tidur. Besok juga boleh.'
Sinta membaca di ruang guru, jam kosong, bau kopi sachet dan kapur. Laila di samping, sudah siap bilang tidak. Di luar jendela, anak-anak berlarian; dunia yang tidak peduli topeng. Sinta menggigit bibir. 'Kalau ini tipu untuk rujuk—'
'Pena,' potong Laila. 'Aku bawa. Aku duduk di dapur. Kalau bau altar, kita keluar. Kalau bau jujur yang menyakitkan, kita dengar lalu putuskan. Kau yang bilang urutan: Hartono dulu. Dia geser. Sekarang dia mau buka mulut. Mulut orang kotor lebih berbahaya dari map—tapi lebih perlu. Aku jaga pintu. Kau jaga dada.'
Sinta datang malam itu dengan jaket yang sama, tas yang sama, wajah yang sudah dilatih untuk tidak murah. Rumah Mahesa masih terlalu terang. Timer tidak tahu perang sudah bergeser. Pembantu membuka pintu, ragu; Laila bilang pelan, bukan rujuk, jangan siapkan kamar. Bara sudah di ujung meja. Kursi Sinta jauh—satu meter lebih dari malam syarat, seolah ia takut jarak yang menyusut tanpa izin. Di tengah: air putih dua gelas, bukan kopi dua sebagai simbol. Laila di dapur, pintu terbuka, pena di saku jaket, helm di pangkuan.
'Ini bukan pulang,' kata Sinta duluan, seperti mantra. 'Ini bukan ranjang. Ini bukan aku datang karena maaf kaku atau berita acara. Kabari itu ke diri mu.'
'Aku tahu,' sahut Bara. Suaranya serak. Jas tidak dipakai. Kemeja. Lengan dilipat. Surat ayah tidak di saku kali ini—di meja, terbuka, seperti orang yang tidak mau lagi menyembunyikan mayat di dalam. 'Aku minta kau dengar sampai selesai. Jangan cut. Kalau setelah itu kau pergi, aku tidak isolasi. Aku tidak bel. Aku tidak tulis baris. Pena kau tetap milik kau. Kartu tetap hidup. Sofa tetap dihormati.'
Sinta mengangguk sekali. Jari di tepi gelas. 'Bicara.'
Bara menarik napas. Kata-kata yang sudah ia latih di mobil, di toilet kantor, di depan makam, tiba-tiba terasa kecil di mulut. 'Aku menikahimu sebagai rencana. Bukan cinta. Bukan kebetulan taman. Aku cari darah Wijaya. Aku cari wajah yang mirip Mama. Aku dekati. Aku lamar. Aku nikahi di gereja yang meriah supaya altar kelihatan suci. Aku pakai kau sebagai pintu. Sebagai akses. Sebagai citra. Sebagai baris. Malam pertama… aku bongkar dendam dengan sengaja supaya kau hancur di dalam rumah yang kupilih. Itu benar. Itu kotor. Itu yang aku lakukan. Aku tidak akan bilang 'salah paham'. Tidak ada salah paham. Ada rencana.'
Sinta tidak bergerak. Hanya jari di tepi gelas memutih. Di dapur, bunyi Laila menggeser kursi—hadir, tidak menyelamatkan.
'Perasaan…' Bara menelan. Lidah kering. 'Perasaan sudah berubah. Aku tidak bilang itu untuk tiket. Aku bilang karena bohong lagi lebih jahat dari rencana lama. Aku marah pada Hartono. Aku takut pada surat ayah. Aku melihat kau di sofa, di kelas, di panti, di meja dingin, di chat yang bilang 'bukan rujuk'—dan aku tidak sanggup lagi memperlakukan kau seperti baris. Itu bukan strategi stabilisasi saham. Itu… aku. Kotor. Terlambat. Setengah hati masih ada; aku tidak jual 'sepenuhnya' supaya kau percaya. Tapi berubah. Kalau kau tidak percaya, itu adil. Aku tidak minta percaya malam ini. Aku minta catatan: rencana itu ada. Perasaan itu sekarang ada. Dua-duanya benar. Aku tidak menghapus yang pertama dengan yang kedua. Kalau kau mau, tulis di notes mu. Kalau kau mau pergi sekarang, pergi.'
Diam panjang. Kipas di dapur. AC makan bunyi pelan. Laila tidak masuk.
Sinta mengangkat wajah. Matanya kering—lebih menakutkan dari tangis. 'Kau selesai?'
'Ya.'
'Baik,' katanya pelan. 'Aku dengar. Aku catat. Aku tidak kasih tiket. Jangan tambah kalimat manis. Selamat malam.'
Ia berdiri sebelum Bara sempat menambah kata yang akan merusak. Laila muncul di ambang, mengangguk pada Sinta, menatap Bara sekali: jangan ikut ke pagar. Bara tetap di kursi, tangan di surat ayah, napas pendek. Pengakuan tanpa tiket. Di meja, dua gelas air tidak diminum. Bara menutup mata. Ia sudah bilang. Mulut sudah jujur. Sisanya bukan miliknya untuk dibeli dengan transfer atau dengan hapusan file.
Di motor, angin malam menusuk jaket. Sinta bilang pada angin, bukan pada Laila dulu: 'Dia bilang rencana. Dia bilang berubah. Aku tidak percaya berubah. Aku percaya rencana—karena itu yang merusakku. Yang berubah masih kata. Kata pernah jadi senjata.' Laila menaikkan volume mesin sedikit. 'Bagus. Jangan putuskan malam ini. Trauma tidak diadili di tikungan. Tidur. Besok kau guru. Lusa kau hitung lagi.' Sinta mengangguk, dahi ke helm Laila sebentar—bukan lemah; hanya manusia. Di belakang, rumah singa masih menyala; Bara belum berdiri dari kursi jauh. Di dada Sinta, dua kalimat duduk berdampingan seperti Bara bilang: rencana ada; perasaan diklaim ada. Yang satu sudah terbukti darah. Yang satu masih kata. Dan kata, sejak malam pertama, adalah senjata yang ia paling takut—lebih dari stiker, lebih dari spreadsheet, karena kata masuk lebih dalam dari agunan. Ia genggam pena di tas sampai logam hangat, lalu longgarkan: malam ini pena tidak naik. Hanya catatan.