Sinta datang malam itu ke rumah Mahesa lagi. Bukan siang seperti bukan-rujuk. Bukan blus sekolah. Jaket gelap. Tas. Wajah guru yang sudah capek jadi intel. Laila masuk dulu, bicara pendek ke pembantu: bukan rujuk, jangan siapkan kamar, jangan kopi dua di ruang tamu sebagai simbol—kopi boleh, simbol tidak. Dina di mobil luar, mesin hidup, siap kabur. Satpam bingung; Laila tidak jelaskan. Di dapur, ketel bunyi sekali, lalu diam—rumah yang terlalu besar untuk tiga orang yang tidak mau menjadi keluarga malam itu.
Ruang makan. Lampu kuning. Bara di ujung meja. Sinta di ujung lain. Jarak panjang seperti jembatan yang sengaja tidak ditutup. Map di tengah, tebal, berbau toner, seperti gencatan senjata yang masih berbau perang.
'Ini bukan pulang,' kata Sinta duluan, meletakkan tas di pangkuan. 'Ini bukan ranjang. Ini bukan aku kasihan karena saham atau dada kosong. Kabari itu ke diri mu sebelum mulai.'
'Aku tahu,' sahut Bara. Suaranya serak, jas tidak dipakai, kemeja, lengan dilipat. 'Hartono observer di orbit Mahesa. Non-voting. Dia bilang dia pinjam dendamku. Panen waktu aku gilas Wijaya. Kontrak. Mikrofon. Ruko kau. Dia masuk ke goyah yang aku buat. Aku…' ia mencari kata yang bukan maaf, yang bukan bunga, '…aku butuh telinga yang tidak dibayar Arman. Telinga mu sudah lebih dulu ke Suroso dan Bu Wati. Aku minta aliansi. Dingin. Bukan citra. Bukan stabilisasi. Peta. Tiga hari hampir habis. Arman mau tulang. Hartono mau aku pilih tulang supaya dia aman. Aku tidak mau aman itu. Aku tidak mau jadi bank dendam orang lain.'
Sinta menatap map, tidak menatap mata Bara terlalu lama. Di dapur, bunyi Laila menggeser kursi—hadir, tidak duduk di meja. 'Kau minta aku bantu setelah namaku di stiker. Setelah spreadsheet. Setelah ibu di IGD. Setelah kau bilang tidak menyesal. Setelah tahap empat. Sekarang dendam mu ternyata dipinjam orang abu-abu. Aku harus sedih padamu? Aku harus jadi jembatan lagi?'
'Tidak,' kata Bara cepat, hampir memotong, lalu menahan diri. 'Aku tidak minta sedih. Aku tidak minta jembatan basah. Aku minta data. Siapa di lingkar ayahmu yang masih bicara ke Hartono soal aset murah. Dina. Notaris. Arsip. Aku bisa bayar pengacara sampai mati. Aku tidak bisa beli kepercayaan orang Wijaya yang masih takut dan masih marah padaku. Kau bisa pintu—bukan pintu altar. Pintu arsip. Kalau menolak, bilang sekarang. Aku tidak isolasi kartu lagi untuk memaksa. Kartu…' ia menelan, malu pada kata itu, '…kartu sudah kupulihkan ke rekening yang kau pakai dulu. Bukan hadiah. Logistik. Kalau kau mau lempar kartu itu, lempar. Aku tidak minta kau kembali ke marmer. Aku minta peta tidak buta.'
Sinta terdiam. Menghitung napas. Di kepalanya, urutan Laila: jangan murah, jangan sofa jadi harga, jangan lupa IGD. Laila di ambang mengangguk kecil: boleh dengar, jangan murah. Sinta mengangguk balik pada Laila, lalu pada Bara.
'Aliansi dingin,' katanya. 'Syarat lengkap nanti—bukan malam ini semua, tapi kerangka: aku bukan baris Excel. Aku bukan citra. Aku bukan orang yang kau ancam dengan ibu. Dulu fakta yang bisa kuberikan sekarang: Hartono masih telepon orang di lingkar paman Dina soal 'aset murah keluarga Wijaya setelah tekanan'. Dina catat tanggal. Gatot—status gelap—ada kabar dia di Semarang, ganti nama kecil di mulut orang tua. Belum bukti kuat. Hartono yang jelas. Dia pakai kau. Dia pakai kami. Dia pakai mayat ayahmu sebagai pupuk. Aku duduk di meja ini karena pupuk itu, bukan karena kau kosong di dada setelah selamat. Kosong mu urusan mu. Panen Hartono urusan yang bisa kutolak atau kuterima. Aku terima setengah malam ini: aku bantu peta. Aku tidak jadi produk. Tulis itu. Di depan Laila. Tinta. Bukan folder yang bisa kau edit sendirian jam tiga pagi.'
Bara membuka notes kulit, menulis tangan, kaku, huruf tegak seperti orang yang terbiasa mengetik perintah: Sinta Wijaya bukan target. Aliansi bukti Hartono. Tidak ada peran pintu/citra/stabilisasi. Tidak ada ancaman pada ibu. Ia putar kertas sepanjang meja. Sinta baca dua kali, tidak tanda tangan dulu—hanya menekan jari di tepi. Tinta masih basah. Bau pena murah di rumah mahal.
'Dingin,' ulanginya. 'Satu meja. Dua kursi jauh. Kalau Arman masuk lewat pintu, aku keluar lewat pagar. Kalau kau balik jadi altar di tengah kalimat, aku teken pena tanpa tenggat. Urutan masih berlaku. Hartono dulu. Tulang tidak. Sofa tetap sofa.'
'Urutan,' sahut Bara. 'Hartono dulu. Tulang tidak. Tiga hari… aku minta perpanjang ke Arman. Dia akan marah. Dia akan ancam dewan. Biar. Aku sudah marah pada selamat. Aku bisa marah pada Arman.'
Sinta berdiri sebelum meja itu terasa hangat, sebelum jarak panjang menyusut tanpa izin. 'Kabari lewat Laila. Jangan bel. Jangan SD. Jangan kirim orang dengan bunga. Aku tidur di sofa. Aliansi bukan alamat. Kalau Hartono digigit, gigit dengan catatan. Bukan dengan tubuh ku.'
Ia pergi. Laila menyusul tanpa menoleh ke Bara. Bara tinggal dengan notes yang baru saja mengubah spreadsheet di kepala tanpa mengubah file Ops—belum. File, pikirnya, nanti, di depan mata Sinta kalau diminta. Malam itu cukup satu meja yang tidak menelan siapa pun, dua kursi jauh, dan tinta yang tidak bisa di-undo dengan senyum observer. Di luar, mesin Dina hidup. Di dalam, Bara duduk lama di kursi jauh itu, menatap kursi kosong di ujung lain, dan untuk pertama kali sejak malam pertama, ia tidak ingin mengisi kursi itu dengan strategi—hanya dengan fakta yang belum selesai.