Hartono tidak bersembunyi. Itu yang membuat Bara muak lebih dari mayat, lebih dari stiker, lebih dari Arman.
Hari kedua tenggat, lewat perantara yang tidak mau disebut namanya di telepon, datang undangan kopi di klub yang sama tempat orang-orang Wijaya dulu panik sambil tersenyum. Tempat itu berbau kulit dan lemon. Bara datang sendiri, tanpa Arman, tanpa sopir di dalam, surat ayah di saku dalam seperti jimat yang tidak ia percaya sepenuhnya. Hartono sudah duduk di sudut: jas abu-abu, rambut perak rapi, cincin tipis, senyum orang yang tidak pernah kotor di foto, yang tidak pernah ada di koran daerah selain sebagai 'sumber yang tidak mau disebut'.
'Bara Aditya,' katanya, berdiri setengah, cukup untuk sopan, tidak cukup untuk hormat. 'Anak yang membangun kuil dari mayat. Aku kagum. Efisien. Wijaya hampir tulang. Istri mu di berita kecil. Ruko. Rapi. Orang bilang kau kejam. Aku bilang kau dapat dipanen.'
Bara tidak duduk segera. Jantungnya terlalu cepat untuk orang yang biasa menekan tombol. 'Kau di komite audit ku.'
'Observer. Non-voting. Aku tidak mencuri kursi. Aku diundang orang yang suka peta lama—orang yang takut kau terlalu marah sampai lupa siapa yang dulu menjembatani utang dan bunga. Aku menenangkan mereka: anak Aditya hanya makan Wijaya. Aman. Berguna. Fokus. Aku pinjam dendammu, Bara. Pinjam. Seperti bank. Kau dapat bunga berupa kepuasan, podium, angka, selamat. Aku dapat bunga berupa jalur yang kau buka dengan tangan sendiri. Waktu kau tahan kontrak, aku sudah di sisi lain membeli yang murah. Waktu kau doa di mikrofon, aku sudah telepon orang. Waktu kau tarik ruko istri—kejam, efektif, pasar goyah—aku masuk. Kau perang. Aku panen. Itu saja. Jangan ambil pribadi. Ini bukan tentang ayahmu. Ini tentang arus.'
Bara duduk, akhirnya, supaya tidak memukul di klub yang penuh telinga. Sendok kopi di meja mengilap seperti benda yang tidak pernah dipakai untuk minum, hanya untuk sopan. 'Ayahku. Tali. Jerat. Kau.'
Hartono mengangkat bahu, menyeka sendok yang tidak ia pakai. 'Ayahmu menolak jual. Gatot bawa aku masuk dengan kata keluarga. Wijaya lapar. Aku racik bunga. Lalu tali—itu pilihan ayahmu di rumah yang sunyi, bukan tandatanganku di kertas. Aku tidak suka mayat. Mayat ribet. Aku suka orang yang masih bisa meneken. Kau meneken lebih rapi dari ayahmu. Kau hampir sempurna. Hampir. Ragu tiga hari ini… berbau istri. Berbau surat. Berbau 'jangan jadi mereka'. Aku tidak suka hampir. Aku suka orang yang konsisten marah. Kalau kau berhenti di Wijaya dan menoleh ke aku, perang mu pecah. Arman pecah. Dewan pecah. Saham pecah. Lalu siapa yang kenyang? Orang yang menunggu Mahesa goyah. Termasuk sisa gigi Wijaya. Termasuk orang yang bilang moral di dewan. Kau mau kasih mereka itu? Karena perempuan di sofa? Karena botol air di kepala?'
Bara mendengar darah di telinga. Dendamnya, dua puluh tahun, dijadikan produk. Dipinjam. Diagunkan. Seperti ruko Sinta. Seperti baris Excel. Seperti altar. Di meja sebelah, dua pria tua tertawa pada lelucon golf. Dunia tidak berhenti untuk mayat.
'Kau bilang itu di depan ku karena kau yakin aku tidak berani,' katanya pelan. 'Atau karena kau ingin aku takut lalu kembali ke tulang.'
Hartono tersenyum, berdiri, menepuk bahu Bara sekali—ringan, menghina. 'Aku bilang karena aku sudah lama jadi bayangan di rapat mu. Kau hanya baru melihat. Lihat. Lalu pilih: lanjut tulang Wijaya—bersih, mudah, slide senang, Arman tenang—atau kejar aku dan lihat kuil mu retak di depan orang yang menggaji marah mu. Aku tidak takut anak yang baru belajar ragu. Ragu itu enak dipanen. Kabari aku kalau kau sudah selesai jadi manusia. Manusia susah dihitung.'
Ia pergi duluan, meninggalkan kopi tidak diminum, meninggalkan Bara dengan sendok yang bersih. Pelayan datang, bertanya dua kali, tertawa kecil karena tip yang terlalu besar dari orang yang tidak pesan apa-apa. Bara tetap duduk. Di ponsel, hitungan yang Arman kirim tanpa emotikon: sisa 36 jam. Di dada, surat ayah: jangan jadi mereka. Mereka, siang itu, punya wajah abu-abu, senyum observer, dan cara meminjam dendam tanpa bunga yang tertulis.
Di mobil, Bara menekan setir sampai kulit telapak sakit. Lalu kirim ke Laila, jari gemetar: 'Dia pinjam dendamku. Panen dari perangku. Dari ruko. Dari kontrak. Dari doa palsu. Sinta harus dengar. Satu meja. Bukan rujuk. Aliansi. Dingin. Kalau menolak, aku mengerti—aku sudah cukup memakai dia. Kalau datang, bawa telinga. Bukan pena cerai. Belum. Aku sedang belajar tidak memanen orang.'
Laila membalas: 'Dia dengar. Dia marah. Dia datang. Bukan karena kau. Karena Hartono memanen mayat. Sopir jangan di pintu. Aku yang antar.'
Bara membaca itu berkali-kali. Marah. Datang. Bukan karena kau. Itu adil. Itu dingin. Itu satu-satunya bahasa yang pantas setelah stiker dan spreadsheet. Ia pulang menyiapkan map, bukan bunga, bukan maaf, bukan piring dua—hanya kursi yang jauh dan fakta yang memalukan: kuilnya sudah lama disewakan ke orang abu-abu tanpa kontrak yang ia baca. Di kamar kerja, ia buka HOLD_CROSS lagi, garis merah di H.D., tulis di tepi: jangan pinjam / jangan panen / jangan jadi bank. Tinta basah. Tangan gemetar. Di luar, malam kota. Di dalam, Bara belajar bahwa dendam yang dipinjam orang lain tidak pernah milik korban—hanya milik orang yang pandai menghitung bunga.