Setelah motor Laila hilang di tikungan, rumah Mahesa terlalu sunyi untuk orang yang baru saja menghapus baris perang. Bara berdiri di ambang dalam terlalu lama sampai pembantu bertanya pelan apakah mau makan. Ia menggeleng. Ia kembali ke meja makan, laptop masih terbuka, tempat nama Sinta kosong seperti gigi dicabut. Hapusan itu tidak membuatnya lebih baik. Hapusan itu membuatnya melihat lubang—dan lubang, malam itu, berbau toner, berbau syarat, berbau kursi jauh yang belum sempat hangat.
Ia menelepon legal soal ruko—bukan hadiah, koreksi, seperti yang dijanjikan di depan map. Orang di ujung telepon kaget mendengar nada yang tidak memerintah, hanya menegaskan: lepaskan nama Sinta Wijaya dari agunan secepat jalur memungkinkan, tanpa press release, tanpa bunga, tanpa kalimat 'sebagai bentuk komitmen rumah tangga'. Bara memotong sebelum frase itu selesai. 'Koreksi. Bukan komitmen. Jangan tulis istri di surat. Tulis nama. Tulis pelepasan. Selesai.'
Lalu ia menelepon Arman. Arman mengangkat dengan suara yang sudah siap marah, seperti orang yang sudah menyusun kalimat di kepala sejak saham merah.
'Baris di TARGET_W hilang,' kata Bara duluan. 'Istri bukan target, bukan celah, bukan distraksi. Kalau kau sebut dia di dewan seperti produk, aku koreksi di tempat. Hartono dulu. Tulang tidak. Itu bukan ragu. Itu urutan.'
Arman diam dua detik yang panjang. Di belakangnya terdengar bunyi meja digeser. 'Kau gila. Saham masih merah. Kau hapus alat paling murah untuk menstabilkan citra. Orang akan baca itu sebagai menyerah pada sofa.'
'Alat itu manusia,' sahut Bara. 'Dan aku sudah cukup jadi mereka. Dua jam kemarin kau minta jawaban. Jawaban tetap Hartono. Siapkan kerangka. Jangan siapkan tulang. Kalau dewan lapar, biar mereka lapar pada orang abu-abu, bukan pada sofa. Kalau kau mau bawa aku ke prosedur, bawa. Aku sudah bilang urutan di tinta. Aku bilang lagi di telepon. Jangan buat aku mengulang di depan orang dengan bahasa yang memakan Ibu.'
Ia tutup sebelum Arman selesai mengutuk. Tangan gemetar tipis—bukan karena takut dewan. Karena kata yang belum keluar. Di notes tinta, baris tadi malam masih ada: maaf—belum. Syarat—ya. Hartono—sekarang. Ia menatap kata 'maaf' sampai huruf itu terasa menertawakan. Maaf adalah kata yang ia larang pada dirinya sejak tali. Maaf adalah kelemahan di slide. Maaf adalah botol air yang tidak jadi dibawa ke orang di tanah. Maaf adalah segala sesuatu yang Arman sebut darah di kemeja.
Ponsel bergetar. Laila: 'Sinta tidur. Jangan bel. Kalau ada yang perlu dibilang malam ini, bilang lewat aku—atau jangan. Sofa capek. Kapur masih di jaket. Jangan buat dia baca perang sebelum mata tertutup.'
Bara mengetik, menghapus, mengetik lagi. Draf pertama terlalu panjang, berbau strategi. Draf kedua terlalu pendek, berbau pengecut. Akhirnya ia kirim ke Laila, bukan ke Sinta langsung, karena bel dilarang dan ia sedang belajar patuh pada larangan yang bukan miliknya: 'Tolong sampaikan. Aku setuju syarat. Setengah hati—karena hati ku masih kotor. Tapi setuju. Dan… maaf. Untuk stiker. Untuk spreadsheet. Untuk malam pertama. Untuk memakai wajah Mama. Untuk isolasi. Untuk 'bagus' waktu orang jatuh. Kalimat ini kaku. Aku tahu. Aku tidak minta dimaafkan malam ini. Aku hanya bilang karena file sudah jujur, mulut harus mulai. Kabari dia tidur. Jangan bangunkan. Kalau dia bilang jelek, aku terima. Jelek lebih jujur dari bunga.'
Laila membalas lama. Titik-titik muncul, hilang, muncul. 'Aku bacakan. Dia tidak menangis. Dia bilang: diterima sebagai catatan, bukan sebagai tiket rujuk. Maaf kau jelek. Tapi lebih jujur dari bunga. Jangan ulang sepuluh kali. Satu kali yang digigit cukup. Tidur. Besok operasi. Jangan mati di meja makan. Jangan kirim orang dengan amplop.'
Bara hampir tertawa. Tidak jadi. Ia duduk di lantai ruang makan, jas di kursi, surat ayah di tangan. 'Aku minta maaf,' katanya pada gelap, pada piring yang tidak ada, pada kursi jauh yang kosong. Kata itu keluar kaku, seperti orang membaca teks asing di depan cermin yang tidak membalas. 'Aku minta maaf.' Kali kedua lebih pelan. Tidak ada yang menjawab. Tidak perlu. Maaf malam itu bukan untuk ditukar. Maaf malam itu untuk menandai bahwa altar mulai retak dari dalam, bukan dari slide.
Di sofa Laila, Sinta mendengar ulang kalimat itu dari mulut sahabatnya, mata terbuka di gelap, kipas berputar pelan. Maaf jelek. Maaf kaku. Maaf yang tidak meminta tiket. Di dada, waspada tidak padam—waspada adalah otot yang ia bangun sejak malam pertama. Tapi waspada malam itu punya tetangga baru: catatan. Catatan bisa disimpan. Tiket tidak. Ia tidak membalas chat. Ia hanya menggenggam kunci sofa sampai hangat, lalu bilang pelan, 'Catat. Jangan murah. Besok peta. Kalau dia balik jadi altar, pena.' Laila mengangguk di gelap. 'Pena di tas. Tidur.'
Sebelum tidur, Bara buka lagi folder Ops—bukan untuk menulis baris baru, untuk memastikan hapusan kemarin tidak 'pulih' dari backup yang Arman suka simpan. Kosong. Tetap kosong. Ia tutup laptop pelan, seperti orang menutup luka yang baru dibersihkan. Di kepala, kalimat Sinta lewat Laila berulang: catatan, bukan tiket. Itu adil. Itu dingin. Itu yang pantas.
Di rumah singa, Bara tidur di lantai dengan maaf yang masih terasa seperti batu di lidah—setengah hati, setuju, dan untuk pertama kali sejak dua puluh tahun, kata itu ada tanpa strategi. Hanya manusia yang terlambat belajar mengucapkannya, di rumah yang terlalu besar, di samping laptop yang sudah kehilangan satu baris perang.