Tiga hari Arman sudah habis jauh sebelumnya. Yang tersisa sekarang bukan tenggat—arah.
Pagi setelah sesi semi-publik, saham Mahesa tidak langsung hijau. Masih goyang. Dewan marah terselubung lewat asisten dan kalimat 'perlu penyeimbang narasi'. Arman masuk dengan map baru, bau kopi yang tidak diminum. 'Mereka minta tulang Wijaya sebagai penyeimbang. Bahasa mereka: 'tunjukkan konsistensi'. Bahasa halus untuk: jangan kelihatan lemah karena moral. Ada yang bilang: kalau Hartono digigit, gigit juga mertua supaya pasar percaya kau masih kejam. Aku tidak suka kalimat itu. Aku tulis karena aku digaji untuk mendengar lapar.'
Bara menatap map, tidak membuka. Di meja, notes tinta terbuka di baris jangan rantai ibu. 'Tidak. Target utama bergeser. Hartono. Gatot kalau ketemu. Wijaya… tagihan belakangan, lewat jalur yang tidak menyeret ibu, tidak menyeret baris istri, tidak memakai pintu, tidak memakai stiker. Kalau dewan mau konsistensi, kasih mereka konsistensi pada orang yang memanen. Bukan pada orang di tanah. Aku sudah cukup jadi mereka.'
Arman menutup pintu. Sepatu berbunyi sekali. 'Kau sadar apa yang kau bilang? Dua puluh tahun. Kuil. Altar. Kau geser karena perempuan di sofa dan surat mayat. Orang akan bilang CEO dikendalikan guru SD.'
'Aku geser karena catatan,' sahut Bara. 'Perempuan itu yang bawa catatan ke mejaku waktu aku masih buta. Surat itu yang bilang jangan jadi mereka. Aku sudah jadi mereka cukup lama—stiker, spreadsheet, rantai, selamat palsu. Mulai hari ini, Mahesa tidak perang untuk mengisi altar. Mahesa bersihkan orang yang menyewa altar ku. Kalau kau tidak mau, bilang. Aku tidak isolasi kau. Aku tidak hapus kau seperti baris. Aku minta pilih. Jujur. Seperti aku diminta jujur di meja makan.'
Arman diam lama, jari mengetuk map, mata mencari celah lama yang sudah tidak ada di folder Ops. Lalu, pelan, 'Aku ikut Hartono. Aku tidak ikut khotbah. Jangan minta aku suka istrimu. Minta aku suka angka yang tidak dibangun di atas observer busuk. Itu saja. Kalau kau balik ke tulang diam-diam, aku keluar. Aku tidak mau jadi editor kedua.'
'Cukup,' kata Bara. 'Lebih dari cukup.'
Siang, ia kirim ke Laila: 'Target bergeser. Hartono utama. Kabari Sinta. Aku tidak minta pulang. Aku minta dia tahu arah. Kalau dia mau cabut aliansi karena Wijaya masih di lingkar, aku dengar. Aku tidak paksa dengan kartu. Kartu tetap hidup. Bel tidak kuisi.'
Balasan Sinta datang sendiri, siang di jam makan murid, di sela nasi bungkus yang Laila paksakan: 'Arah diterima. Wijaya tetap bertanggung jawab—ayah ku sudah akui separuh; sisanya jalur yang tidak makan Ibu. Aku bukan penyeimbang saham mu. Aku saksi. Kalau kau balik ke tulang karena dewan lapar, pena siap. Kalau kau tahan arah ini, aku tetap kirim peta lewat Laila. Dingin. Bukan rujuk. Selamat siang. Jangan kirim bunga ke sekolah.'
Bara membaca di ruang CEO yang terlalu besar. Selamat siang. Bukan selamat dewan. Ia hampir membalas maaf lagi. Tidak. Maaf kemarin masih berlaku; mengulang terlalu cepat terasa seperti strategi, seperti Arman yang takut darah di kemeja. Ia balas: 'Arah ditahan. Hartono. Sofa dihormati. Maaf kemarin tidak kuambil kembali. Peta diterima. Terima kasih—kata ini juga kaku.'
Malam itu ia ke makam ayah—pertama kali dalam bulan ini tanpa agenda press, tanpa jas, tanpa Arman. Bunga sederhana dari pasar, bukan florist hotel. Bukan altar. Ia berdiri, tangan di saku, surat di dada, batu basah oleh embun. 'Aku geser target,' katanya pada nama yang sudah pudar. 'Aku masih marah. Aku masih kotor. Aku masih takut. Tapi aku tidak mau lagi memanen orang supaya orang abu-abu kenyang. Maaf terlambat. Angkat dulu. Aku coba. Aku tidak bangun kuil malam ini. Aku bawa botol—setidaknya arahnya.'
Angin. Tidak ada jawaban. Cukup. Di ponsel, Arman mengirim daftar aset Hartono yang mulai diamankan legal, tanpa emotikon, tanpa 'selamat'. Di chat Laila, Sinta mengirim satu foto map tambahan—tanpa caption, hanya sudut stempel notaris. Bara menyimpan. Tidak menelepon. Tidak bel. Dendam dua puluh tahun goyah, bukan hilang: bergeser, seperti orang yang akhirnya melihat bahwa mayat ayahnya tidak minta kuil, minta anak yang tidak jadi mereka.
Di sofa Laila, Sinta menatap langit-langit. Target bergeser. Itu belum rumah. Itu belum cinta. Itu belum tiket. Tapi itu arah yang bisa ia jaga dengan pena di tas, dengan syarat di kepala, dengan ibu yang tidur lebih tenang, dengan kapur yang tidak patah karena artikel. Ia bisik pada gelap, 'Jangan pinjam lagi,'—untuk Bara, untuk Hartono, untuk dirinya yang pernah hampir jadi jembatan basah. Laila di kasur, tanpa buka mata, sahut, 'Kalau pinjam lagi, kita gigit. Tidur.' Sinta hampir tersenyum. Tidak jadi. Ia tidur.
Di rumah singa, Bara tidur di sofa ruang tamu, bukan di ranjang perang, folder H.D. di meja dengan status baru yang ia ketik sendiri sebelum mata terpejam: UTAMA. Jangan pinjam. Jangan jadi bank. Dan untuk pertama kali, status itu terasa seperti janji pada orang mati—dan pada orang hidup di sofa orang lain—bukan seperti slide. Arc F menutup malam itu bukan dengan rujuk, dengan arah: musuh yang lebih dalam sudah punya nama di depan, dan dendam yang dipinjam mulai ditarik pulang ke tangan yang belajar tidak meneken orang di tanah.