Hampir itu datang di malam ketiga sofa, waktu Sinta capek jadi kuat, waktu kaki menggantung sudah tidak lucu, waktu stiker di kepala tidak lepas meski mata pejam.
Pengacara yang Dina bawa—perempuan, bicara cepat, sepatu praktis, tidak kagum pada Mahesa—meletakkan kertas di meja makan Laila, di samping toples gula. 'Prenup ketat. Dua tahun pertama tipis untuk kau, lebar untuk dia. Tapi pisah rumah bisa jadi dasar, ditambah tekanan publik, ditambah aset atas nama kau yang ditarik rantai. Kalau mau, kita ajukan. Publik akan ramai. Ramai bisa menekan atau memakan. Pilih. Aku tidak pilihkan. Aku hanya bilang: kalau tujuan mu selamat, cerai sekarang adalah pintu. Kalau tujuan mu benar, cerai sekarang adalah lari. Lari kadang sah. Sah tidak selalu selesai. Aku bisa teken malam ini. Aku juga bisa pulang. Kau yang hidup dengan akibat.'
Sinta menatap kertas. Bahasa legal. Borgol yang dulu ia tanda tangani sambil senyum. Cincin di saku tas, belum dikembalikan ke jari. Ibu masih lemah. Ayah masih sesak. Ruko masih stiker. Bara masih altar. Hartono masih senyum di suatu tempat. Ia lelah. Lelah membuat cerai kelihatan seperti kasur, seperti obat, seperti tidak ada angkot besok.
'Aku mau,' katanya, pelan, jujur, hampir. 'Aku mau selesai jadi istri. Aku mau nama ku tidak di agunan orang. Aku mau masuk kelas tanpa jadi Nyonya. Aku mau sofa ini jadi sementara yang berakhir. Ajukan. Malam ini. Sebelum aku goyah pulang karena sepi.'
Bu Laila tidak langsung angguk. Dina juga tidak. Pengacara menunggu pena, tidak mendorong. Jam dinding Laila tertinggal lima menit, seperti biasa, seperti belas kasihan kecil pada waktu.
'Tidak,' kata Laila, tegas, jarang tegas ke Sinta, suara guru yang menahan anak di gerbang. 'Bukan tidak selamanya. Tidak malam ini. Kau hampir. Hampir itu titik terendah yang memakai bahasa legal. Dengar: Hartono. Gatot. Tiga kaki. HOLD_CROSS. Kalau kau cerai sekarang, Bara tutup peta. Arman bersihin tulang. Kau selamat di sofa, nama mu sedikit lebih bersih di berita, dan kebenaran yang kau gali jadi hiasan laci UTS. Kau bukan gali supaya jadi hiasan. Kau gali supaya altar pecah. Pecah belum selesai. Dia baru sebut tiga nama. Dia baru tarik ruko. Dia belum ke Hartono. Kalau kau pergi dari perang ini lewat cerai, siapa yang bawa Suroso dan Bu Wati ke telinga yang baru pecah? Arman? Tidak. Ayah mu? Tidak. Aku? Aku guru, bukan jaksa. Kau. Masih kau. Selesaiin kebenaran dulu. Lalu cerai kalau masih mau. Urutan. Aku keras kepala soal urutan. Kau yang ajarin aku urutan itu, waktu kau hampir pecah di keramik. Jangan lupa.'
Dina mengangguk, mata basah, tangan di map legal. 'Aku yang bawa pengacara karena aku kira kau butuh senjata. Bukan peluru di kepala sendiri. Bibi hampir jatuh. Ruko. Stiker. Aku marah. Tapi Laila benar. Hartono diam karena kita berdarah. Kalau kita cabut, dia lebih diam. Diam itu kemenangannya. Jangan kasih. Pena itu bisa nunggu. Gigi Hartono tidak nunggu kalau kita pergi.'
Sinta tertawa, pecah, lalu isak, lalu diam, lalu usap muka dengan lengan blus. Pengacara merapikan kertas, tidak tersinggung, masukkan ke map. 'Aku bisa tunggu. Nomor ku ada. Jangan teken malam ini. Malam itu jelek untuk teken apa pun kecuali obat. Kalau suatu hari urutan selesai dan kau masih mau, telepon. Aku tidak hilang.'
Setelah pengacara pergi, Sinta di sofa, lutut ke dada, seperti di tangga rumah Bara dulu, hanya kali ini ada Laila di kursi, ada Dina di lantai. 'Aku hampir. Aku benar-benar hampir. Aku kira kuat itu pergi. Ternyata pergi juga bisa jadi lari. Aku capek jadi jembatan. Aku capek jadi saksi. Aku mau jadi orang yang hanya guru.'
'Kuat itu urutan,' sahut Laila, menyodorkan teh, gula berlebih. 'Besok kau masih guru. Lusa, kalau nyali ada, kau bisa ketemu dia—bukan rujuk, bukan ranjang, bukan marmer. Bicara bukti. Hartono. Gatot. HOLD_CROSS. Lalu pulang ke sofa. Pintu keluar tetap ada. Pintu itu tidak hilang karena kau tunda pena. Pena nunggu. Kebenaran tidak nunggu kalau kita tidur terlalu lama di hampir.'
Sinta mengangguk, capek, lebih jernih. Ia menyalakan data, tidak membalas tumpukan 'pulang', menulis ke Bara satu blok kalimat yang ia baca dua kali: 'Aku tidak pulang. Aku tidak teken cerai malam ini. Aku mau bicara Hartono. Bukan rujuk. Kalau Arman di ruangan, aku tidak masuk. Kalau bunga, aku buang. Kalau ranjang, aku pergi sebelum duduk.'
Terkirim. Centang. Lama. Lalu balasan Bara, pendek, bukan 'pulang', dan itu yang membuat Laila mengangkat alis: 'Kapan. Rumah. Tanpa Arman. Bukan ranjang. Ruang tamu. Aku tahan sesuatu. Tiga hari. Jangan baca itu sebagai bunga. Jangan baca sebagai maaf. Baca sebagai peta.'
Sinta menatap Laila. Laila baca, mendengus, hampir senyum. 'Tahan. Kata kesukaannya. Datang. Bukan pulang. Bedakan. Aku antar. Aku tunggu di luar. Kalau lebih dari satu jam, aku masuk dengan helm. Dina jaga jarak. Kau bawa kertas, bukan baju. Baju berarti rujuk di kepala orang. Kertas berarti perang yang belum selesai. Urutan. Dan makan sebelum pergi. Jembatan lapar, ingat, mudah dijual—termasuk dijual ke ranjang yang tidak boleh kau tuju.'