Selamat, kata Arman. Selamat, kata tablet. Selamat, kata grafik yang naik di layar ruang rapat seperti orang bertepuk tanpa tangan. Bara duduk di ujung meja, jas rapi, air mineral tidak diminum, pena tidak dipakai, wajah yang sudah dilatih untuk tidak kelihatan kosong. Di seberang, seseorang tertawa terlalu keras pada lelucon yang tidak lucu. Dewan mengangguk. Seseorang memuji 'ketegasan di tengah isu'. Seseorang menyinggung rumah tangga dengan bahasa yang sopan: 'publik kecil, terkendali, istri sedang istirahat urusan keluarga'. Bara tidak mengoreksi. Mengoreksi berarti mengisi kosong dengan kata, dan kata sedang mahal. Ia hanya mengangguk, sekali, seperti cap. Cap tidak punya dada.
Setelah rapat, orang-orang keluar sambil masih bicara angka. Arman menyusul ke ruang CEO, menutup pintu, tersenyum seperti orang yang baru saja menagih utang lama. Kopi. Map. Bau parfum yang sama tiap kemenangan.
'Mereka jatuh. Pertemuan yang mereka minta bisa kita undur, bisa kita hina pelan, bisa kita pakai untuk sisa tulang. Kau kosong di mata, Bara. Jangan bawa kosong ke dewan lagi. Kosong itu dibaca sebagai ragu. Ragu kita sudah cukup semalam-semalam, satu jam di kafe, flashdisk, dalil. Hari ini angka menyelamatkan muka. Jangan buang muka itu karena sofa.'
'Aku baik-baik saja,' kata Bara, otomatis, dusta yang sama dengan pesan yang ia kirim dulu.
'Istrimu tidak di rumah. Itu bukan baik-baik saja. Itu celah. Tapi angka bagus, jadi aku biarkan celah satu-dua hari. Jangan lebih. Orang seperti Hartono membaca rumah kosong lebih cepat dari membaca laporan kredit. Orang dewan yang lapar juga.' Arman meletakkan map tipis di meja, tepat di tengah, seperti sesajen. 'Tahap lima: sisa tulang. Nama, sisa gudang, sisa muka. Kalau mau, kita selesaiin minggu ini. Bersih. Tidak ada jembatan. Tidak ada ruko yang bikin kau hampir pengecualian. Aku tidak suka hampir. Hampir itu darah di kemeja.'
Bara tidak buka map. Ia menatap kaca kota. 'Nanti.'
Arman menatapnya lama, senyum menipis. 'Nanti itu kata orang yang kalah. Jangan jadi orang itu. Selamat, Bara. Rasakan. Atau setidaknya pura-pura merasakan di depan orang yang menggaji kita dari dendam mu. Pura-pura itu kerja. Kau ahli.'
Pulang, rumah Mahesa terlalu terang. Timer lampu tidak tahu istri pergi. Pembantu sudah masak untuk dua, sayur, ayam, nasi, lalu diam-diam makan sendiri di dapur belakang karena yang satu tidak pulang dan yang satu tidak lapar. Bara lewat, melihat dua piring di meja makan—jembatan kemarin, sekarang porselen. Ia menahan diri untuk tidak melempar. Melempar murah. Ia naik ke kamar Sinta. Pintu tidak terkunci dari dalam. Ironis. Blus di gantungan. Bau sabun yang menipis. Laci cincin kosong. Bantal masih cekung samar, atau itu khayalan. Ia duduk di lantai, bukan di ranjang—tanah, yang dulu ia sumpah tidak akan ia injak, sekarang ia pilih karena ranjang terlalu penuh dengan orang yang tidak ada.
Angka di ponsel: Wijaya minta napas. Bank konfirmasi tarikan. Berita kecil: 'aset terkait keluarga menantu dalam penyesuaian kredit'. Nama Sinta tidak di judul, hanya di dalam, seperti orang yang diselipkan di catatan kaki. Bara baca sekali, tutup, baca lagi, tutup. Menang. Dada tidak ikut. Dada seperti ruangan setelah rapat: AC, lampu, tidak ada orang, sisa kopi.
Ia menelepon nomor Sinta. Tidak aktif. Nada yang mati lebih jujur dari 'istirahat urusan keluarga'. Ia coba lagi, bodoh, seperti orang yang tidak percaya nada. Mati. Ia kirim: 'Angka selesai. Pulang. Bukan bunga. Bukan maaf. Pulang.' Tidak terkirim. Gagal. Ia tertawa sendiri, jelek, di lantai kamar istri, jas masih, sepatu masih. Selamat. Kata itu sekarang terdengar seperti ejekan orang yang tidak tinggal di rumah ini, seperti stiker di ruko, seperti Arman yang bilang rasakan. Ia buka draf lama yang tidak jadi: 'Ada yang akan kena namamu.' Terlambat. Nama sudah kena. Orang sudah pergi. Angka sudah selamat. Ia tutup draf, tidak hapus, karena hapus terasa seperti editor lagi, dan editor sudah cukup untuk satu hari kemenangan.
Malam itu ia tidak wiski. Ia tidak tidur. Ia menghitung jam di dinding seperti orang menghitung bunga utang, dan untuk pertama kali kemenangan terasa jatuh tempo pada dirinya sendiri: dibayar dengan piring dua, dengan gerbang SD yang menolaknya, dengan jembatan yang ia injak lalu ia lewati truk, dengan batas yang ia dengar lalu ia tidak janjikan. Ia menang. Ia kosong. Dua kalimat itu duduk berdampingan di dada, tidak mau berdamai, tidak mau jadi slide, tidak mau jadi 'baik-baik saja'. Di luar, taman otomatis menyala, mati, nyala lagi menurut timer yang tidak tahu perang. Di dalam, Bara di lantai, dan tanah itu, malam itu, tidak mengangkatnya. Tidak ada botol air. Tidak ada ayah. Hanya selamat yang tidak bisa diminum, dan piring kedua yang pembantu angkat pelan-pelan, malu, seperti orang mengangkat mayat kecil dari meja makan. Bara bilang 'terima kasih' pada pembantu, jarang, kaku, dan perempuan itu kaget sampai hampir menjatuhkan piring. Terima kasih bukan selamat. Terima kasih, malam itu, adalah satu-satunya kata yang tidak ia jual ke dewan. Setelah pembantu pergi, Bara tetap di lantai sampai lutut sakit, dan sakit itu, anehnya, lebih jujur dari grafik.