Malam kedua rumah kosong, Bara membuka laci foto. Bukan untuk perang. Untuk tidak gila. Kunci yang dulu ia pakai mengancam Sinta sekarang hanya logam di telapak, ringan, konyol, seperti ancaman yang sudah kedaluwarsa karena orangnya tidak di rumah. Ia duduk di kursi kerja dulu, lalu pindah ke lantai, karena kursi terasa seperti dewan, dan dewan pagi itu sudah cukup.
Foto Mama. Puncak Bogor. Sebelum semuanya. Senyum yang Sinta pinjam tanpa izin takdir. Ia menatap lama, lalu foto Rina yang lebih tua di kursi rumah sakit, selang, mata yang marahnya tidak pikun. Lalu, di bawah map, amplop yang tidak ia buka bertahun-tahun: tulisan ayah, miring, tinta pudar, 'Untuk Bara, kalau Mama tidak kuat membacakan'. Sudut amplop pecah. Ia pernah janji tidak buka sebelum 'selesai'. Selesai tidak pernah datang. Selamat datang lebih dulu, dan selamat itu palsu, jadi janji itu ikut palsu.
Tangan Bara berhenti. Ia buka, pelan, seperti orang membuka luka yang sudah dikira kering.
Nak,
Kalau kau baca ini, aku mungkin sudah tidak ada, atau Mama yang bacakan sambil marah padaku karena aku cemas berlebihan. Aku cemas karena meja-meja sedang senyum. Aku tidak pintar seperti orang yang pinjamkan gigi. Aku hanya bisa bilang ini: kalau suatu hari kau menang, jangan jadi mereka. Jangan pukul orang yang sudah di tanah. Tagihan belakangan. Angkat dulu. Kau kecil, kau pernah bawa botol air ke orang pingsan di pabrik. Ingat itu, bukan ingat siapa yang harus dibenci. Dendam itu mudah. Mudah itu sering jahat. Maaf kalau aku lemah. Lemah kadang lebih jujur dari menang. Jangan bangun kuil dari aku. Aku tidak mau jadi tuhan. Aku mau jadi ayah yang sempat bilang angkat dulu.
Ayahmu,
yang masih percaya kerja jujur, meski dunia tidak.
Bara duduk di lantai kamar kerja sampai kaki kesemutan, sampai AC terasa jauh. Kalimat itu menampar lebih telak dari kertas Sinta, dari pengakuan Hendra, dari tiga nama, dari Arman. Ayahnya tidak minta altar. Ayahnya minta ia jangan jadi mereka. Mereka: senyum, gigi, orang di tanah, stiker, rantai, pengecualian yang tidak diberikan. Tahap empat. Ruko. Istri di sofa orang lain. Selamat. Jangan bangun kuil. Ia sudah bangun Mahesa sebagai kuil. Ia sudah nikahi Sinta sebagai kain altar.
Ia menekan kertas ke dahi, bukan romantis, seperti orang menahan darah. 'Aku sudah jadi mereka,' gumamnya pada foto, pada gelap, pada map HOLD_CROSS yang masih di laci lain. Tidak ada yang menjawab. Foto Mama tersenyum di Bogor, sebelum semuanya, sebelum anaknya belajar editor dendam, sebelum satu jam Raka dibuang, sebelum jembatan diinjak.
Ponsel bergetar. Arman: 'Besok tahap lima. Konfirmasi pagi. Jangan nanti. Dewan sudah dicium baunya: kemenangan harus dituntaskan atau kelihatan ragu.' Bara mengetik 'tahan', menghapus, mengetik 'baik', menghapus, mengetik 'aku baca surat ayah', menghapus lebih cepat. Ia tidak kirim. Ia taruh surat ayah di samping foto, tidak dikunci laci—pertama kali laci itu terbuka semalaman, seperti luka yang tidak ia tutup karena menutup terasa lebih dusta dari stiker.
Ia hampir ke panti. Jam tiga dini hari. Kunci mobil di tangan. Hampir. Lalu ia tidak, karena wajah Sinta di samping Ibu Rina akan membingungkan perang, dan perang sudah bingung tanpa itu, dan Arman sudah bilang jangan kelihatan. Ia taruh kunci, duduk di mobil di garasi gelap lima menit, mesin mati, lalu masuk rumah lagi seperti orang yang kalah pada ragu sebelum ragu punya nama. Ia berbaring di sofa ruang tamu, jas masih, surat di dada, sepatu masih, dan goyah itu datang bukan sebagai keputusan rapi, sebagai rasa: menang yang diminta ayahnya bukan grafik. Grafik, malam itu, diam di tablet yang ia balikkan. Surat yang bicara. Botol air yang tidak ia bawa ke trotoar ruko. Kuil yang retak tanpa dewan melihat.
Sinta, di sofa Laila, tidak tahu soal surat. Ia bangun jam empat juga, kebiasaan IGD, kebiasaan perang, jantung siap bel, lalu sadar tidak ada bel yang harus dijawab, tidak ada Bara di tangga. Ia duduk, kaki kesemutan, minum air dari gelas plastik, kirim ke grup tiga orang: 'masih napas. jangan biarkan aku pulang karena sepi. sepi malam ini besar. aku hampir ke jalan, lalu tidak. itu juga napas.' Laila, online anehnya, membalas: 'Sepi bukan stiker. Tidur. Hartono tidak tidur, jadi kita yang harus, supaya tidak bodoh besok. Aku dengar napas mu dari sini. Cukup. Jangan ke marmer. Jangan ke jalan. Sofa. Kunci di bantal. Urutan.'
Bara di rumah singa, Sinta di sofa berbunyi, dua orang bangun di jam yang sama tanpa saling tahu, dan itu, malam itu, adalah jembatan yang tidak mereka tawarkan—hanya kebetulan orang yang belum selesai, yang sama-sama capek pada selamat dan pada lari, yang sama-sama belum tahu bahwa pagi akan memaksa ragu mengucapkan namanya. Bara pegang surat sampai tinta terasa mau pindah ke kulit. Sinta pegang kunci sofa sampai logam hangat. Tidak ada yang menyeberang. Hanya dua orang yang tidak tidur di altar, masing-masing, dengan cara yang tidak kelihatan di slide. Jam empat lewat. Kota belum ramai. Surat masih di dada Bara. Kunci masih di bantal Sinta. Tidak ada yang menelpon. Itu juga jembatan: diam yang tidak menekan tombol.