Hartono tidak menunggu perpanjangan. Orang yang makan dua dapur tidak suka tenggat orang lain.
Hari berikutnya, sebelum Arman sempat dibujuk dengan bahasa due diligence, pasar digoyang pelan: rumor bocor ke grup investor bahwa Mahesa 'terdistraksi urusan rumah tangga CEO' dan 'audit internal bermasalah di portofolio yang terkait dendam pribadi'. Bahasa halus. Racun halus. Saham turun. Bukan jatuh. Cukup untuk layar merah. Cukup untuk dewan memanggil lewat asisten. Cukup untuk Arman masuk tanpa ketuk, map merah, mata tajam, sepatu yang berbunyi seperti tuduhan.
'Ini bukan Wijaya,' katanya, melempar tablet ke meja Bara. 'Ini orang dalam yang tahu bau ragu mu. Kau tahan tahap lima. Orang baca. Sekarang gigitan. Aku butuh jawaban untuk dewan dalam dua jam. Kalau kau bilang Hartono, mereka akan tanya sejak kapan kau tahu observer itu busuk dan kenapa tidak lebih dulu. Kalau kau bilang istri, mereka akan tanya sejak kapan CEO dikendalikan sofa. Pilih racun. Cepat. Saham tidak menunggu surat ayah.'
Bara berdiri, menatap layar merah, menatap Arman, menatap bayangan jas abu-abu di kepala. Di layar, grafik turun seperti napas orang yang panik. 'Hartono. Aku yang buka. Aku yang tanggung. Siapkan due diligence. Jangan tulang Wijaya. Alihkan narasi ke penasihat yang menunggangi konflik. Sekarang. Jangan tawar.'
Arman menatapnya seperti melihat orang asing yang memakai wajah bosnya. 'Kau pakai aliansi perempuan itu. Aku bau tinta meja makan. Aku bau Laila di dapur. Kau gila. Dewan tidak mau dengar cerita moral. Dewan mau angka yang naik lagi sebelum makan siang.'
'Aku pakai peta,' sahut Bara, lebih tenang dari yang ia rasakan. 'Dan aku butuh dia lagi—jujur. Bukan curi di laptop. Bukan sticky note. Minta. Ada jalur notaris yang hanya buka ke darah Wijaya. Aku tidak punya darah itu. Aku punya dosa pada darah itu. Bedanya. Kalau kau mau ke dewan duluan, silakan. Aku akan bilang yang sama: Hartono. Observer. Pinjam dendam. Panen. Lebih baik reputasi retak pada orang abu-abu daripada kuil utuh di atas pupuk mayat.'
Arman menggemeretakkan gigi, lalu mengambil tablet. 'Dua jam. Aku tulis kerangka. Jangan telepon istri di depan orang. Kelihatan. Kelihatan itu undangan kedua. Dan Bara—kalau kau salah, aku tidak ikut tenggelam tanpa catatan. Aku sudah terlalu lama membersihkan lantai ini.'
Bara tidak menunggu Arman selesai marah. Ia kirim ke Laila, panjang untuk ukurannya: 'Mahesa digigit. Rumor rumah tangga + audit. Hartono. Aku butuh jalur Dina/notaris soal transfer lama Hartono–Gatot–Wijaya/Aditya. Minta ke Sinta. Jujur. Bukan perintah. Bukan isolasi. Kalau tidak, aku jalan buta dan kuil retak tanpa arti—hanya tontonan. Kabari syaratnya. Aku dengar.'
Di sekolah, Sinta baca pesan di jam kosong, di ruang guru yang berbau kopi sachet. Laila membaca dari samping, mendengus. 'Dia minta. Bukan ambil. Itu baru. Saham turun. Dia panik. Tetap jangan murah. Panik orang kaya sering dibayar dengan tubuh perempuan.'
Sinta mengangguk, memegang kapur sampai patah. Di luar jendela, anak-anak berlarian di lapangan. Dunia yang tidak peduli saham. Mengetik sendiri, pertama kali langsung ke Bara sejak aliansi dingin: 'Aku bisa minta Dina buka satu map titipan: aliran dana penasihat tahun kejatuhan. Syarat bukan di chat. Satu meja lagi. Malam ini. Aku bicara syarat lengkap. Kalau Arman ada di rumah, batal. Kalau kau mau alat buta, batal. Kalau kau mau baris Excel kembali, batal. Saham mu turun bukan urusan murid ku. Tapi mayat ayah mu yang dipupuk Hartono—itu urusan yang pernah kau tempel ke tubuh ku tanpa izin. Aku bantu lepaskan tempelan itu. Bukan rujuk. Lepas. Datang dengan telinga. Bukan dengan selamat.'
Balasan Bara cepat, hampir segera: 'Malam ini. Tanpa Arman. Syarat kau. Aku dengar. Kartu tetap hidup. Bel tidak kuisi. SD tidak kudatangi.'
Sinta menatap layar lama sampai Bu Laila menyenggol. 'Masuk kelas. Raka sudah sembuh. Jangan bipan ke anak karena orang abu-abu.' Sinta masuk kelas, menulis tanggal di papan, tersenyum pada murid yang belum tahu nama Hartono, sementara di luar saham bergerak dan di dalam dada waspada mengeras: gigitan balik Hartono memaksa mereka satu perang. Satu perang bukan satu ranjang. Satu perang bukan satu maaf. Ia ulangi itu di kepala sampai bel istirahat, sampai siap memasang harga pada laki-laki yang baru belajar minta tanpa mencuri.
Di kantor, Bara membaca ulang chat itu sambil Arman berteriak di telepon ke legal. Layar merah. Syarat malam. Telinga, bukan selamat. Asisten masuk dua kali membawa printout rumor; Bara menolak komentar publik, hanya bilang: 'Siapkan fakta observer. Jangan siapkan tulang.' Arman memandangnya lama dari ambang, lalu mengangguk tipis—bukan setuju, mencatat risiko. Di saku Bara, surat ayah bergeser tiap ia berdiri. Jangan jadi mereka. Mereka hari ini bukan hanya Wijaya; mereka termasuk orang yang panen dari perang orang lain. Untuk pertama kali, Bara memilih kata Sinta di atas kata dewan—dan pilihan itu, di tengah gigitan, terasa seperti retak yang ia izinkan. Retak, sore itu, ia tidak semen. Ia biarkan ada, supaya udara masuk ke kuil yang terlalu lama kedap. Sebelum pulang, ia tulis di pad: malam = syarat, bukan selamat. Lalu ia tipu diri sendiri bahwa itu cukup untuk tidur.