Komite meminta sesi lebih luas. Bukan press conference. Semi-publik: investor kunci, penasihat, dua wartawan yang sudah 'dijaga' Arman supaya tidak liar, dan—tanpa undangan resmi—satu kursi kosong yang Bara sengaja sediakan di tepi. Kursi itu untuk saksi tertulis, bukan untuk istri. Folder Suroso dan Bu Wati di atasnya. Sinta menolak datang lewat Laila, tegas: 'Aku guru. Aku bukan slide. Kirim hasil. Jangan kirim aku. Kalau namaku disebut sebagai alat, pena. Kalau Ibu disebut, pena.'
Bara mengangguk lewat chat. 'Baik. Tidak disebut sebagai alat. Map saja.'
Ruang rapat lantai atas. Bau kopi. Layar besar. AC terlalu dingin. Kursi kosong di tepi sudah ada map di atasnya—Suroso, Bu Wati, stempel, kronologi. Hartono tidak hadir; ia mengirim kuasa hukum yang tersenyum seperti orang yang sudah menang sebelum mulai, jas lebih mahal dari kebenaran. Di barisan belakang, dua wartawan mengetik pelan. Bara berdiri, tidak duduk di kursi CEO yang biasanya meninggikan. Ia meletakkan folder. Ia minum air sekali, bukan untuk tenang—untuk ingat botol. Ia bicara pelan, tanpa mikrofon yang berlebihan.
'Dua puluh tahun aku bilang Wijaya membunuh ayahku. Sebagian benar. Tidak utuh. Ayahku, Aditya, menolak menjual. Lingkar itu—Wijaya, Gatot Raharjo, Hartono Darma—meracik tekanan. Bunga. Jerat. Tali adalah pilihan ayahku di rumah sunyi. Pupuk tali itu punya nama. Hari ini aku buka nama itu utuh, bukan sebagai dendam yang enak, sebagai catatan yang terlambat. Aku sudah lama jadi editor. Hari ini aku berhenti mengedit mayat menjadi dalil tunggal. Kalau ada yang datang ke sini mencari cerita rumah tangga, kalian di ruang salah. Ruang ini untuk arus, transfer, dan orang yang memanen perang orang lain.'
Ia tampilkan kronologi. Transfer. Observer. Non-voting. Daftar hadir. Kutipan Suroso yang sudah dilegalisir. Foto buku kas Bu Wati, buram, jujur, noda minyak masih kelihatan di scan. Kuasa hukum Hartono berdiri. 'Ini fitnah. Klien kami observer independen. Konflik rumah tangga CEO tidak boleh dijadikan senjata—'
'Independen yang memanen ruko istri ku,' potong Bara. Suaranya tidak naik. Lebih berbahaya. 'Independen yang bilang padaku di klub: kau perang, aku panen. Aku catat. Aku punya telinga. Aku punya map. Mahesa akan memutus akses informal. Investigasi formal jalan. Kalau kalian mau melawan dengan rumor rumah tangga, kalian sudah kalah di meja ini—karena rumah tangga ku bukan produk kalian lagi. Dan jangan seret ibu mertua ke artikel. Itu sudah ditarik. Itu akan ditarik lagi kalau perlu.'
Arman, di samping, menelan. Kalimat itu bukan yang mereka latih. Kalimat itu bau maaf dan bau syarat dan bau botol air. Seseorang di antara investor mengangguk pelan. Seseorang mengerut. Wartawan menulis cepat. Kuasa hukum Hartono tersenyum tipis, keluar lebih dulu—tanda perang belum selesai, hanya pindah lantai.
Setelah sesi, Bara tidak minum kopi. Ia ke toilet, membuka surat ayah, membaca ulang baris angkat dulu sampai kertas hangat di jari. Lalu ia kirim ringkasan ke Laila untuk Sinta, panjang untuk ukurannya: 'Kebenaran ayah dibuka utuh di semi-publik. Wijaya tetap ada di lingkar. Bukan tunggal. Hartono di tengah. Aku tidak sebut namamu sebagai alat. Aku sebut map. Aku sebut panen. Kalau ada yang bocor jelek, kabari. Aku tarik. Seperti Ibu. Maaf kemarin masih di meja. Tidak kuambil kembali.'
Sinta membaca di sofa, malam, setelah ibu tidur di panti dengan obat yang lebih tenang dan Dina jaga di luar sampai jam sembilan. Ia tidak tersenyum. Ia bilang pada Laila, 'Dia bicara. Akhirnya. Bukan hanya menekan tombol.' Laila mengangguk, mengunyah roti tawar. 'Bicara belum berarti suami. Bicara berarti manusia. Bedakan. Jangan murah karena slide bagus. Dengarkan arah besok. Kalau balik tulang, kita siap pena sebelum sarapan.'
Sinta membalas Bara satu kalimat: 'Diterima sebagai catatan. Dendam mu goyah—bagus. Jangan goyah ke arah mencari korban baru. Hartono. Selesaiin. Sofa tetap sofa. Selamat malam.' Ia menatap layar lama, lalu matikan data, seperti orang menutup pintu tanpa mengunci—waspada tetap, tiket tidak. Di tas, pena cerai masih ada; malam itu pena itu tidak naik ke meja, hanya jadi logam dingin di samping kapur sekolah yang patah.
Bara membaca itu di mobil basemen, mesin mati, seperti malam kursi di dewan. Ia mengangguk pada gelap. Goyah. Kata yang Arman takutkan. Kata yang ayahnya izinkan. Di luar, kota. Di dalam, kebenaran yang akhirnya tidak diedit menjadi dalil tunggal.
Sebelum pulang, ia sempat ke ruang kecil tempat map saksi disimpan. Ia fotokopi satu halaman kronologi untuk arsip pribadi—bukan untuk perang baru, untuk ingat bahwa mulutnya sudah bilang utuh di depan orang. Wartawan yang 'dijaga' mengirim draf; Bara mencoret dua kalimat yang hendak menyebut 'istri CEO' sebagai warna cerita. 'Hapus. Fokus observer. Fokus transfer. Rumah tangga bukan bumbu.' Ia kirim ulang draf ke Arman dengan catatan: jangan jual trauma. Arman menyaksikan dari ambang, mengangkat alis, tidak protes. Dua puluh tahun narasi retak di meja semi-publik—bukan karena kalah, karena utuh. Dan utuh, malam itu, lebih menakutkan dari menang, lebih jujur dari selamat, lebih dekat ke botol air daripada ke altar. Di saku, surat ayah bergeser. Angkat dulu. Malam itu, angkat berarti membiarkan retak kelihatan tanpa buru-buru disemen dengan tulang.