Pagi itu Arman tidak ketuk. Ia masuk, map tahap lima, wajah yang sudah habis kesabaran sopan, kopi tidak dibawa—tanda rapat yang tidak mau lama. Sepatu Arman berbunyi di marmer seperti hitungan mundur. Bara tidak berdiri menyambut. Itu sendiri sudah data.
'Kau tidak konfirmasi. Aku tidak suka teka-teki. Dewan nunggu sisa tulang. Wijaya minta pertemuan seperti orang minta ampun. Kita kasih ampun yang mahal, atau kita tutup. Aku pilih tutup. Kau? Jangan 'nanti'. Nanti kemarin. Hari ini kata yang bisa kucopy.'
Bara berdiri di jendela, surat ayah di saku dalam jas, terasa seperti benda yang tidak boleh kelihatan, seperti doa. Kota di bawah tidak peduli tulang. 'Tahan tahap lima.'
Arman menutup pintu lebih keras dari perlu. Bunyi itu tinggal di kaca. 'Kau bilang apa?'
'Tahan. Bukan batal. Tahan. Aku cek peta. Hartono. Gatot. Dalil. Aku tidak mau tutup tulang Wijaya sementara orang yang makan dua dapur masih senyum. Itu bukan rapi. Itu editor. Aku capek jadi editor. Ayahku tidak minta kuil. Aku sudah bangun kuil. Tiga hari. Due diligence pihak terkait. Itu bahasa yang bisa kau jual.'
Arman tertawa, pendek, tidak lucu, duduk di tepi meja seperti orang yang kehabisan kursi untuk hormat. 'Istri. Sofa. Ruko. Surat di saku—jangan kira aku tidak lihat kau pegang kertas seperti orang berdoa. Sekarang tiba-tiba moral. Bara, dengar baik-baik. Ragu pertama kali di puncak itu kelihatan seperti darah di kemeja. Orang akan datang. Hartono akan datang. Orang dewan yang lapar akan datang. Aku sudah sepuluh tahun bersihkan lantai ini. Jangan buat aku menyeka ragu mu dengan legal yang kau karang pagi ini. Kalau kau tahan, kasih alasan yang lebih dari surat mayat. Kalau tidak, aku bawa ke dewan bahwa CEO terdistraksi. Bukan ancaman. Prosedur. Kau yang ajarin aku prosedur. Jangan kaget muridnya pakai.'
Bara menoleh dari jendela. Mata capek, bukan altar. 'Tahan tiga hari. Bukan karena istri. Karena peta. Kalau dewan tanya, bilang due diligence. Itu legal. Itu bahkan rapi. Jangan sentuh sisa tulang sebelum aku lihat Hartono. Kalau Hartono bersih, kita tutup tulang. Kalau tidak, peta berubah. Aku tidak minta kau suka. Aku minta tiga hari. Satu jam dulu di kafe. Ini lebih panjang. Aku sadar. Aku tetap minta.'
Arman menatapnya lama, jari mengetuk map, lalu mengangguk kecil, bukan kalah—mencatat, seperti Sinta mencatat. 'Tiga hari. Tidak empat. Aku tulis. Kalau hari keempat kau masih 'nanti', aku tidak menunggu surat ayah. Dan Bara… jangan ke panti, jangan ke SD, jangan ke sofa siapa pun dalam tiga hari ini. Kelihatan. Kelihatan itu undangan. Hartono suka undangan. Aku juga, kalau perlu, bisa jadi orang yang lapar di dewan. Jangan paksa aku pilih lapar.'
Setelah Arman pergi, Bara duduk, tangan gemetar tipis, pertama kali sejak ia belajar tidak gemetar di rapat. Ia buka telapak, lihat gemetar, tutup, buka lagi, seperti orang memastikan ia masih manusia. Ragu. Kata itu. Bukan batal. Tahan. Satu jam dulu karena Raka. Tiga hari sekarang karena surat. Pola yang Arman sudah cium. Bara tidak peduli, sebentar, dan sebentar itu terasa seperti napas, seperti botol air, seperti jangan jadi mereka. Ia tulis di pad: Hartono. Gigi. Tiga hari. Jangan buang. Lalu ia garis bawahi jangan buang, karena satu jam Raka masih hidup di kepala sebagai utang yang tidak masuk neraca.
Ia mengetik ke nomor Sinta, masih mati: 'Aku tahan sesuatu. Bukan bunga. Bukan maaf. Kalau kau nyala, nyala. Aku tidak minta pulang di kalimat ini. Tiga hari. Hartono.' Tidak terkirim. Ia simpan draf. Draf adalah jembatan yang tidak ia injak, belum, dan tidak ia lewati truk, belum. Ia baca surat ayah lagi, sekali, di toilet kantor supaya tidak kelihatan, lalu masukkan saku. Kuil retak. Retak, pagi itu, ia izinkan ada tanpa langsung disemen. Di cermin toilet, ia tidak kelihatan seperti orang selamat. Ia kelihatan seperti orang yang baru belajar kata ragu, dan kata itu belum siap di slide, belum siap di dewan, baru siap di saku, di samping surat mayat yang tidak mau jadi tuhan.
Sinta menyalakan data siang itu di jam istirahat, di toilet guru, tumpukan pesan lama: pulang, pulang, celah, Arman. Tidak ada yang baru yang hidup. Ia tidak tahu soal tiga hari. Ia hanya tahu ia masih di sofa, ruko masih stiker, kebenaran Hartono belum selesai, dan sepi semalam hampir menang. Laila menyodorkan nasi bungkus di depan pintu toilet, tidak malu. 'Jangan baca wajah mu di berita. Baca PR murid. Urutan. Kau pucat. Makan. Ragu orang lain bukan urusan mu sebelum ada kertas.'
Sinta makan di ruang guru, pelan, dan untuk pertama kali sejak pergi, lapar terasa seperti manusia, bukan seperti strategi. Nasi hambar. Ia habiskan. Habiskan, pikirnya, adalah urutan yang bisa ia patuhi hari ini, sebelum tiga hari orang lain—yang belum ia tahu—mulai berjalan tanpa undangan. Bu Laila menonton sampai piring kosong, lalu angguk, seperti guru yang baru saja luluskan ujian kecil: orang yang makan masih bisa pilih, masih bisa tidak pulang hanya karena sepi, masih bisa nunggu kertas, bukan kasur.