Tiga hari itu tidak dimulai di ruang tamu. Dimulai di arsip yang Bara bayar mahal, diam-diam, tanpa Arman, tanpa dewan, tanpa selamat yang masih menggantung di slide kemarin.
Nama Hartono Darma sudah ia tahu sejak Sinta melempar kertas. Yang belum: di mana orang itu duduk sekarang—apakah hanya hantu di folder HOLD_CROSS, atau hantu yang punya kursi. Dina, lewat Laila, mengirim satu halaman lagi ke nomor cadangan yang Sinta berikan malam bukan-rujuk: daftar komisaris dan penasihat perusahaan investasi yang jarang masuk berita, tipografi kecil, bau scan. Di baris ketiga, tanpa foto: H. Darma — Independent Advisor, linked portfolio: Merah Putih Capital. Di catatan kaki yang lebih kecil lagi: occasional observer, Mahesa Group audit committee (non-voting).
Non-voting. Tidak memilih. Tapi mendengar. Duduk di pinggir dewan seperti dulu duduk di pinggir meja Aditya dan Wijaya. Makan dua dapur. Sekarang makan dari ruang yang Bara sendiri bangun dengan tangan yang ia kira bersih karena marah.
Bara membaca di mobil, parkir basemen, mesin mati, AC mati, keringat dingin di tulang belakang. Tangan di setir sampai buku-buku jari pucat. Dua puluh tahun ia mengira Hartono hanya inisial yang ditahan karena 'utilitas ganda'. Ternyata utilitas itu termasuk kartu tamu ke lantai yang sama, kopi yang sama, aroma rapat yang sama, candaan dewan yang sama. Arman mungkin tahu. Atau tidak. Kalau tahu dan diam, Arman ikut makan. Kalau tidak tahu, Hartono lebih pintar dari mereka berdua—dan itu lebih menakutkan.
Ia membuka surat ayah di saku, tidak membaca ulang seluruhnya, hanya menempelkan ujung kertas ke dahi. Jangan jadi mereka. Jangan kuil. Kuilnya punya observer. Observer itu pupuk mayat ayahnya.
Ia tidak menelepon Sinta. Ia menelepon Suroso dulu, nomor yang Sinta tulis di printout dengan tinta biru guru. Orang tua itu mengangkat dengan batuk, TV di belakang berisik. Bunyi sinetron malam yang tidak peduli pada mayat dua puluh tahun.
'Anak Aditya,' kata Suroso, tanpa basa-basi. 'Kau akhirnya telepon. Aku kira kau masih butuh satu setan. Hartono masih hidup, kan? Aku dengar dia suka jas abu-abu di gedung kaca. Jangan datang sendiri seperti anak marah. Orang makan dua dapur tidak takut anak marah. Dia takut catatan. Bawa catatan. Atau jangan datang.'
'Dia di orbit Mahesa,' sahut Bara. Bukan pertanyaan. Kalimat itu keluar seperti muntah.
Suroso terdiam, lalu tertawa pahit sampai batuk lagi. 'Tentu. Setelah pabrikmu runtuh, dia jual peta ke siapa saja yang sedang naik. Kau naik. Dia ikut. Itu bukan kebetulan. Itu gaya hidup. Kau kira dendam membuatmu unik? Dendam membuatmu dapat dibaca. Orang seperti Hartono membaca anak yatim yang kaya lebih mudah dari membaca neraca. Dulu dia baca ayahmu. Sekarang dia baca kau. Bedanya: ayahmu menolak. Kau meneken. Itu yang dia suka.'
Bara menutup telepon. Di kepala bergabung: Sinta di sofa, surat ayah, Arman hitung mundur, dewan yang sempat bilang selamat, Raka di semen, jembatan basah, stiker ruko. Selamat. Sementara orang yang meracik jerat ayahnya duduk sebagai observer di komite audit. Non-voting. Lebih licin dari voting. Tidak meninggalkan sidik jari di keputusan, hanya di napas ruangan, hanya di 'saran' yang tidak tertulis.
Ia duduk di mobil sampai lampu basemen bergetar. Lalu mengetik ke Laila, bukan ke Sinta, sesuai permintaan dulu: 'Hartono di orbit Mahesa. Observer audit. Non-voting. Kabari dia. Tiga hari belum habis. Jangan bunga. Peta. Aku tidak minta dia pulang. Aku minta dia tahu kursi itu nyata.'
Laila membalas singkat, seperti guru: 'Diterima. Sinta baca. Dia bilang: akhirnya kursi kelihatan. Tetap bukan rujuk. Tetap sofa. Kalau kau dusta soal kursi, pena siap.'
Bara hampir tersenyum. Tidak jadi. Di lift kosong menuju lantai atas, ia mengulang nama itu seperti orang mengulang kesalahan eja di neraca: Hartono. Observer. Orbit. Kata-kata itu tidak masuk slide. Kata-kata itu masuk tulang. Di kantor kosong, lampu hemat masih menyala karena timer yang sama seperti di rumah—sistem yang tidak tahu perang. Ia membuka folder H.D., menatap status 'ditahan', dan untuk pertama kali menulis di kolom catatan: observer. orbit. jangan pinjam. Jangan pinjam. Kalimat itu untuk Hartono—atau untuk dirinya yang sudah terlalu lama meminjamkan dendam tanpa kontrak.
Ia menutup laptop, membuka lagi, memastikan kata itu tidak hilang. Di layar, status lama masih 'ditahan' seperti alasan yang sudah basi. Di luar kaca, kota tidak peduli. Di dalam dada, tenggat Arman berdetak. Tiga hari. Kursi di dewan itu bukan kemenangan. Itu bukti ia sudah lama jadi dapur ketiga—bukan hanya korban, tapi meja yang dihisap tanpa sadar, sambil membangun kuil, sambil menikahi pintu, sambil bilang konsisten. Dan kesadaran itu, malam pertama tenggat yang tersisa, lebih pahit dari selamat, lebih tajam dari ragu.
Sebelum tidur, ia buka daftar hadir rapat audit lama yang disimpan asisten di drive bersama—nama-nama yang ia lewati karena 'bukan voting'. Ada inisial H.D. dua kali. Ada catatan: 'masukan informal diterima'. Informal. Kata yang sama licin dengan non-voting. Bara menggarisbawahi itu dengan pena merah sampai kertas hampir sobek. Ia kirim satu baris lagi ke Laila: 'Konfirmasi kursi dari daftar hadir. Bukan rumor. Kabari.' Balasan datang cepat: 'Sudah. Sofa dengar. Sofa bilang: jangan mati di basemen. Tidur. Catatan bisa menunggu napas.'
Ia tidur di sofa kantor, surat ayah di dada, folder terbuka di meja, dan untuk pertama kali sejak ia belajar menang, ia takut pada orang yang tidak memilih—karena orang yang tidak memilih sering sudah punya segalanya.