Sinta kembali ke rumah Mahesa siang hari, bukan malam, supaya tidak kelihatan seperti istri yang pulang ke ranjang. Matahari terik. Blus sekolah. Tas guru. Tidak ada koper. Dina di ojek, jaga jarak di ujung jalan. Laila di pagar, helm, jam, muka yang sudah siap ribut dengan satpam kalau perlu.
Pembantu buka pintu, kaget, hampir peluk, ditahan Sinta dengan anggukan dan senyum yang tidak sampai ke mata. 'Saya tidak tinggal. Ada bicara. Tolong jangan seduh kopi untuk dua. Jangan masak. Jangan bereskan kamar ku seolah aku rujuk. Aku tidak rujuk.'
Bara di ruang tamu, tanpa jas, kemeja, lengan dilipat, mata capek, surat ayah tidak kelihatan di saku tapi ada selembar di meja—Sinta kenali tulisan miring dari jauh, tidak tanya, tidak pegang. Ia duduk di sofa seberang, bukan di samping. Jarak. Jembatan yang tidak ia tawarkan untuk diinjak. Tas di pangkuan, seperti di ruang guru.
'Ini bukan rujuk,' katanya duluan, sebelum Bara bicara. 'Aku di sofa Laila. Aku hampir teken cerai semalam. Aku tidak teken. Karena Hartono. Karena Gatot. Karena memo mu. Karena urutan. Aku ke sini membawa itu, bukan membawa badan. Kalau kau harap badan, aku pergi sekarang. Laila di pagar. Satu jam. Helm.'
'Aku tidak harap badan,' sahut Bara, serak, jujur dengan cara yang masih kaku. 'Aku tahan tahap lima tiga hari. Arman marah. Aku ragu. Pertama kali aku ucapkan ragu tanpa dibungkus cek ulang. Itu bukan bunga. Itu… surat ayah. Jangan jadi mereka. Jangan kuil. Aku sudah jadi. Ruko. Stiker. Kau di sofa. Aku baca surat itu lalu kosong. Selamat itu ejekan. Aku tidak minta kau pulang di kalimat ini. Aku minta kau dengar bahwa aku tahan. Tahan itu kata yang kau kenal. Aku pernah buang satu jam. Aku sedang mencoba tidak buang tiga hari.'
Sinta tidak bergerak. Iba boleh ada; iba tidak boleh jadi pulang; iba tidak boleh jadi kopi dua. 'Aku dengar. Aku tidak menyeberang. Giliran ku jujur: dengar tidak otomatis rujuk. Ini bukti.' Ia meletakkan printout, rapi, tidak dilempar: Suroso, Bu Wati, HOLD_CROSS, pengakuan Hendra, nama Hartono, Gatot, foto buku gudang. 'Tiga kaki. Kau sebut. Kau lindungi dua. Kau gilas satu. Tiga hari mu: jangan pakai untuk rapikan narasi. Pakai untuk lihat Hartono. Kalau tiga hari habis lalu Arman tutup tulang Wijaya lagi, aku teken cerai. Bukan ancaman altar. Urutan. Kebenaran dulu. Kalau kau pilih tulang, aku pilih pena pengacara. Adil. Kamus mu: akibat. Aku belajar.'
Bara membolak-balik kertas, tidak melempar, tidak lipat jadi sampah. Tangan gemetar tipis, yang kemarin di kantor, yang ia kira tidak kelihatan. 'Hartono masih gigi. Kalau aku sentuh salah, Mahesa goyah. Kau pergi. Dewan. Arman. Aku tidak minta kau kasihan. Aku minta… waktu. Tiga hari. Aku sudah bilang. Peta. Bukan ranjang.'
'Tiga hari untuk Hartono, bukan untuk menarik aku ke marmer,' sahut Sinta. 'Aku tidak tidur di sini. Aku tidak masak. Aku tidak jadi stabilisasi citra. Kalau publik tanya, bilang istri sedang urus keluarga. Itu dusta kecil yang lebih suci dari sayang di taman. Aku pergi setelah ini. Jangan antar. Jangan ke SD. Jangan kirim orang. Kalau kau sentuh Hartono, kabari Laila, bukan aku dulu—aku masih goyah, dan goyah tidak boleh di rumah mu. Goyah di sofa, Laila tahan. Goyah di marmer, altar makan.'
Bara mengangguk, sekali, seperti orang belajar bahasa baru: bukan pulang, bukan rujuk, bukan ranjang, bukan pintu. 'Sinta. Ruko… rantai. Aku tidak kecualikan. Aku dengar batas mu lalu tidak janji. Itu jujur. Jujur itu jahat. Aku…' ia mencari kata yang bukan maaf, karena maaf belum ia izinkan masuk kamus, '…aku tidak minta kau memaafkan. Aku minta kau tidak hilang sebelum Hartono kelihatan. Kalau kau hilang, aku hanya punya Arman. Arman tidak baca surat ayah. Arman baca tulang. Aku sedang mencoba baca surat. Tiga hari. Kalau gagal, kau teken. Aku dengar akibat itu.'
Sinta berdiri. Tas. Jarak. Tidak ada sentuhan. 'Aku tidak hilang. Aku tidak di rumah ini. Bedakan. Tiga hari. Bawa telinga, bukan altar. Kalau kau ke SD, satpam tidak buka. Kalau kau kirim bunga, aku buang. Selamat atas angka. Aku tidak ikut selamat. Aku ikut napas. Itu saja yang kuberikan hari ini. Bukan rujuk. Jangan tulis di file sebagai 'pintu kembali'. Aku bukan pintu. Aku saksi yang masih hidup, yang masih marah, yang masih mau tiga kaki berdiri sebelum aku putuskan cerai atau tidak. Urutan. Ingat. Kau juga sedang belajar urutan, kan? Tahan. Tiga hari. Jangan buang seperti satu jam Raka. Kalau buang, pena siap. Itu bukan bunga. Itu peta.'
Di pintu, pembantu mengalihkan muka. Sinta tidak menoleh ke tangga, ke kamar, ke laci. Ia keluar. Laila nyalakan motor tanpa tanya 'bagaimana'. Sinta naik, helm, tidak menoleh ke jendela. Jendela itu altar. Ia tidak pulang ke altar. Ia pulang ke sofa yang berbunyi, ke PR murid, ke nama yang masih di stiker, ke perang yang belum selesai—hanya pindah dari marmer ke tanah yang ia pilih, lagi, dengan mata terbuka, dengan pena yang ditunda, dengan tiga hari yang bukan miliknya tapi ia izinkan sebagai ujian, bukan sebagai rujuk.
Bara tidak menyusul ke pagar. Ia berdiri di ruang tamu, kertas di tangan, surat ayah di meja, rumah masih terlalu besar, dada masih kosong, tapi kosong itu sekarang ada tenggat: tiga hari, Hartono, bukan tulang. Ia duduk, bukan di lantai kali ini, di sofa seberang yang masih hangat samar oleh orang yang tidak rujuk. Hangat itu tidak ia kejar. Ia buka printout Suroso, baca 'makan dua dapur', dan untuk pertama kali sejak selamat, ia tidak menutup folder H.D. Ia membukanya. Status: ditahan. Jari di atas keyboard. Belum ubah jadi target. Belum. Tiga hari baru mulai. Arman akan menghitung. Sinta akan menghitung. Ayah di surat, diam, sudah bilang jangan jadi mereka.
Bara berbisik ke rumah kosong, bukan ke altar: 'Tiga hari. Jangan buang.' Lalu ia kerja, pelan, seperti orang yang baru belajar angkat dulu, tagihan belakangan—kalimat yang dua puluh tahun ia edit keluar dari hidupnya, sekarang kembali, basah, belum jadi jembatan, belum jadi kuil. Hanya ragu yang pertama, yang diucapkan, yang belum dilempar ke dewan, yang belum jadi bunga, yang belum jadi maaf. Cukup untuk siang itu. Bukan rujuk. Peta.