Gigitan tidak hanya mengenai Hartono. Orang yang makan dua dapur, ketika digigit, selalu mencari daging yang lebih lembut.
Keesokan harinya, berita kecil muncul di portal bisnis lokal sebelum jam tujuh: 'Tekanan silang keluarga Wijaya—aset ibu rumah tangga terseret audit pihak ketiga'. Bahasa yang membingungkan sengaja. Nama Ibu Sinta tidak di judul. Di dalam, ada. Foto rumah lama. Spekulasi. Nomor yang 'tidak mau disebut'. Telepon wartawan ke panti. Sinta membaca di ruang guru sampai kapur di tangannya patah lagi, sampai rekan guru melirik. Laila meraih ponselnya sebelum Sinta mengetik balasan marah yang akan jadi makanan portal.
'Jangan balas sendiri. Aku. Dina. Urutan. Kau guru. Jangan jadi headline.'
Ibu di panti panik. Perawat bilang tekanan naik. Hendra menelepon Sinta dengan suara yang retak: 'Mereka bilang nama Ibu. Aku sudah akui dosa separuh. Kenapa Ibu? Aku yang kotor. Dia hanya…' Suara itu putus. Sinta di toilet guru, menangis tanpa suara, membasuh muka sampai dingin, lalu keluar dengan wajah yang sudah dilatih untuk murid. Di koridor, Raka melambai; Sinta melambai balik, senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia kirim ke Bara—langsung, karena ini bukan soal bel romantis, ini soal rantai: 'Ibu. Lepaskan dari berita. Sekarang. Kalau ini harga operasi mu, aku cabut aliansi. Syarat empat. Ingat. Jangan balas dengan bunga. Balas dengan hapusan nama di artikel.'
Bara membaca di tengah rapat lanjutan soal observer. Ia berdiri, keluar, tidak minta izin. Kursi bergeser. Seseorang bergumam. Arman menyusul ke koridor, wajah keras. 'Kau tidak bisa kabur tiap keluarga mertua batuk. Dewan melihat. Wartawan kecil melihat.'
'Ini bukan batuk. Ini rantai. Hartono atau orangnya. Siapkan bantahan. Siapkan legal. Siapkan pernyataan bahwa audit terkait penasihat, bukan ibu rumah tangga. Tarik foto. Tarik spekulasi. Dan…' ia menelan, '…jangan pakai namaku untuk menyerang balik ke Wijaya sebagai penyeimbang. Cukup. Tulang tidak. Ibu tidak. Kalau kau usul tulang sekarang, aku koreksi di depan orang.'
Arman menggemeretakkan gigi. 'Saham—'
'Saham boleh merah. Ibu tidak.' Bara menelepon pengacara, menelefon portal, menelefon orang yang biasanya ia pakai untuk menekan—kali ini untuk menarik. Sulit. Otot yang sama. Arah berbeda. Jari di layar gemetar seperti malam maaf. Ia kirim ke Sinta: 'Aku tarik. Bukan bunga. Koreksi. Kabari Ibu: jangan terima wartawan. Aku kirim orang keamanan non-Mahesa lewat Dina. Bukan satpam ku. Darah mu yang pilih. Aku dengar syarat. Kabari tekanan Ibu. Kalau perlu dokter, aku bayar tanpa logo.'
Sinta tidak membalas 'terima kasih'. Ia membalas: 'Lakukan. Lalu buktikan di berita, bukan di chat. Aku ke panti setelah jam sekolah.'
Siang itu Dina dan Laila ke panti lebih dulu. Ibu Sinta digenggam tangan, dibawa ke ruang yang lebih tenang, dijauhkan dari kamera, dari perawat yang terlalu banyak bicara ke luar. Sinta datang setelah bel pulang, blus masih berkapur, rambut diikat asal, memeluk ibu sampai bahu sakit. 'Bukan kau yang salah,' bisiknya. 'Aku yang masuk perang. Aku yang jaga kau keluar. Tidur. Aku di sini.'
Hendra berdiri di ambang, wajah dosa separuh, tangan kosong. 'Anak…'
'Tidak sekarang,' potong Sinta, tanpa menoleh. 'Sekarang Ibu. Kau belakangan. Tagihan belakangan. Angkat dulu.' Kalimat itu ia pinjam dari surat yang belum ia baca utuh—dari mulut Laila yang sempat mendengar Bara mengutip di meja dingin. Ironis. Berguna. Hendra mengangguk, mundur, seperti orang yang akhirnya diberi urutan yang benar.
Malam, berita dikoreksi. Judul diganti. Nama ibu dihapus dari tubuh artikel, diganti 'pihak terkait yang tidak relevan'. Sempurna tidak. Cukup untuk napas. Portal lain yang menyalin ikut menarik dengan lambat; Arman mengurus yang lambat dengan bahasa yang tidak Sinta ingin tahu. Di ruang guru keesokan pagi—belum, malam ini dulu—Sinta masih di koridor panti, memegang tangan Ibu sampai napas rata. Perawat bilang, 'Stabil.' Satu kata. Berat. Sinta kirim ke Bara satu baris: 'Syarat empat jalan malam ini. Lanjut. Jangan rayakan. Ibu tidur. Aku di sofa. Kalau ada rantai lagi, aku cabut tanpa tenggat.'
Bara membaca di rumah kosong. Ia tidak rayakan. Ia duduk di lantai kamar Sinta yang masih berbau sabun menipis, menulis di notes: jangan rantai ibu. jangan tulang. Hartono. Ia menelepon Dina singkat, tanpa basa-basi: 'Terima kasih jalur keamanan. Tagihan ke ku. Jangan ke Mahesa. Jangan ke berita.' Dina menjawab datar, 'Ini untuk bibi, bukan untuk kau. Jaga arah. Kalau kau balik stiker, aku yang ajarin Sinta teken pena.' Bara mengangguk pada telepon yang sudah putus.
Di luar, timer taman nyala-mati. Di panti, Sinta menunggu Ibu benar-benar tidur sebelum naik motor Laila pulang ke sofa. Di jalan, ia bilang pelan, 'Hari ini dia tarik rantai. Besok jangan kasih tiket.' Laila menyahut, 'Urutan. Tidur.' Di rumah singa, Bara belajar bahwa melindungi orang di tanah—meski darahnya Wijaya—bukan kelemahan slide. Itu botol air. Itu yang ayahnya minta. Dan untuk pertama kali, botol itu ia bawa tanpa menunggu orang pingsan di pabrik dulu—hanya menunggu nama ibu muncul di artikel, lalu menariknya sebelum tali lain terbentuk. Di notes, ia tambah satu baris: syarat empat = uji. Lulus malam ini. Jangan gagal besok. Ia matikan lampu makan, biarkan gelap mengisi kursi jauh—pengingat bahwa aliansi masih dingin, dan dingin itu yang menjaga Ibu tetap namanya sendiri.