Malam itu meja lebih pendek. Bukan karena hangat—Bara mendorong kursi lebih dekat tanpa menyentuh jarak yang Sinta butuhkan untuk bernapas. Dua meter jadi satu meter. Masih jauh. Laila di ruang sebelah, pintu terbuka, helm di pangkuan. Dina tidak masuk rumah; map dititip di tangan Laila, lalu ke meja, seperti barang bukti. Bau toner lagi. Bau perang yang belum selesai.
Sinta meletakkan jari di map, belum membuka. Matanya ke Bara, ke laptop yang sudah siap di samping, ke notes tinta kemarin. 'Syarat. Dengarkan sampai selesai. Jangan cut. Jangan tawar di tengah. Satu: berhenti siksa emosional. Tidak ada isolasi kartu, tidak ada ancaman ibu, tidak ada 'bagus' untuk orang jatuh, tidak ada spreadsheet dengan namaku sebagai pintu/citra/akses. Hapus baris itu. Di depan ku. Sekarang. Dua: tidak ada peran pintu, citra, alat, variabel, baris. Aku sumber arsip dan telinga di keluarga yang masih percaya padaku—sebatas itu. Bukan stabilisasi saham. Tiga: Arman tidak boleh menyebut aku target, celah, atau distraksi di dewan. Kalau dia sebut, kau koreksi di tempat. Empat: ibu ku tidak ikut rantai lagi. Ruko—urus pelepasan namaku dari agunan sebisa jalur legal. Bukan hadiah. Bukan bunga. Koreksi. Lima: ini bukan rujuk. Aku tetap di sofa Laila. Tidak ada bel malam. Tidak ada SD. Kalau kau langgar satu saja, pena cerai jalan tanpa tenggat, tanpa tiga hari, tanpa 'tahan'. Urutan baru: syarat dulu, map kemudian. Bilang setuju atau aku bawa map kembali ke mobil Dina.'
Bara diam lama. Lampu makan menembus gelap di matanya. Ia tidak melirik Laila. Ia membuka laptop, ketik cepat, folder Ops, TARGET_W, scroll—Sinta melihat namanya sendiri muncul seperti hantu. Status: aktif. Catatan: pintu / stabilisasi citra / akses emosi keluarga. Bara blok baris itu, hapus. Konfirmasi. Hapus permanen. Layar mengosongkan tempat yang dulu ia isi dengan perang. Ia putar laptop, dorong pelan ke tengah.
'Satu,' katanya, suara rendah. 'Baris hilang. Isolasi tidak kuulang. Ancaman ibu tidak. Aku sudah cukup jadi mereka. Dua: setuju. Tiga: Arman kukoreksi. Kalau dewan tanya, kau saksi peta, bukan celah, bukan sofa. Empat: legal ruko kukasih ke orang yang Dina tunjuk malam ini juga. Bukan sebagai maaf—maaf belum berani. Sebagai koreksi. Lima: bukan rujuk. Sofa. Aku dengar. Aku…' lagi-lagi kata maaf tersangkut di tenggorokan, '…aku tidak minta kau percaya perasaan. Aku tidak minta kau baca surat ayah. Aku minta kau percaya hapusan itu. File selama ini lebih jujur dari mulut ku. Malam ini file ikut syarat mu.'
Sinta menatap layar kosong di tempat namanya. Hapusan tidak mengembalikan IGD. Tidak mengembalikan stiker. Tidak mengembalikan malam pertama. Tapi hapusan adalah bahasa yang ia pahami dari laki-laki yang menulis perang di Excel—dan bahasa itu, akhirnya, dipakai untuk melepas, bukan memasang. Ia angguk sekali, singkat.
'Map,' katanya.
Mereka buka bersama. Laila mendekat ke ambang, tidak menyentuh kertas. Aliran dana. Nama penasihat. Transfer ke rekening yang berputar ke Gatot, ke Hartono, ke celah yang Hendra akui separuh, ke jalur yang Suroso catat sebagai senyum. Bara mencatat di notes tanpa memerintah Sinta 'cari'. Sinta menjelaskan tanpa memelas, tanpa tersenyum, tanpa jadi guru yang menenangkan. Sesekali jari mereka dekat di tepi kertas yang sama; tidak bersentuhan. Dingin. Cukup. Aliansi.
Di ambang, Laila bilang pelan, 'Satu jam hampir. Hartono tidak boleh dapat jam kedua tanpa otak. Saham boleh menunggu. Nyali tidak.'
Sinta menutup map, mendorong ke Bara. 'Ini cukup untuk malam. Sisanya Dina kirim lewat Laila. Jangan ke SD. Jangan bel. Jangan kirim orang. Kalau Arman marah soal hapusan barisku, bilang istri mu tidak lagi jadi produk. Bilang itu ke cermin juga. Ke observer abu-abu. Ke selamat yang palsu. Aku pergi.'
Bara mengantar sampai pintu, berhenti di ambang dalam, tidak ke pagar, tidak ke motor. 'Sinta. Syarat itu… aku pegang. Kalau gagal, pena kau. Aku tidak bujuk. Aku tidak isolasi. Aku tidak tulis baris baru. Hartono… aku kejar. Bukan tulang.'
'Saja gagal dulu berkali-kali di rumah ini,' sahut Sinta, tanpa senyum, jaket dikancing. 'Sekarang giliran kau belajar gagal tidak diganti orang di tanah. Hartono. Angkat dulu siapa yang harus diangkat—catatan, saksi, arus. Tagihan belakangan. Surat ayah mu. Baca lagi. Aku bukan kuil. Aku bukan pupuk. Aku saksi. Selamat malam.'
Motor Laila hidup. Sinta naik. Di belakang, rumah Mahesa tetap menyala timer. Di laptop yang belum ditutup di meja makan, baris namanya kosong—bukan karena selesai cinta, karena syarat. Aliansi dingin punya harga. Malam itu harga itu dibayar dengan hapusan, dengan koreksi ruko yang dijanjikan, dengan kursi jauh, dengan telinga—bukan dengan bunga, bukan dengan maaf yang belum matang, bukan dengan rujuk. Dan untuk pertama kali sejak malam pertama, Sinta tidur di sofa dengan perasaan bahwa ia tidak dibuka seperti laci: ia yang memasang kunci, kunci itu berbunyi jelas, dan di rumah singa laki-laki yang dulu mengunci segalanya belajar tidur dengan folder H.D. yang terbuka, status bukan 'ditahan', tapi 'lihat—jangan pinjam lagi'. Bara, di meja yang masih berbau toner, menulis satu baris di notes setelah pintu tertutup: maaf—belum. Syarat—ya. Hartono—sekarang. Tinta itu, malam itu, lebih jujur dari selamat.